KediriNews.com – Pada 20 Maret 2025, masyarakat Kecamatan Mojoroto, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, akan merayakan perayaan unik yang dikenal sebagai “Jipang Beras! Manis Lengket Gula Karamel”. Acara ini tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan tradisi lokal dan kearifan masyarakat setempat. Perayaan ini menunjukkan betapa pentingnya beras dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi masyarakat petani dan pengrajin.
Perayaan Jipang Beras menggabungkan unsur tradisi dengan inovasi. Di antaranya adalah pembuatan gula karamel dari beras yang disajikan dalam bentuk lengket dan manis. Proses pembuatan gula ini melibatkan teknik kuno yang telah turun-temurun, sehingga menjadi simbol kekayaan budaya lokal. Tidak hanya itu, acara ini juga menampilkan pertunjukan seni tradisional, seperti tarian dan musik daerah, yang menambah kesan magis dan hangat.
- Tradisi dan Budaya yang Terjaga
- Masyarakat Mojoroto memiliki tradisi unik dalam merayakan panen beras. Setiap tahun, mereka menggelar upacara yang dikenal sebagai “Jipang Beras”, yang merupakan ritual syukur atas hasil panen.
-
Upacara ini biasanya dilakukan setelah masa tanam dan panen selesai. Warga berbondong-bondong datang untuk berpartisipasi dalam prosesi yang penuh makna.
-
Proses Pembuatan Gula Karamel
- Gula karamel yang dibuat dari beras merupakan produk unik yang digemari oleh banyak orang. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
-
Bahan utama adalah beras putih yang direbus hingga menghasilkan cairan kental, lalu dicampur dengan gula dan rempah-rempah lokal untuk menciptakan rasa yang khas.
-
Dukungan Komunitas Lokal
- Acara ini tidak hanya dihadiri oleh warga setempat, tetapi juga oleh para pengusaha lokal dan pelaku seni yang ingin mendukung pelestarian budaya.
-
Beberapa pengusaha bahkan menjual produk-produk lokal seperti kerajinan tangan dan makanan khas Mojoroto selama acara berlangsung.
-
Pengaruh Ekonomi dan Sosial
- Perayaan Jipang Beras memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Para penjual keliling dan pengrajin lokal dapat menjual produk mereka secara langsung kepada konsumen.
-
Selain itu, acara ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga tradisi dan kearifan lokal.
-
Tantangan dan Peluang Masa Depan
- Meski acara ini sangat diminati, ada tantangan yang dihadapi, seperti kurangnya dukungan dari pemerintah dan minimnya promosi yang dilakukan.
- Namun, dengan semakin tingginya minat masyarakat terhadap wisata budaya, acara ini memiliki potensi besar untuk berkembang dan menjadi ikon wisata lokal.
“Jipang Beras bukan hanya sekadar perayaan, tapi juga bentuk penghargaan terhadap hasil pertanian dan kearifan masyarakat,” ujar salah satu tokoh masyarakat Mojoroto, Aminuddin.

Acara ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali pentingnya beras dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, perayaan seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melestarikan budaya lokal mereka sendiri.
Dengan adanya acara Jipang Beras, masyarakat Mojoroto tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi bisa bersatu dalam sebuah perayaan yang penuh makna. Semoga acara ini terus berlanjut dan menjadi bagian dari warisan budaya yang tak ternilai harganya.





