SABUN ORGANIK LARIS DI BAZAAR MINGGU PAGI KECAMATAN NGASEM TANGGAL 7 DESEMBER 2025

KediriNews.com – Sabun organik kembali mencuri perhatian publik saat berlangsungnya Bazaar Minggu Pagi di Kecamatan Ngasem pada 7 Desember 2025. Produk yang terbuat dari bahan alami dan ramah lingkungan ini menarik banyak pengunjung, bahkan beberapa di antaranya membeli dalam jumlah besar. “Saya tidak menyangka sabun ini laris seperti ini. Mereka mengatakan teksturnya lembut dan aromanya menyenangkan,” ujar Ibu Siti, salah satu pengunjung yang membeli dua buah sabun.

  1. Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Produk Bernilai

Desa Ngasem, yang memiliki sekitar 2.214 keluarga, setiap bulannya menghasilkan limbah minyak goreng sebanyak 1 liter per keluarga. Dari situ, muncul ide untuk mengolah limbah tersebut menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, seperti sabun dan lilin. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode Community-Based Research (CBR) berhasil memberikan solusi inovatif yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberikan peluang usaha bagi warga.

“Melalui workshop yang kami selenggarakan, para ibu PKK dan Dasa Wisma bisa belajar cara mengubah limbah minyak goreng menjadi sabun dan lilin. Mereka sangat antusias dan aktif dalam diskusi,” jelas salah satu penyelenggara kegiatan tersebut. Demonstrasi pembuatan sabun dan lilin dilakukan secara langsung, sehingga peserta bisa melihat proses pengolahan secara real-time.

  1. Manfaat Lingkungan dan Ekonomi

Sabun organik yang dihasilkan dari limbah minyak goreng memiliki harga yang terjangkau, dengan bahan baku yang diperoleh dari kebutuhan harian masyarakat. Selain itu, produk ini juga ramah lingkungan karena mengurangi sampah yang biasanya dibuang ke lingkungan. “Ini adalah bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan juga peluang bisnis yang bisa dijalankan oleh masyarakat lokal,” tambah salah satu anggota tim peneliti.

  1. Antusiasme Pengunjung Bazaar

Bazaar Minggu Pagi Kecamatan Ngasem pada 7 Desember 2025 menjadi ajang promosi yang sukses bagi produk sabun organik ini. Pengunjung tidak hanya tertarik pada kualitas produk, tetapi juga pada cerita di balik pembuatannya. “Saya senang bisa mendukung produk yang bermanfaat dan ramah lingkungan. Selain itu, harganya juga sangat murah,” kata Ibu Rina, salah satu pembeli.

Selain sabun, ada juga produk lilin yang dibuat dari limbah minyak goreng. Keduanya disajikan dalam kemasan yang sederhana namun estetis, sehingga menarik minat konsumen. “Produk ini sangat cocok sebagai hadiah atau untuk digunakan sendiri. Aromanya menenangkan dan teksturnya lembut,” ujar Ibu Dian, yang membeli tiga buah sabun.

  1. Kolaborasi dengan Komunitas Lokal

Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan dan ekonomi, tetapi juga memperkuat ikatan komunitas. Para ibu PKK dan Dasa Wisma yang terlibat dalam workshop menjadi agen perubahan yang dapat menyebarkan informasi tentang pentingnya daur ulang limbah minyak goreng. “Kami berharap ke depannya lebih banyak warga yang terlibat dalam program ini,” kata Ibu Nur, ketua Dasa Wisma Desa Ngasem.

  1. Peluang Bisnis yang Berkelanjutan

Sabun organik dari limbah minyak goreng bukan hanya sekadar produk, tetapi juga peluang bisnis yang berkelanjutan. Dengan harga yang terjangkau dan permintaan pasar yang meningkat, produk ini memiliki potensi besar untuk berkembang. “Kami berencana mengembangkan varian lain, seperti sabun dengan aroma kopi atau lavender, agar semakin menarik minat konsumen,” jelas salah satu pengrajin.

Hasil dari kegiatan ini juga membuka jalan bagi kolaborasi dengan pihak-pihak lain, seperti toko-toko lokal atau komunitas lingkungan. Dengan begitu, produk sabun organik ini tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih sadar akan keberlanjutan.

#SabunOrganik #LimbahMinyakJelantah #Ngasem #BazaarMingguPagi #EkonomiKreatif

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *