KediriNews.com – Pada hari Jumat, 20 Oktober 2025, warga Kecamatan Mojoroto, Kabupaten Kediri, mengalami kejadian yang tidak biasa. Sejumlah kura-kura Brazil (Trachemys scripta elegans) dengan cangkang hijau dan garis merah di sekitar telinganya terlihat berenang lincah di perairan sungai dekat kawasan pemukiman. Kejadian ini mengejutkan masyarakat setempat karena kura-kura Brazil bukanlah spesies asli Indonesia, melainkan hewan peliharaan yang sering dilepaskan ke alam bebas oleh pemiliknya.
“Awalnya saya kira itu hanya ikan atau binatang lain, tapi setelah diperhatikan lebih jelas, ternyata itu kura-kura Brazil,” kata Siti, salah satu warga yang melihat langsung kejadian tersebut. “Saya belum pernah melihat kura-kura seperti ini di daerah kami sebelumnya.”
Menurut informasi yang dikumpulkan oleh wartawan KediriNews.com, keberadaan kura-kura Brazil di wilayah Mojoroto diduga berasal dari pelepasan oleh pemiliknya. Kura-kura Brazil, meskipun populer sebagai hewan peliharaan, memiliki sifat invasif dan dapat mengganggu ekosistem lokal jika tidak dikelola dengan baik. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus pelepasan kura-kura Brazil ke lingkungan alami semakin marak, terutama di daerah perkotaan dan pinggiran kota.
Bukan Spesies Asli, Tapi Banyak Dipelihara
Kura-kura Brazil adalah spesies yang berasal dari Amerika Serikat bagian selatan, bukan Brasil. Meski demikian, istilah “kura-kura Brazil” sudah menjadi istilah umum dalam kalangan pecinta reptil. Mereka memiliki ciri khas berupa cangkang hijau cerah dan garis merah di sekitar telinga, serta ukuran tubuh yang relatif kecil dibandingkan kura-kura laut.
“Kura-kura Brazil memang banyak dipelihara karena mudah dirawat dan tampilannya menarik,” ujar Dr. Rizky, ahli biologi dari Universitas Negeri Malang. “Namun, mereka juga bisa menjadi ancaman bagi lingkungan alami jika dilepaskan tanpa pertimbangan.”
Peran Ekologis yang Tidak Terduga
Meski tidak termasuk spesies langka, kehadiran kura-kura Brazil di perairan Mojoroto menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap ekosistem lokal. Menurut penelitian yang dilakukan oleh lembaga konservasi, kura-kura Brazil memiliki kebiasaan makan yang omnivora, sehingga bisa bersaing dengan spesies lokal untuk sumber makanan.
“Kita harus waspada terhadap pelepasan hewan peliharaan ke alam bebas,” tambah Dr. Rizky. “Bisa saja mereka mengganggu keseimbangan ekosistem, terutama jika populasi mereka berkembang pesat.”
Upaya Konservasi dan Edukasi
Pemerintah Kabupaten Kediri telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah pelepasan kura-kura Brazil ke lingkungan alami. Salah satunya adalah edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan tidak melepaskan hewan peliharaan ke alam bebas.
“Kami mengajak masyarakat untuk tetap bertanggung jawab atas hewan peliharaan mereka,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Kabupaten Kediri, Ibu Sri. “Jika tidak lagi ingin merawat, sebaiknya diserahkan ke tempat penampungan resmi.”
Beberapa Langkah yang Bisa Dilakukan Warga
- Tidak melepaskan kura-kura Brazil ke alam bebas: Jika tidak lagi ingin merawat, carilah solusi yang aman seperti menghubungi lembaga konservasi atau pengasuh hewan.
- Lindungi lingkungan alami: Jangan membuang sampah plastik atau limbah ke sungai, karena bisa membahayakan hewan-hewan air.
- Ikut program edukasi: Partisipasi dalam kegiatan sosialisasi lingkungan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi.
Kesimpulan
Keberadaan kura-kura Brazil di Kecamatan Mojoroto pada 20 Oktober 2025 menjadi peringatan bagi masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan tanggung jawab dalam merawat hewan peliharaan. Meskipun kura-kura Brazil tidak termasuk spesies langka, kehadirannya di alam bebas bisa berdampak negatif terhadap ekosistem lokal. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan tindakan nyata dari semua pihak untuk melindungi keanekaragaman hayati Indonesia.





