KediriNews.com – Pada 25 September 2025, masyarakat Hindu di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, akan memperingati hari raya Galungan dengan penuh semangat dan kekhusyukan. Salah satu pusat perayaan yang menjadi titik kumpulan umat adalah PURA AGUNG KERTA BUANA, sebuah pura yang memiliki makna penting dalam tradisi dan kepercayaan lokal. Perayaan ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga wujud dari kesadaran kolektif untuk menjaga nilai-nilai kehidupan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Galungan merupakan salah satu hari raya besar dalam kalender keagamaan umat Hindu, yang menggambarkan kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kejahatan). Dalam konteks lokal, perayaan ini dirayakan dengan berbagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di PURA AGUNG KERTA BUANA, upacara sembahyang dilakukan secara khusus, dengan para pemangku agama dan umat melakukan ritual sesajen dan doa-doa untuk memohon perlindungan serta kedamaian bagi seluruh masyarakat.
“Galungan bukan hanya sekadar perayaan, tapi juga pengingat bahwa kita harus selalu hidup dalam keseimbangan,” ujar Ibu Siti, seorang tokoh masyarakat setempat. “Dengan melaksanakan ritual di PURA AGUNG KERTA BUANA, kami merasa lebih dekat dengan leluhur dan Tuhan.”
-
Pemasangan Penjor dan Penghiasan Pura
Sebelum hari H, masyarakat mulai mempersiapkan penjor sebagai simbol kemenangan dan kemakmuran. Penjor biasanya terbuat dari bambu yang dihiasi dengan daun kelapa dan hasil pertanian seperti buah-buahan dan beras. Di PURA AGUNG KERTA BUANA, penjor dipasang di sekitar area pura dan jalan-jalan utama desa, menciptakan suasana yang penuh makna dan keharmonisan. -
Prosesi Sembahyang dan Ritual Sesajen
Pada tanggal 25 September 2025, umat Hindu akan berkumpul di PURA AGUNG KERTA BUANA untuk melakukan sembahyang bersama. Prosesi ini melibatkan pembuatan sesajen yang disusun secara khusus, termasuk bunga, buah, dan bahan-bahan lain yang dianggap suci. Selain itu, ada pula prosesi pengucapan doa oleh para pemangku agama yang bertujuan untuk memohon restu dan perlindungan dari Tuhan. -
Kegiatan Budaya dan Keterlibatan Masyarakat
Galungan juga menjadi ajang untuk menampilkan seni budaya lokal. Di Kecamatan Pare, masyarakat sering kali menggelar tarian tradisional dan pertunjukan musik gamelan sebagai bentuk ekspresi syukur dan kegembiraan. Selain itu, kegiatan seperti ngelawang barong dan mekotek juga sering dilakukan, meskipun dalam skala yang lebih sederhana dibandingkan di Pulau Bali.
Selain itu, masyarakat juga menyambut Galungan dengan memberikan hadiah atau makanan khas kepada tetangga, baik sesama umat Hindu maupun non-Hindu. Tradisi ngejot menjadi bagian dari kebersamaan dan toleransi yang kuat di tengah masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa Galungan bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang hubungan sosial yang harmonis.
Menurut beberapa sumber, seperti laman Indonesia.go.id dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tradisi Galungan di Bali dan daerah-daerah lain di Indonesia memiliki makna yang mendalam. Namun, di Kecamatan Pare, perayaan ini memiliki ciri khas sendiri, yang terlihat dari cara masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, memperkuat ikatan kekeluargaan, dan menjaga nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat kini semakin sadar akan pentingnya menjaga tradisi dan kebudayaan. Di PURA AGUNG KERTA BUANA, upacara Galungan tahun 2025 diharapkan bisa menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya dan keimanan masyarakat setempat.
#Galungan2025 #PURAAGUNGGALUNGAN #KecamatanPare #HinduIndonesia #TradisiBudaya





