KediriNews.com – Sebuah peristiwa yang mengundang perhatian masyarakat terjadi pada 2 Desember 2025, saat seorang bayi baru lahir dimasukkan ke dalam kurungan ayam sebagai bagian dari upacara adat Tedak Siten. Perayaan ini dilakukan oleh keluarga di Kecamatan Kota, yang menjadi momen penting dalam merayakan kelahiran anak pertama mereka. Tradisi ini tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga menjadi simbol harapan dan doa bagi masa depan si kecil.
Tedak Siten adalah salah satu ritual adat Jawa yang sering digelar ketika bayi berusia sekitar 7 bulan. Upacara ini melibatkan beberapa tahap, seperti menapakkan kaki di tanah, memandu bayi melewati jadah tujuh warna, serta prosesi masuk ke dalam kurungan ayam. Setiap tahap memiliki makna filosofis yang dalam, termasuk doa agar bayi tumbuh menjadi pribadi tangguh dan bermanfaat bagi sesama.
“Dalam tradisi ini, kami berharap anak kami bisa belajar menghadapi tantangan hidup dengan semangat dan keteguhan hati,” kata ibu sang bayi, yang enggan menyebutkan nama lengkapnya. “Kami juga ingin dia bisa bertahan di tengah segala rintangan.”
Prosesi tersebut dilakukan di rumah keluarga, dengan dihadiri oleh kerabat dekat dan tetangga. Di antara mereka, ada yang membawa perlengkapan upacara seperti jadah, gantungan kain, dan kurungan ayam. Tidak ketinggalan, para tamu hadir dengan pakaian adat Jawa, mencerminkan kekayaan budaya lokal yang masih dilestarikan.
-
Menapakkan Kaki di Bumi
Tahap pertama dalam Tedak Siten adalah ketika bayi menapakkan kakinya di tanah. Ini melambangkan awal dari hubungan antara manusia dan alam, serta kesadaran akan dunia sekitarnya. Dalam ritual ini, bayi duduk di atas jadah tujuh warna, yang masing-masing melambangkan nilai-nilai kehidupan seperti kecerdasan, ketenangan, dan keberanian. -
Masuk ke Kurungan Ayam
Selanjutnya, bayi dimasukkan ke dalam kurungan ayam. Prosesi ini memiliki makna simbolis bahwa bayi harus belajar mengais rezeki seperti ayam, yaitu dengan tekun dan pantang menyerah. Kurungan ayam juga melambangkan perlindungan dan keamanan, sebagai bentuk doa agar si kecil tumbuh dalam lingkungan yang aman. -
Berjalan di Atas Pasir
Tahap terakhir adalah ketika bayi berjalan di atas pasir. Ini melambangkan kemampuan untuk mencari kehidupan sendiri, serta menjaga kebersihan dan keuletan dalam menjalani kehidupan.
Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan doa dan harapan orang tua kepada anak. Meski dalam konteks modern, banyak keluarga masih memilih untuk menjalankan upacara ini sebagai cara untuk merayakan kelahiran anak dan menjaga kearifan lokal.
Kepala Desa setempat, Andi Suryadi, menyampaikan bahwa acara Tedak Siten ini menjadi momen penting dalam masyarakat. Ia mengatakan, “Ini bukan hanya soal ritual, tapi juga cara kita merawat anak-anak kita secara spiritual dan emosional. Kami berharap dengan upacara ini, anak-anak bisa tumbuh dengan nilai-nilai luhur.”
Meski acara ini berlangsung dengan penuh makna, ada juga yang mempertanyakan relevansi tradisi ini di tengah perubahan zaman. Namun, bagi masyarakat setempat, Tedak Siten tetap menjadi bagian dari identitas budaya yang tak tergantikan.
Pada akhirnya, acara Tedak Siten pada 2 Desember 2025 menjadi bukti bahwa tradisi dan nilai-nilai luhur masih hidup di tengah masyarakat. Dengan upacara ini, keluarga berharap anak mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat, baik, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
