KediriNews.com – Pada 15 Januari 2025, masyarakat Kecamatan Ngadiluwih akan merayakan tradisi unik dengan hadirnya kue nastar selai nanas lumer. Kue ini tidak hanya menjadi camilan favorit tetapi juga simbol kehangatan dan keramahtamahan dalam setiap momen spesial. Dalam acara tahunan ini, warga setempat berbondong-bondong menghadiri pameran kue yang disajikan oleh UMKM lokal, menunjukkan antusiasme terhadap produk-produk khas daerah.
Kue nastar, yang terkenal dengan tekstur lembut dan rasa manis dari selai nanas, memiliki peran penting dalam berbagai ritual keagamaan dan perayaan. “Nastar sering kali terkait dengan momen-momen spesial, seperti perayaan Natal atau Tahun Baru Imlek. Keunikan ini memberikan nilai simbolis pada nastar, membuatnya tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga memiliki makna tradisional dan kehangatan dalam setiap gigitannya,” ujar salah satu pengrajin kue setempat, Siti Aminah.
Berikut adalah beberapa hal yang membuat kue nastar menjadi daya tarik utama dalam acara tersebut:
-
Rasa yang Menggugah Selera
Selai nanas yang segar dan manis menciptakan kontras sempurna dengan adonan yang renyah dan lembut. Setiap gigitan memancarkan rasa yang menggugah selera, menjadikannya camilan yang sangat diminati. -
Tekstur yang Ideal
Tekstur kue yang lembut dan lumer di mulut memberikan pengalaman makan yang istimewa. Hal ini membuat kue nastar cocok untuk semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. -
Tradisi yang Terjaga
Acara ini tidak hanya menjadi ajang pameran kue, tetapi juga menjadi bentuk pelestarian budaya. Warga Ngadiluwih turut serta dalam proses pembuatan kue, menjaga warisan kuliner yang sudah ada sejak lama. -
Pengembangan Produk Lokal
UMKM lokal berupaya menghadirkan variasi baru dalam penyajian kue nastar, seperti penggunaan bahan-bahan alami dan teknik pembuatan yang lebih inovatif. -
Dukungan Komunitas
Masyarakat setempat sangat mendukung acara ini, dengan banyak yang datang untuk membeli kue dan memberikan apresiasi terhadap usaha para pengrajin.

Selain itu, acara ini juga menjadi ajang promosi bagi pelaku UMKM di wilayah Ngadiluwih. Menurut hasil riset Populix, 82 persen responden menyebut nastar sebagai kue kering terfavorit, disusul putri salju dan kastengel. Hal ini menunjukkan bahwa kue nastar tidak hanya populer di level nasional, tetapi juga memiliki penggemar setia di berbagai daerah.
“Kami berharap acara ini bisa menjadi wadah untuk menumbuhkan semangat ekonomi kreatif di lingkungan kami. Selain itu, kami juga ingin menunjukkan bahwa kue nastar bukan hanya sekadar camilan, tetapi juga bagian dari identitas budaya,” ujar Ketua Paguyuban Pengrajin Kue Ngadiluwih, Budi Santoso.

Untuk memperkaya pengalaman, acara ini juga dilengkapi dengan berbagai aktivitas lain seperti demo pembuatan kue, pertunjukan seni, dan pameran kerajinan tangan. Semua ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang ramah dan interaktif bagi peserta.
Seiring berkembangnya zaman, kue nastar tetap menjadi pilihan utama dalam berbagai acara. Bahkan, banyak pengrajin lokal mencoba menghadirkan varian baru, seperti nastar dengan isian keju atau topping kacang. Kreasi-kreasi ini menunjukkan bahwa kue tradisional tetap bisa berinovasi tanpa menghilangkan esensi rasanya.
Dengan acara tahunan ini, masyarakat Ngadiluwih tidak hanya merayakan kue nastar, tetapi juga menunjukkan komitmen mereka untuk menjaga keberlanjutan budaya dan ekonomi lokal. Dengan begitu, kue nastar selai nanas lumer menjadi simbol kebersamaan dan kebanggaan.





