Ojek Online Mogok Kerja: Demo di Kantor Cabang Kecamatan Kota pada 2 Desember 2025

KediriNews.com – Pada tanggal 2 Desember 2025, ribuan pengemudi ojek online (ojol) dari berbagai wilayah kota dan kecamatan akan menggelar aksi mogok kerja dan demo di kantor cabang perusahaan aplikasi transportasi online. Aksi ini menjadi bentuk protes terhadap kebijakan yang dinilai tidak adil oleh para pengemudi, termasuk potongan pendapatan yang terlalu besar dan kurangnya perlindungan sosial.

Aksi ini dipimpin oleh Serikat Pengemudi Transportasi (SEPETA), yang sebelumnya juga telah menyelenggarakan aksi serupa pada tahun 2025. Ketua Umum SEPETA, Iwan Setiawan atau dikenal dengan panggilan Bang Toyang, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bagian dari upaya untuk menuntut hak-hak dasar para pengemudi ojol.

“Kami meminta potongan maksimal hanya 10 persen dari pendapatan, sesuai dengan regulasi yang ada,” ujar Bang Toyang dalam wawancara dengan media lokal. “Namun, faktanya di lapangan, potongan bisa mencapai 30 hingga 35 persen, yang jelas melanggar aturan.”

  1. Tuntutan Utama Pengemudi Ojol
  2. Potongan pendapatan maksimal 10 persen.
  3. Pengakuan status pekerja secara resmi.
  4. Perlindungan sosial seperti jaminan kecelakaan dan asuransi.
  5. Penurunan biaya operasional dan peningkatan pendapatan tanpa beban bagi pelanggan.

  6. Dampak Aksi Mogok Kerja

  7. Layanan ojol akan lumpuh selama 24 jam penuh.
  8. Pengguna layanan ojol diminta mencari alternatif transportasi.
  9. Dampak ekonomi terhadap perusahaan aplikasi dan pelaku usaha lainnya.

  10. Peran Serikat Pengemudi Transportasi (SEPETA)

  11. Menyelenggarakan aksi mogok kerja dan demo.
  12. Membentuk koordinasi antar pengemudi dari berbagai wilayah.
  13. Mengajukan tuntutan kepada pemerintah dan lembaga legislatif.

Pengemudi ojol berkumpul di kantor cabang kota

Selain itu, SEPETA juga menyoroti program-program internal seperti “slot” dan “aceng” yang dinilai merusak solidaritas sesama pengemudi. Program tersebut dinilai memperburuk kompetisi dan membuat para pengemudi saling bersaing satu sama lain, bukan bersatu dalam memperjuangkan hak mereka.

“Kami bukan investor motor atau pemilik HP. Kami adalah pekerja yang setiap hari menghadapi risiko di jalan, dari kecelakaan hingga kehilangan nyawa,” kata Bang Toyang. “Wajar jika kami menuntut keadilan.”

Pihak perusahaan aplikasi transportasi online belum memberikan respons resmi terkait aksi ini. Namun, beberapa pengemudi ojol mengatakan bahwa mereka siap untuk melakukan aksi lebih besar jika tuntutan mereka tidak direspon.

Aksi ini juga menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa para pengemudi ojol tidak hanya sebagai tenaga kerja sementara, tetapi juga memiliki hak dan kewajiban yang harus diakui oleh pemerintah dan masyarakat luas.

#OjekOnline #MogokKerja #DemoOjol #SEPETA #KotaKediri

Sumber: PATRAINDONESIA.COM, TEMPO.CO

Pos terkait