ULAR NAGA SUNGAI? Kayu Hanyut Mirip Naga di Kecamatan Kota pada 3 Desember 2025!

KediriNews.com – Pada 3 Desember 2025, warga Kecamatan Kota dihebohkan oleh penemuan kayu hanyut yang mirip bentuk naga. Fenomena ini terjadi setelah banjir besar melanda kawasan tersebut, sehingga sejumlah gelondongan kayu terbawa arus sungai dan muncul di permukaan air. Tampaknya, bentuk kayu-kayu tersebut sangat menyerupai tubuh naga, membuat banyak orang mengira itu adalah makhluk mitos.

“Awalnya saya pikir itu hanya kayu biasa, tapi saat dilihat dari jauh, bentuknya memang seperti naga,” kata Siti, salah satu warga yang melihat langsung kejadian tersebut. Ia menambahkan bahwa beberapa orang sempat memfoto dan merekam fenomena unik ini.

Bentuk Kayu yang Menarik Perhatian

Kayu-kayu yang terbawa banjir memiliki bentuk yang cukup unik. Beberapa dari mereka tampak seperti kepala naga dengan mata tajam dan mulut terbuka. Walaupun tidak ada bukti nyata bahwa itu adalah makhluk hidup, namun penampilannya memicu berbagai spekulasi dan perbincangan di kalangan masyarakat.

Ahli lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Ir. Mahawan Karuniasa, MM, memberikan penjelasan ilmiah tentang fenomena ini. “Kayu-kayu yang terbawa banjir sebagian besar adalah pohon yang roboh akibat kekuatan air, bukan karena ditebang. Kalau diperhatikan dari video-video itu, ukuran kayu bervariasi. Fenomena itu lebih mencerminkan skala masif banjir daripada aktivitas penebangan,” ujar Mahawan dalam perbincangan dengan detikTravel, Senin (1/12).

Pembahasan Ilmiah tentang Kayu Hanyut

Mahawan menjelaskan bahwa logs atau kayu bulat, diperoleh dari menebang pohon. “Logs dari hutan tanaman di Indonesia (ditanam) biasanya ukurannya seragam, diameternya kecil, sekitar 30 cm. Logs dari hutan alam (tumbuh alami), ukurannya lebih besar, bisa 50 cm atau lebih. Biasanya logs ditebang dengan gergaji mesin, jadi kedua ujungnya rata,” ujarnya.

Menurut Mahawan, kayu yang terbawa banjir bisa menjadi indikator keparahan banjir. “Banjir di sungai yang landai, bisa menghanyutkan pohon tepi sungai yang ikut tumbang dan logs kayu tidak tenggelam yang ditaruh di tepi sungai atau yang terkena banjir,” katanya.

Dampak Banjir terhadap Ekosistem

Selain itu, Mahawan juga menyampaikan bahwa banjir ekstrem diperparah dengan deforestasi. “Tekanan ekonomi dan pertumbuhan penduduk membuat hutan dibuka, tutupan lahan berubah dari hijau menjadi coklat. Saat hujan ekstrem datang, ekosistem yang rentan itu tak mampu menahan air, potensi banjir pun meningkat,” ujarnya.

Data satelit memang menunjukkan bahwa tutupan lahan berkurang drastis. Dalam laporan Jatam merujuk Google Satellite/Google Imagery per 28 November 2025, proyek PLTA Batang Toru telah membuka sedikitnya 56,86 hektare kawasan hutan di sepanjang aliran sungai untuk bangunan utama, kolam, jalan, dan area penunjang, yang tampak jelas sebagai pelebaran area terbuka di tubuh ekosistem.

Tantangan Lingkungan di Sumatera

Selain itu, Jatam juga menyebut bahwa Sumatera telah diperlakukan seperti zona pengorbanan untuk industri tambang minerba. Setidaknya ada 1.907 izin usaha pertambangan aktif yang membentang di seluruh pulau, dengan total luas mencapai 2,45 juta hektare. Kepadatan izin itu menumpuk di sejumlah provinsi, mulai dari Bangka Belitung (443 izin), Kepulauan Riau (338), Sumatera Selatan (217), Sumatera Barat (200), Jambi (195), hingga Sumatera Utara (170). Provinsi lainnya—seperti Lampung, Bengkulu, Aceh, dan Riau—juga dijejali puluhan hingga ratusan izin tambang di darat maupun laut.

Luas konsesi itu membuat jutaan hektare hutan, kebun rakyat, dan lahan basah yang sebelumnya menjadi penyangga air kini berubah menjadi area galian, jalan tambang, dan infrastruktur ekstraksi. Akibatnya, kemampuan daerah aliran sungai (DAS) untuk menahan dan mengalirkan air secara perlahan terus melemah.

Kesimpulan

Fenomena kayu hanyut yang mirip naga di Kecamatan Kota pada 3 Desember 2025 menjadi perhatian masyarakat. Meski awalnya menimbulkan spekulasi, penjelasan ilmiah dari ahli lingkungan menunjukkan bahwa ini adalah hasil dari banjir yang sangat parah. Hal ini juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga ekosistem dan menghindari deforestasi yang dapat memperparah risiko bencana alam.

NagaSungai #KayuHanyut #BencanaAlam #Sumatera #Lingkungan

Pos terkait