Pengrajin Batik Bangkit: Motif Lidah Api Laris di Kecamatan Kota pada 10 Desember 2025!
KediriNews.com – Di tengah geliat industri batik yang kian menggelora, pengrajin batik di Kecamatan Kota, Kabupaten Kediri, menunjukkan kebangkitan luar biasa. Pada 10 Desember 2025, motif lidah api yang menjadi ciri khas batik Gringsing Dahanapura kembali mencuri perhatian pasar lokal maupun internasional. Tidak hanya sebagai simbol budaya, motif ini kini menjadi salah satu ikon yang memperkuat identitas seni batik Kediri.
Motif lidah api, yang berasal dari sejarah Kerajaan Panjalu atau Dahanapura, memiliki makna mendalam. “Dahanapura berarti kota api, dan motif ini melambangkan semangat serta kekuatan,” ujar Sih Panganti (44), seorang pembatik di Kediri. Ia menjelaskan bahwa motif ini sering dipadukan dengan elemen lain seperti sisik, sulur, atau bentuk-bentuk alami untuk menciptakan desain yang lebih kompleks dan menarik.
“Semua motif bisa dikatakan batik khas Kabupaten Kediri kalau ada Gringsing Dahanapura,” tambahnya. Hal ini membuat motif lidah api menjadi salah satu yang paling diminati oleh konsumen, baik dalam bentuk kain batik maupun produk turunan seperti pakaian, aksesori, hingga dekorasi rumah.
Perkembangan dan Inovasi Batik Kediri
Berkembangnya batik Kediri tidak terlepas dari upaya para pengrajin dan pegiat seni yang terus berinovasi. Adi Wahyono, seorang pegiat batik lainnya, menyebutkan bahwa geliat batik di daerah ini mulai berkembang sejak tahun 2010. “Saya pernah disekolahkan oleh Pemkab ke Jogja khusus belajar batik,” katanya. Ia juga mengakui bahwa penelusuran sejarah Kediri menjadi dasar penggalian motif yang lebih autentik.
Inovasi tersebut tidak hanya terbatas pada motif, tetapi juga pada teknik dan bahan. Banyak pengrajin kini menggunakan bahan modern seperti kulit, sutra, dan kain campuran untuk menciptakan produk yang lebih fungsional dan sesuai dengan selera pasar saat ini. “Batik bukan hanya untuk acara formal, tapi juga bisa digunakan dalam gaya sehari-hari,” jelas Sih.
Peluang Bisnis yang Menjanjikan
Tidak hanya sebagai warisan budaya, batik Kediri kini juga menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Dengan popularitasnya yang meningkat, banyak pengrajin memanfaatkan platform digital untuk mempromosikan produk mereka. “Kami punya toko online dan media sosial yang aktif,” ujar Sih. Ia juga menambahkan bahwa batik khas Kediri sering kali menjadi oleh-oleh favorit bagi wisatawan mancanegara.
Selain itu, inovasi dalam desain dan harga juga membantu menjangkau berbagai kalangan. Harga batik bervariasi, mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 3 jutaan, tergantung pada kerumitan dan keindahan corak yang ada. “Yang penting, kualitas tetap terjaga,” tegasnya.
Strategi Membangun Brand dan Pasar
Untuk mempertahankan minat konsumen, pengrajin batik Kediri juga mulai membangun brand yang kuat. “Kita harus menceritakan proses pembuatan batik dan makna dari setiap motif,” ujar Adi Wahyono. Ia menilai bahwa cerita di balik batik menjadi nilai tambah yang membedakan produk kita dari kompetitor.
Selain itu, kolaborasi dengan desainer, influencer, dan tokoh publik juga menjadi strategi yang efektif. “Kita bisa menciptakan produk eksklusif yang menarik minat pasar baru,” tambahnya. Dengan demikian, batik Kediri tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk yang relevan dengan tren modern.
Kesimpulan
Motif lidah api di Kecamatan Kota, Kabupaten Kediri, telah membuktikan bahwa batik Kediri tidak hanya sekadar warisan budaya, tetapi juga sebuah inovasi yang terus berkembang. Dengan kombinasi antara tradisi dan modernitas, pengrajin batik Kediri berhasil menarik perhatian pasar lokal dan internasional. Semangat bangkitnya pengrajin batik ini menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain untuk melestarikan dan mengembangkan seni batik.

