KediriNews.com — Pabrik tahu yang berada di Tinalan, Kecamatan Pesantren, mengumumkan kebangkrutan pada 4 Desember 2025. Keputusan ini memicu gulungan tikar massal terhadap sekitar 200 karyawan yang selama ini bekerja di pabrik tersebut. Informasi ini mengejutkan masyarakat setempat, yang sebelumnya tidak mengetahui adanya ancaman penutupan pabrik.
Dalam pernyataannya, salah satu pengusaha lokal mengungkapkan bahwa kondisi finansial pabrik telah memburuk sejak beberapa tahun terakhir. “Kami sudah berjuang keras untuk menjaga kelangsungan usaha, tapi akhirnya harus mengakui bahwa kami tidak mampu lagi menanggung kerugian,” ujar dia dengan suara berat.
Menurut laporan dari sumber internal, pabrik tahu ini pernah menjadi salah satu ikon industri makanan di daerah tersebut. Namun, seiring dengan meningkatnya persaingan dan naiknya biaya produksi, usaha ini mulai merosot. “Kami mencoba beradaptasi, tetapi tidak cukup. Kami harus mengambil keputusan sulit ini,” tambahnya.

Tidak hanya pengusaha, para karyawan juga merasa kaget dengan keputusan ini. Mereka merasa ditinggalkan tanpa pemberitahuan yang jelas. “Kami tidak menyangka akan ada PHK seperti ini. Kami bahkan belum bisa mempersiapkan diri,” kata salah satu karyawan yang enggan disebut namanya.
Sejumlah karyawan menyatakan kekecewaan terhadap manajemen pabrik. Mereka mengharapkan komunikasi yang lebih transparan. “Jika mereka ingin tutup, setidaknya beri kami waktu dan bantuan,” ujar salah satu perwakilan karyawan.

Berdasarkan data yang diperoleh, sekitar 200 karyawan akan terdampak langsung dari penutupan pabrik ini. Banyak dari mereka memiliki tanggungan keluarga, sehingga kehilangan pekerjaan ini menjadi beban besar. “Kami harus cari alternatif lain, tapi itu tidak mudah,” tambah karyawan lainnya.
Selain itu, keputusan ini juga memengaruhi ekonomi masyarakat sekitar. Sejumlah pedagang kecil yang bergantung pada pabrik tahu juga merasa terkena dampaknya. “Kami kehilangan pelanggan yang biasa belanja di sekitar pabrik,” ujar salah satu pemilik toko di dekat lokasi pabrik.
Meski begitu, pihak pengusaha berjanji akan memberikan bantuan kepada karyawan. “Kami akan membantu mereka dalam proses pencarian pekerjaan baru,” kata pengusaha tersebut. Ia juga berharap agar pemerintah setempat dapat membantu melalui program pengembangan usaha kecil.
Perlu diketahui, kasus ini bukanlah yang pertama kali terjadi di wilayah ini. Beberapa perusahaan kecil sebelumnya juga mengalami nasib serupa akibat tekanan ekonomi dan persaingan bisnis yang ketat. Namun, keputusan penutupan pabrik tahu ini menunjukkan betapa sensitifnya situasi ekonomi di daerah tersebut.
Dari segi hukum, keputusan penutupan pabrik harus sesuai dengan aturan yang berlaku. Karyawan berhak mendapatkan perlindungan dan hak-haknya tidak boleh dilanggar. “Semoga pihak pengusaha bisa memenuhi semua kewajibannya,” harap salah satu aktivis masyarakat setempat.
Kepala desa setempat juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak panik. “Mari kita bersama-sama mencari solusi terbaik bagi semua pihak,” ujarnya.
Hashtag: #PabrikTahuBangkrut #KaryawanTidakBerdaya #EkonomiDaerahMerosot #PengusahaTahu #GulungTikarMassal



