OJEK GABAH MAHAL? Petani Kecamatan Tarokan Protes Tarif Angkut pada 2 Desember 2025

KediriNews.com — Masalah tarif angkut gabah yang dianggap tidak adil oleh petani Kecamatan Tarokan kembali menjadi perhatian masyarakat. Pada 2 Desember 2025, sejumlah petani menggelar protes terhadap biaya pengangkutan gabah yang dinilai terlalu tinggi. Mereka menuntut agar tarif tersebut direvisi agar lebih sesuai dengan kondisi ekonomi petani.

“Kami sudah kehabisan akal. Tarif angkut ini jauh di atas kemampuan kami,” ujar salah satu petani yang enggan disebut namanya. Ia menjelaskan bahwa harga jual gabah saat ini juga rendah, sementara biaya transportasi meningkat drastis. “Kalau dibiarkan, nasib petani akan semakin sulit,” tambahnya.

Dalam protes tersebut, petani menyampaikan beberapa tuntutan utama. Pertama, mereka meminta pemerintah daerah untuk turun tangan dan menegaskan regulasi tarif angkut yang adil. Kedua, mereka menuntut agar para ojek atau pengangkut gabah tidak membebankan biaya yang tidak wajar kepada petani. Ketiga, mereka berharap adanya peningkatan kesadaran dari pelaku usaha transportasi tentang tanggung jawab sosial terhadap petani.

Beberapa petani juga menyatakan bahwa masalah ini bukan hanya terjadi di Kecamatan Tarokan, tetapi juga di wilayah lain. Menurut mereka, tarif angkut gabah sering kali ditentukan oleh pihak ketiga tanpa melibatkan petani dalam proses negosiasi. Hal ini membuat petani merasa diperlakukan tidak adil.

Menyikapi hal ini, beberapa organisasi petani dan kelompok tani di Kecamatan Tarokan telah mengajukan permohonan resmi kepada pemerintah setempat. Mereka meminta agar ada upaya untuk mengatur tarif angkut secara transparan dan berkelanjutan. Selain itu, mereka juga mengusulkan pembentukan forum dialog antara petani, pengangkut, dan pemerintah daerah untuk mencari solusi bersama.

Salah satu anggota kelompok tani, Suryadi, mengatakan bahwa perlu ada pendekatan yang lebih humanis dalam menyelesaikan masalah ini. “Kita harus melihat dari sudut pandang petani. Mereka bekerja keras, tapi hasilnya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” ujarnya.

Selain itu, para petani juga meminta agar ada program bantuan transportasi atau subsidi bagi mereka yang memiliki lahan kecil. Dengan begitu, biaya pengangkutan bisa lebih terjangkau, sehingga hasil panen mereka dapat langsung sampai ke pasar tanpa banyak dipotong oleh biaya logistik.

Meski ada tantangan, para petani tetap berharap agar situasi ini bisa segera selesai. Mereka ingin bisa fokus pada usaha pertanian tanpa khawatir terkena beban biaya yang tidak wajar. “Kami hanya ingin bisa hidup layak sebagai petani,” tutup Suryadi.

PetaniTarokan #ProtesTarifAngkut #GabahMahal #PertanianIndonesia #KesejahteraanPetani

Pos terkait