Ujian Nasional Dihapus? Guru di Kecamatan Pare Sujud Syukur pada 2 Desember 2025!

KediriNews.com – Pada hari Selasa, 2 Desember 2025, guru-guru di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, menggelar perayaan syukur setelah kebijakan penghapusan Ujian Nasional (UN) resmi diberlakukan. Perayaan ini dilakukan dengan cara khas, yaitu sujud syukur dan doa bersama di halaman sekolah masing-masing. Mereka merayakan kebijakan yang dinilai lebih fleksibel dan berfokus pada pembelajaran holistik.

“Sejak UN dihapus, kami merasa beban siswa dan guru jauh lebih ringan,” ujar Ibu Siti, seorang guru SMA Negeri Pare. “Kini, penilaian tidak lagi terpaku pada satu ujian, tapi lebih pada kemampuan siswa secara keseluruhan.”

Perubahan Sistem Evaluasi

Penghapusan Ujian Nasional bukanlah keputusan mendadak. Sejak tahun 2021, pemerintah telah beralih ke sistem Asesmen Nasional (AN), yang menekankan pada literasi, numerasi, dan karakter siswa. Namun, pada 2025, pemerintah meluncurkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai pengganti UN yang lebih relevan dengan perkembangan pendidikan saat ini.

TKA memiliki struktur yang berbeda untuk setiap jenjang pendidikan. Untuk siswa SMA/SMK, ujian mencakup tiga mata pelajaran wajib (Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris) serta dua mata pelajaran pilihan sesuai minat siswa. TKA juga bersifat tidak wajib dan hanya menjadi evaluasi tambahan.

“TKA tidak lagi menjadi penentu kelulusan, tapi sebagai alat untuk memahami potensi siswa,” jelas Laksmi Dewi, Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kemendikdasmen. “Ini adalah langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih berbasis kompetensi.”

Perjalanan Ujian Nasional di Indonesia

Sejarah Ujian Nasional di Indonesia berawal dari era 1950-an. Awalnya, ujian disebut Ujian Penghabisan dan berbentuk esai. Setelah itu, sistem ujian berubah-ubah, mulai dari EBTANAS hingga UAN, lalu berubah lagi menjadi Asesmen Nasional pada 2021.

Perubahan terbaru, TKA, merupakan bentuk penyesuaian terhadap tantangan global dan kebutuhan pendidikan yang semakin kompleks. Dengan TKA, siswa tidak lagi diuji hanya oleh satu ujian, tetapi melalui berbagai aspek kemampuan akademik dan non-akademik.

Tanggapan Publik dan Guru

Meski ada pro dan kontra, banyak guru dan siswa merasa lega dengan penghapusan UN. Mereka berharap kebijakan ini bisa mengurangi tekanan psikologis dan memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai minat dan bakat mereka.

“Banyak guru yang merasa bahwa UN sering kali membuat siswa stres dan kurang fokus pada proses belajar,” kata Bapak Arif, seorang guru SMK di Pare. “Dengan TKA, siswa bisa lebih tenang dan fokus pada pembelajaran.”

Tantangan dan Peluang Baru

Meski ada harapan besar, penghapusan UN juga membawa tantangan. Salah satunya adalah bagaimana memastikan konsistensi mutu pendidikan di seluruh Indonesia. Dengan sistem baru ini, perlu adanya peningkatan kualitas guru dan fasilitas belajar agar semua siswa bisa merasakan manfaatnya.

Selain itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan pendidikan harus terus memantau implementasi TKA agar tidak terjadi ketimpangan antara daerah perkotaan dan pedesaan.

Kesimpulan

Penghapusan Ujian Nasional dan penggantinya dengan Tes Kemampuan Akademik adalah langkah penting dalam transformasi pendidikan Indonesia. Meskipun masih ada tantangan, kebijakan ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi siswa dan guru untuk berkembang secara holistik. Di Kecamatan Pare, perayaan sujud syukur pada 2 Desember 2025 menjadi simbol harapan akan masa depan pendidikan yang lebih baik.

UjianNasional #PendidikanIndonesia #TesKemampuanAkademik #AsesmenNasional #PareKediri

Pos terkait