KERAJINAN TENUN IKAT GO INTERNATIONAL! Desainer Paris Gunakan Karya Pengrajin Kota Banjir pada 2 Desember 2025

KediriNews.com – Kerajinan tenun ikat khas Indonesia, khususnya dari daerah Kota Banjir, kini sedang menarik perhatian dunia. Dalam sebuah peristiwa yang memperkuat posisi kerajinan lokal di panggung internasional, desainer muda asal Paris, Priscille Berthaud dan Kozue Sullerot, akan menggunakan karya pengrajin setempat dalam koleksi mereka yang akan dipresentasikan pada 2 Desember 2025. Hal ini menjadi bukti bahwa seni tenun ikat tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga menjadi aset ekonomi yang potensial.

Dalam wawancara dengan Kucantik.com, Priscille menyampaikan antusiasme terhadap kain tenun ikat yang ia pelajari selama mengikuti program Pintu Residency. “Saya sangat terkesan dengan kekayaan motif dan teknik yang digunakan oleh para pengrajin. Mereka memiliki cara unik dalam menciptakan karya yang tidak hanya indah, tapi juga penuh makna,” katanya.

Pengrajin Kota Banjir, yang dikenal dengan keahlian dalam membuat kain tenun ikat tradisional, kini mendapat kesempatan besar untuk berkolaborasi dengan desainer internasional. Selama tiga bulan, para pengrajin bekerja sama dengan desainer Prancis untuk menciptakan karya yang dapat diterima baik di pasar lokal maupun global. Proses ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi bagi para pengrajin, tetapi juga memberikan peluang baru untuk memperkenalkan tenun ikat ke dunia fashion internasional.

Proses Pembuatan Tenun Ikat yang Rumit

Tenun ikat adalah salah satu bentuk kerajinan tekstil yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Proses pembuatannya dimulai dari penyiapan benang, kemudian dilakukan proses ikat (mengikat bagian-bagian tertentu dari benang agar tidak terkena warna) sebelum akhirnya dibuka dan dicelupkan dalam larutan pewarna alami. Teknik ini menghasilkan pola yang unik dan khas, yang sering kali bermakna filosofis atau spiritual.

Di Kota Banjir, para pengrajin telah mewariskan teknik ini dari generasi ke generasi. Mereka menggunakan bahan alami seperti kapas, sutra, dan benang nilon, serta pewarna alami seperti daun mangga, kulit pohon jambu, dan daun jambu biji. Hasilnya adalah kain yang tidak hanya indah, tetapi juga ramah lingkungan dan bernilai tinggi.

Dukungan dari Komunitas Lokal dan Internasional

Program Pintu Residency, yang diinisiasi oleh JF3 (Jakarta Fashion & Food Festival) dan Lakon Indonesia, merupakan wadah penting dalam menghubungkan pengrajin lokal dengan desainer internasional. Program ini bertujuan untuk memperkuat hubungan budaya dan kreatif antara Indonesia dan Prancis, sekaligus membantu pengrajin lokal untuk memasuki pasar global.

Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah untuk mempromosikan wastra Indonesia sebagai produk mode yang bisa diterima di pasar internasional. “Kami ingin menunjukkan bahwa batik, tenun, dan songket Indonesia bukan hanya kain lokal, tetapi juga bisa menjadi bagian dari tren mode global,” ujarnya.

Selain itu, program ini juga mendapat dukungan dari Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang dalam pidatonya di Candi Borobudur pada Mei 2025 menyebut Pintu Residency sebagai contoh nyata dari kolaborasi budaya yang kuat antara dua negara.

Peran Desainer dalam Mengembangkan Kain Tenun Ikat

Desainer Prancis seperti Priscille dan Kozue memiliki peran penting dalam mengembangkan kain tenun ikat menjadi produk yang lebih modern dan sesuai dengan selera pasar global. Mereka tidak hanya mengadaptasi motif dan warna, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam kain tersebut.

Priscille, yang sebelumnya pernah belajar menenun di Lombok, mengaku kagum dengan keterampilan para pengrajin Kota Banjir. “Mereka memiliki cara unik dalam menciptakan karya yang tidak hanya indah, tetapi juga penuh makna. Ini adalah hal yang luar biasa,” katanya.

Sementara itu, Kozue berharap bahwa karya yang ia ciptakan bersama pengrajin Kota Banjir dapat diterima oleh pasar Prancis. “Saya percaya bahwa tenun ikat bisa menjadi bagian dari tren mode global jika kita bisa menyesuaikan gaya dan desainnya,” ujarnya.

Kesiapan untuk Tampil di Paris

Pada 2 Desember 2025, karya Priscille dan Kozue akan dipresentasikan dalam acara Premiere Classe Paris, salah satu trade show mode bergengsi di Eropa. Acara ini akan menjadi momen penting bagi pengrajin Kota Banjir untuk menunjukkan kualitas kain tenun ikat mereka kepada dunia internasional.

Selain itu, acara ini juga akan menjadi ajang promosi bagi kerajinan lokal Indonesia secara keseluruhan. Dengan partisipasi desainer internasional, harapan besar diarahkan agar kain tenun ikat dapat menjadi ikon mode baru yang diterima di berbagai belahan dunia.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Meskipun ada banyak peluang, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah memastikan bahwa kain tenun ikat dapat memenuhi standar industri mode global. Hal ini melibatkan perubahan dalam teknik produksi, desain, dan pemasaran.

Namun, dengan dukungan dari komunitas lokal dan internasional, serta semangat para pengrajin dan desainer, masa depan kerajinan tenun ikat khas Kota Banjir tampak cerah. Dengan karya yang kaya akan makna dan keindahan, tenun ikat tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga menjadi aset ekonomi yang berkelanjutan.

Hashtag Terkait:

TenunIkat #KotaBanjir #DesainerParis #ModeInternasional #PintuResidency

Pos terkait