KediriNews.com – Pada 20 Oktober 2025, warga Kecamatan Mojoroto, Kabupaten Kediri, akan merayakan tradisi unik yang menghadirkan es campur khas dengan buah cincau dan sirup merah. Acara ini menjadi ajang kebersamaan sekaligus pengenalan kuliner lokal yang semakin diminati oleh generasi muda. Dalam acara tersebut, berbagai variasi es campur akan disajikan, termasuk buah cincau yang segar dan sirup merah yang manis, menciptakan sensasi rasa yang khas.
“Es campur adalah salah satu minuman favorit masyarakat Mojoroto. Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya sekadar minuman, tetapi juga bagian dari budaya lokal yang perlu dilestarikan,” ujar Ketua Panitia Acara, Suryadi. Ia menambahkan, “Kami berharap acara ini bisa menjadi momen yang bermakna bagi seluruh masyarakat, terutama anak-anak dan remaja.”
-
Sejarah Es Campur di Mojoroto
Es campur memiliki sejarah panjang di wilayah Kediri, khususnya di Kecamatan Mojoroto. Awalnya, es campur dibuat sebagai alternatif minuman segar untuk mengatasi panasnya iklim tropis. Masyarakat setempat mulai menggabungkan berbagai bahan seperti cincau, nangka, kolang-kaling, dan santan dalam satu mangkuk. Seiring waktu, es campur berkembang menjadi hidangan yang lebih kompleks, dengan penambahan sirup merah sebagai pemanis utama. -
Bahan-Bahan yang Digunakan
Berikut adalah beberapa bahan utama yang digunakan dalam pembuatan es campur khas Mojoroto: - Cincau hitam yang dipotong dadu
- Nangka segar yang dipotong kecil-kecil
- Kacang merah kalengan
- Kolang-kaling
- Santan kelapa
- Sirup merah
- Es serut
Bahan-bahan ini dicampur dalam mangkuk besar, lalu diberi sirup dan susu kental manis sesuai selera. Proses ini dilakukan secara manual oleh para penjual es campur yang sudah berpengalaman.
-
Peran Komunitas Lokal
Acara es campur ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat komunitas lokal. Warga Mojoroto, baik tua maupun muda, turut serta dalam proses penyediaan bahan dan pembuatan es campur. Bahkan, banyak anak-anak yang ikut membantu menyajikan minuman kepada pengunjung. Hal ini menunjukkan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam melestarikan tradisi lokal. -
Pengaruh Budaya dan Ekonomi
Es campur tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga berdampak positif pada perekonomian lokal. Banyak pedagang kecil yang menjual es campur di sekitar pasar atau tempat-tempat umum. Mereka menggunakan bahan-bahan lokal seperti kolang-kaling dan cincau yang mudah ditemukan di daerah setempat. Selain itu, acara ini juga menarik wisatawan yang tertarik melihat dan mencoba kuliner khas Mojoroto. -
Tantangan dalam Melestarikan Tradisi
Meskipun es campur memiliki daya tarik yang kuat, ada tantangan dalam melestarikannya. Salah satunya adalah kurangnya minat generasi muda terhadap tradisi ini. Untuk mengatasi hal ini, para pemuda Mojoroto mulai mengadaptasi es campur dengan rasa modern seperti green tea, matcha, atau rasa buah-buahan lainnya. Namun, mereka tetap menjaga inti dari es campur tradisional, yaitu adonan cincau dan sirup merah.


Dalam rangka merayakan tradisi es campur, warga Mojoroto berharap acara ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melestarikan budaya lokal mereka sendiri. Dengan kombinasi antara rasa, tradisi, dan partisipasi masyarakat, es campur tetap menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini.





