KediriNews.com – Kenaikan harga beras yang terjadi pada 9 Desember 2025 mengundang keluhan dari para emak-emak di Pasar Setono Betek Kecamatan Kota. Para pedagang dan konsumen mengeluhkan kenaikan harga yang membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. “Harga beras naik tajam, kami tidak bisa menambah porsi lagi,” ujar salah satu pedagang di pasar tersebut.
Menurut laporan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga beras premium turun 1,71% menjadi Rp15.390 per kilogram, sedangkan beras medium turun 2,13% ke Rp13.369 per kilogram. Namun, angka ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Banyak konsumen merasa bahwa harga beras tetap tinggi meskipun ada penurunan di beberapa wilayah.
“Meski ada penurunan, harga beras masih jauh di atas harga sebelumnya. Kami harus membawa uang lebih banyak untuk membeli beras dalam jumlah yang sama,” kata Siti, seorang ibu rumah tangga yang sering berbelanja di Pasar Setono Betek.
Penyebab Kenaikan Harga Beras
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan pada November 2025 mencapai 2,72%. Salah satu penyumbang utama inflasi adalah kenaikan harga beras. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kenaikan harga beras disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kenaikan biaya produksi dan hambatan distribusi.
“Kenaikan harga beras terjadi meskipun stok melimpah. Hal ini bisa disebabkan oleh kenaikan harga di tingkat pertanian, serta hambatan dalam distribusi,” ujar Pudji dalam konferensi pers.
Dampak pada Masyarakat
Dampak kenaikan harga beras dirasakan secara langsung oleh masyarakat, terutama para emak-emak yang biasanya menjadi pengambil keputusan dalam pembelian bahan pokok. Di Pasar Setono Betek, banyak konsumen mengeluhkan bahwa mereka harus memilih antara membeli beras atau komoditas lainnya.
“Kami terpaksa membatasi porsi beras agar bisa membeli kebutuhan lain seperti sayuran dan telur,” tambah Ibu Rina, seorang konsumen setia pasar tersebut.
Langkah Pemerintah
Pemerintah telah mengambil beberapa langkah untuk mengendalikan inflasi, termasuk menstabilkan harga beras. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,77 juta ton, melebihi target awal sebesar 32 juta ton. Namun, meski produksi meningkat, harga beras tetap tidak stabil di tingkat konsumen.
“Stok beras pemerintah mencapai 4 juta ton, namun distribusinya masih menghadapi kendala,” ujar Mentan Amran dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI.
Tantangan Distribusi
Salah satu tantangan utama dalam menstabilkan harga beras adalah distribusi. Direktur Statistik Harga BPS Windhiarso Ponco Adi mengatakan bahwa hambatan dalam distribusi bisa memicu kenaikan harga beras di tingkat eceran.
“Jika distribusi tidak lancar, harga beras bisa melonjak meskipun stok melimpah,” ujarnya.
Kesimpulan
Kenaikan harga beras pada 9 Desember 2025 menggambarkan tantangan yang dihadapi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok. Meskipun produksi beras meningkat, kenaikan harga tetap terasa di tingkat konsumen. Pemerintah dan lembaga terkait perlu terus memantau dan mengambil langkah-langkah efektif untuk menstabilkan harga beras dan mencegah inflasi yang terlalu tinggi.
