KediriNews.com – Gunung Kelud, yang terletak di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, kembali menunjukkan kondisi normal setelah beberapa waktu lalu sempat menghebohkan warga dengan kilatan cahaya dan awan pekat. Meski begitu, wisatawan tetap memilih untuk berkunjung ke daerah ini pada Minggu, 7 Desember 2025. “Kondisi Gunung Kelud saat ini masih normal,” kata Budi Priyanto, Petugas Pos Pantau PVMBG Gunung Kelud, seperti dilansir dari portal berita lokal.
Kecamatan Ngancar tidak hanya dikenal sebagai daerah dengan potensi wisata alam yang menarik, tetapi juga sebagai pusat produksi nanas berkualitas. Di lereng Gunung Kelud, kebun nanas yang subur menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga. Nanas yang manis dan harum ini telah lama menjadi favorit baik di dalam maupun luar daerah. Setiap musim panen, jalan desa dipenuhi gerobak penuh buah yang baru saja dipetik. Dari sinilah banyak warga tergerak untuk berinovasi, seperti yang dilakukan oleh Karnia, seorang penduduk Desa Ngancar yang mulai mengembangkan produk olahan dari nanas.
“Awalnya saya membuat selai untuk keluarga, kemudian meracik dodol dan minuman berbahan dasar nanas,” ujarnya. Inovasi ini akhirnya membuka peluang usaha yang lebih luas, terutama setelah Desa Ngancar terpilih sebagai salah satu penerima Program Desa Sejahtera Astra (DSA) pada 2025. Program ini memberikan bantuan tidak hanya dalam bentuk dana, tetapi juga pelatihan, penguatan organisasi, akses modal, dan dukungan pemasaran.
- Pelatihan teknik pengeringan modern
- Pengemasan yang menarik
- Strategi pemasaran daring
Dengan bantuan DSA, petani nanas di Ngancar belajar mengubah hasil bumi mereka menjadi produk bernilai tinggi, seperti nanas kering yang memiliki daya simpan lama dan praktis dibawa sebagai oleh-oleh. Selain itu, nanas kering juga memiliki pasar yang terus tumbuh, baik dari wisatawan yang melintasi Kediri hingga peluang ekspor.

Selain fokus pada pengolahan nanas, program ini juga mendorong pemanfaatan media sosial dan marketplace agar produk nanas kering dikenal lebih luas. Sinergi antara Astra, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas lokal memastikan transfer teknologi berjalan efektif. Langkah-langkah seperti standarisasi proses pengeringan, penggunaan kemasan ramah lingkungan, hingga penetapan label halal juga diupayakan untuk meningkatkan daya saing.
Transformasi Desa Ngancar menuju sentra nanas kering jelas bukan tanpa rintangan. Petani harus beradaptasi dengan teknologi pengeringan baru, menjaga kualitas produk, dan belajar tentang pemasaran digital. Namun, dukungan dari DSA membuka jalan bagi terwujudnya usaha bersama. Ketika kelompok tani, koperasi desa, dan pelaku UMKM bekerja sama, mereka memiliki kekuatan tawar yang lebih besar di pasar.

Di sisi lain, peluangnya sangat menjanjikan. Wisatawan yang berkunjung ke Gunung Kelud bisa membawa pulang nanas kering sebagai oleh-oleh khas. Produk ini juga berpotensi menembus pasar nasional dan internasional berkat daya simpan yang lama. Jika konsumen makin sadar akan produk lokal berkualitas, nanas kering dari Ngancar dapat menjadi ikon baru Kabupaten Kediri.
Dalam konteks ini, kunjungan wisatawan ke Kecamatan Ngancar pada 7 Desember 2025 menunjukkan bahwa masyarakat dan pengelola wisata tetap percaya pada kondisi Gunung Kelud yang normal. Mereka juga menyadari pentingnya mengembangkan potensi lokal, seperti produk olahan nanas, sebagai bagian dari perekonomian daerah.
Dengan kombinasi pengelolaan alam dan inovasi ekonomi, Gunung Kelud dan Kecamatan Ngancar tidak hanya menjadi destinasi wisata alam, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat. Ini adalah contoh nyata bagaimana keseimbangan antara lingkungan dan pembangunan dapat menciptakan masa depan yang lebih baik.





