KediriNews.com – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2025 di Kecamatan Kota kembali menarik perhatian masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang paling dinantikan adalah penyelenggaraan gunungan jajan pasar, yang menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan dalam momen kelahiran Nabi. Pada tanggal 4 Desember 2025, acara ini akan digelar dengan berbagai lomba, doa bersama, serta pembagian jajanan khas yang terkenal ludes sebelum waktu habis.
Gunungan jajan pasar tidak hanya sekadar hiasan, tetapi juga merupakan bentuk perwujudan rasa syukur dan kerja sama antar warga. Masyarakat biasanya mengumpulkan berbagai jenis jajanan seperti klepon, onde-onde, dan lainnya untuk disusun secara bertingkat. Prosesi ini sering kali dimulai dari pagi hari, dengan partisipasi aktif dari ibu-ibu dan anak-anak. Dalam perayaan tersebut, para peserta diberi kesempatan untuk mencoba atau membeli jajanan tersebut, namun jumlahnya terbatas, sehingga selalu terjadi antrean panjang.
“Acara ini selalu dinanti-nantikan oleh warga. Selain sebagai bentuk kebersamaan, juga menjadi ajang untuk saling berbagi,” ujar Ibu Siti, salah satu pengurus RT di Kecamatan Kota. “Bahkan, banyak yang datang dari luar daerah hanya untuk ikut merayakan.”
Tradisi yang Mengakar
Tradisi gunungan jajan pasar memiliki akar sejarah yang kuat di Indonesia. Meskipun tidak sepenuhnya identik dengan Grebeg Maulud yang terkenal di Yogyakarta, prinsipnya tetap sama, yaitu memberikan rezeki dan keberkahan melalui pembagian hasil bumi. Di Kecamatan Kota, tradisi ini telah menjadi bagian dari budaya lokal yang dilestarikan sejak generasi ke generasi.
Pembuatan gunungan biasanya dilakukan oleh komunitas setempat, dengan bantuan dari para pemuda dan ibu-ibu. Setiap jajanan dibuat dengan hati, dan disusun sedemikian rupa agar menarik perhatian. Selain itu, ada juga prosesi doa dan shalawat yang dilakukan sebelum gunungan dibuka untuk dibagikan kepada masyarakat.
Persiapan yang Matang
Untuk memastikan acara berjalan lancar, persiapan dilakukan beberapa hari sebelum perayaan. Mulai dari pengumpulan bahan baku hingga pembuatan jajanan, semua dilakukan secara mandiri oleh warga. Ada pula pihak desa yang membantu dalam koordinasi acara, termasuk pengaturan lokasi dan pengamanan.
- Pengumpulan bahan baku: Warga berkumpul untuk membeli bahan-bahan seperti tepung, gula, dan bahan-bahan lain yang diperlukan.
- Pembuatan jajanan: Berbagai jenis jajanan dibuat dengan bantuan ibu-ibu dan pemuda.
- Penyusunan gunungan: Jajanan disusun secara bertingkat dan dihiasi dengan dekorasi sederhana.
- Persiapan acara: Doa bersama, lomba, dan pertunjukan seni disiapkan untuk memeriahkan acara.
Antusiasme Masyarakat
Antusiasme masyarakat terhadap acara ini sangat tinggi. Banyak warga yang rela menunggu cukup lama hanya untuk mendapatkan jajanan dari gunungan. Bahkan, beberapa orang datang dari wilayah sekitar hanya untuk ikut merayakan. Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi antar warga, terutama yang tinggal di lingkungan yang berbeda.
Selain itu, banyak anak-anak yang antusias mengikuti lomba-lomba yang disediakan, seperti lomba membuat jajanan atau lomba menyanyikan shalawat. Hal ini menjadikan acara ini tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda tentang nilai-nilai kebersamaan dan keagamaan.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan adanya acara seperti ini, diharapkan semangat kebersamaan dan kerukunan dapat terus dipertahankan. Selain itu, acara ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga tradisi dan budaya lokal.
Pemerintah setempat juga turut mendukung kegiatan ini dengan memberikan dukungan logistik dan promosi. Dengan demikian, acara Maulid Nabi di Kecamatan Kota tidak hanya menjadi perayaan religius, tetapi juga menjadi ajang untuk memperkuat tali persaudaraan dan kebersamaan.
#MaulidNabi #GununganJajanPasar #KecamatanKota #PerayaanReligius #TradisiLokal
