KediriNews.com – Pada tanggal 2 Desember 2025, warga Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, mengeluhkan bau belerang yang menyengat. Fenomena ini memicu kekhawatiran terhadap aktivitas Gunung Kelud yang berada di sekitar daerah tersebut. Masyarakat mulai mencari informasi lebih lanjut tentang status Gunung Kelud dan apakah ada peningkatan risiko erupsi.
“Kami melihat bau belerang yang sangat menyengat, bahkan dari jarak jauh. Ini tidak biasa,” ujar salah satu warga setempat, Andi, kepada media lokal. Ia menambahkan bahwa bau tersebut terasa hingga ke area persawahan dan perkebunan nanas yang menjadi penghidupan utama masyarakat.
Berdasarkan data dari Pos Pengamatan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Kelud saat ini berada dalam status waspada. Meski belum mencapai level darurat, peningkatan aktivitas vulkanik tetap menjadi perhatian serius. “Saat ini, Gunung Kelud masih dalam status waspada, dengan potensi peningkatan aktivitas yang perlu dipantau secara terus-menerus,” kata Petugas PVMBG, Budi Priyanto, dalam keterangan resmi.
Penyebab Bau Belerang dan Kemungkinan Aktivitas Vulkanik

Bau belerang yang tercium oleh warga Kecamatan Ngancar diduga berasal dari aktivitas gas vulkanik yang meningkat. Gas belerang (H₂S) sering kali dilepaskan oleh gunung berapi yang sedang aktif, terutama ketika magma mendekati permukaan tanah. Namun, hingga saat ini, belum ada indikasi kuat bahwa Gunung Kelud akan mengalami erupsi besar.
Menurut Dr. Suryadi, ahli geofisika dari Institut Teknologi Bandung, peningkatan kadar gas belerang bisa menjadi tanda awal dari aktivitas vulkanik. “Namun, kita harus hati-hati dalam menafsirkan data. Tidak semua peningkatan gas berarti erupsi akan terjadi. Perlu dilihat juga dari parameter lain seperti gempa vulkanik dan deformasi permukaan,” ujarnya.
Reaksi Masyarakat dan Upaya Pemantauan
Masyarakat sekitar Gunung Kelud, termasuk di Kecamatan Ngancar, mulai memperketat pengawasan terhadap lingkungan sekitar. Beberapa warga mengaku menghindari area dekat gunung, terutama saat malam hari, karena khawatir akan adanya letusan tiba-tiba.
Pemerintah setempat juga telah melakukan koordinasi dengan PVMBG untuk memastikan informasi yang diberikan akurat dan bisa diakses oleh masyarakat. “Kami sudah meminta agar PVMBG memberikan pembaruan berkala mengenai kondisi Gunung Kelud. Jangan sampai masyarakat terpancing oleh isu yang tidak jelas,” ujar Kepala Dinas Bina Marga Kabupaten Kediri, Rizal.
Kesiapan dan Edukasi Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat, pihak PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kediri telah melakukan edukasi tentang tindakan yang harus diambil jika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik. Salah satunya adalah mengenali tanda-tanda awal erupsi, seperti:
- Penambahan jumlah gempa vulkanik
- Perubahan warna dan intensitas asap kawah
- Adanya suara ledakan atau gemuruh yang tidak biasa
- Pergerakan tanah atau retakan di sekitar gunung
Selain itu, masyarakat diajak untuk selalu memantau informasi resmi melalui media sosial dan aplikasi layanan publik seperti “Siaga Bencana”.
Potensi Ekonomi dan Pertanian di Sekitar Gunung Kelud
Meski kondisi Gunung Kelud sedang dalam status waspada, wilayah sekitar tetap menjadi pusat pertanian dan ekonomi lokal. Kecamatan Ngancar, misalnya, dikenal sebagai sentra produksi nanas berkualitas. Produk olahan dari buah nanas seperti dodol, selai, dan nanas kering menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga.
Program Desa Sejahtera Astra (DSA) juga telah membantu para petani dalam mengembangkan usaha olahan nanas. “Dengan dukungan DSA, kami bisa memproduksi produk bernilai tambah yang bisa menjangkau pasar luas,” ujar Karnia, salah satu pelaku UMKM di Ngancar.
Kesimpulan
Status waspada Gunung Kelud pada 2 Desember 2025 memicu kekhawatiran di kalangan warga Kecamatan Ngancar. Meski saat ini belum ada indikasi erupsi besar, peningkatan aktivitas vulkanik tetap menjadi perhatian serius. Masyarakat diminta untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi, dan menjaga keselamatan diri sendiri serta keluarga. Di sisi lain, potensi ekonomi di sekitar Gunung Kelud tetap berkembang, terutama melalui inovasi pertanian dan pemasaran produk lokal.





