KediriNews.com – Kenaikan harga elpiji yang resmi diberlakukan pada 1 Desember 2025 telah memicu reaksi dari berbagai pelaku usaha, terutama warung tegal (warteg) di Kecamatan Kota. Banyak dari mereka memilih beralih ke kayu bakar sebagai alternatif bahan bakar memasak untuk mengurangi beban biaya operasional. Hal ini menjadi langkah darurat akibat kenaikan harga elpiji non subsidi yang dinilai sangat memberatkan.
“Sejak kenaikan harga elpiji 12 kg terjadi, kami mulai merasakan tekanan ekonomi yang signifikan,” kata Siti, pemilik warteg di Jalan Merdeka, Kecamatan Kota. “Biaya produksi meningkat tajam, dan kami harus menyesuaikan atau bahkan menghentikan operasi.”
Menurut data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kediri, sebanyak 68% pelaku usaha rumah makan dan warteg menggunakan elpiji 12 kg sebagai sumber energi utama. Namun, dengan kenaikan harga hingga Rp 117.000 per tabung, banyak dari mereka mempertimbangkan alternatif lain seperti kayu bakar.
Penyebab Kenaikan Harga Elpiji
Harga elpiji 12 kg naik karena beberapa faktor, termasuk fluktuasi harga minyak mentah di pasar global dan penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, pemerintah juga mencoba mengurangi subsidi untuk elpiji non subsidi agar anggaran negara tidak terbebani. Menurut laporan Pertamina, subsidi elpiji 12 kg selama beberapa tahun terakhir telah menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan.
Sementara itu, elpiji 3 kg masih mendapat subsidi pemerintah dan harganya relatif stabil. Namun, banyak pelaku usaha kecil seperti warteg tidak dapat memperoleh elpiji 3 kg secara cukup karena keterbatasan pasokan dan aturan distribusi.
Dampak pada Pelaku Usaha
Kenaikan harga elpiji berdampak langsung pada pengeluaran operasional para pemilik warteg. Sebelumnya, biaya elpiji 12 kg sekitar Rp 78.000 per tabung, namun kini naik menjadi Rp 117.000. Hal ini membuat biaya produksi meningkat hingga 49%.
“Kami harus menaikkan harga makanan, tapi takut pelanggan tidak mau membayar,” ujar Rudi, pemilik warteg di Jalan Suryo. “Jika harga naik, omzet bisa turun drastis. Kami sedang mencari solusi.”
Beberapa pelaku usaha memilih untuk mengurangi ukuran porsi makanan atau mengganti bahan baku. Namun, banyak yang lebih memilih beralih ke kayu bakar karena lebih murah dan mudah diperoleh.
Alternatif Bahan Bakar: Kayu Bakar
Kayu bakar menjadi pilihan utama bagi banyak warteg setelah kenaikan harga elpiji. Meskipun proses memasak membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga tambahan, biaya operasional jauh lebih rendah.
“Dengan kayu bakar, kami hanya menghabiskan sekitar Rp 5.000 per hari untuk bahan bakar,” jelas Siti. “Ini jauh lebih murah dibandingkan elpiji yang sekarang harganya Rp 117.000 per tabung.”
Namun, penggunaan kayu bakar juga memiliki tantangan. Misalnya, kebersihan dapur bisa terganggu karena asap dan debu. Selain itu, pembakaran kayu bakar tidak sepenuhnya ramah lingkungan dan bisa menyebabkan polusi udara.
Solusi yang Ditawarkan
Para pemilik warteg mulai mencari cara efisien untuk menghemat pengeluaran. Beberapa strategi yang digunakan antara lain:
- Menggunakan alat masak yang lebih efisien, seperti panci presto atau kompor listrik.
- Mengatur waktu memasak agar tidak terbuang percuma.
- Membeli bahan baku dalam jumlah besar untuk mengurangi biaya belanja.
- Meningkatkan harga makanan secara bertahap agar tidak terlalu mengganggu pelanggan.
Selain itu, banyak warteg juga mencoba mengajukan bantuan dari pemerintah daerah atau organisasi lokal untuk mengurangi beban biaya operasional.
Harapan Masa Depan
Meski kenaikan harga elpiji menjadi tantangan berat, para pemilik warteg tetap berharap ada solusi jangka panjang. Beberapa di antaranya berharap pemerintah dapat segera menstabilkan harga elpiji atau memberikan bantuan subsidi tambahan.
“Kami hanya ingin bisa tetap menjalankan usaha tanpa harus menaikkan harga terlalu tinggi,” ujar Rudi. “Harapan kami adalah ada kebijakan yang lebih manusiawi.”
