KediriNews.com – Sebuah kejadian yang mengejutkan terjadi di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Seorang bocah Sekolah Dasar (SD) mengalami luka lebam di bagian mata setelah bermain lato-lato pada 20 Januari 2025. Kejadian ini memicu perhatian masyarakat dan pihak berwajib terkait bahaya dari permainan tradisional yang kembali viral belakangan ini.
Lato-lato, yang dikenal dengan suara “nok-nok” yang khas, kini kembali diminati oleh anak-anak maupun orang dewasa. Namun, kejadian yang menimpa bocah SD tersebut menjadi peringatan bahwa permainan ini memiliki risiko cedera jika tidak dimainkan dengan hati-hati. “Saya melihat anak itu sedang bermain lato-lato di dekat rumah saya. Tiba-tiba, salah satu bandulnya terlempar dan mengenai matanya,” kata seorang tetangga yang enggan disebut namanya.
- Bahaya yang Tersembunyi dalam Permainan Tradisional
Meski terlihat sederhana, lato-lato bisa menjadi alat yang berbahaya jika tidak digunakan dengan benar. Dua bola plastik yang digantung pada tali akan saling bertabrakan saat dimainkan, sehingga menghasilkan suara keras dan energi yang cukup besar. Dalam kasus ini, benturan yang tidak terkendali menyebabkan luka lebam pada mata korban.
“Sering kali anak-anak tidak sadar bahwa mereka bermain terlalu keras atau tidak menjaga jarak yang aman,” ujar Dr. Rina Suryani, ahli kedokteran anak dari RSUD Kediri. “Jika terkena mata, luka bisa sangat parah karena area tersebut sangat rentan.”
- Permainan yang Kembali Viral, Tapi Tak Selalu Aman
Lato-lato adalah mainan tradisional yang sempat populer di era 1990-an. Belakangan ini, permainan ini kembali viral, bahkan dijajal oleh Presiden Joko Widodo. Namun, popularitasnya juga membawa tantangan baru, terutama dalam hal keselamatan anak-anak.
“Banyak orang tua kurang memperhatikan cara bermain lato-lato. Mereka hanya melihatnya sebagai permainan yang menyenangkan tanpa mempertimbangkan risiko,” tambah Dr. Rina.
- Pengawasan Orang Tua dan Edukasi Anak
Untuk mencegah kejadian serupa, penting bagi orang tua untuk memberikan pengawasan ketat dan edukasi kepada anak-anak tentang cara bermain lato-lato yang aman. Beberapa langkah sederhana seperti menjaga jarak antara pemain, menggunakan bahan yang lebih lunak, atau membatasi waktu bermain bisa menjadi solusi.
“Anak-anak harus diajarkan untuk tidak bermain terlalu keras dan selalu memastikan lingkungan sekitarnya aman,” kata Yudha Febrianta, dosen olahraga dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
- Tindakan Pemerintah dan Komunitas
Pemerintah daerah dan komunitas lokal juga perlu melakukan tindakan preventif. Misalnya, dengan melarang bermain lato-lato di tempat umum atau memberikan informasi tentang cara bermain yang benar. Di beberapa sekolah, larangan membawa lato-lato ke sekolah sudah diterapkan, sebagai upaya mengurangi gangguan dan risiko cedera.
“Kita perlu menggabungkan antara kebersihan lingkungan dan kesadaran masyarakat,” ujar Wakil Ketua RT di Kecamatan Ngasem.
- Masa Depan Lato-Lato: Antara Tradisi dan Keselamatan
Meskipun lato-lato memiliki nilai budaya dan manfaat dalam melatih motorik anak, keamanannya tetap menjadi prioritas utama. Permainan ini bisa tetap eksis sebagai bagian dari tradisi, asalkan dilakukan dengan kesadaran akan risiko dan kehati-hatian.
“Kita tidak ingin lato-lato kembali menjadi bahan perdebatan. Yang terpenting adalah keberlanjutan dan keselamatan anak-anak,” tutup Dr. Rina.







