KEKERINGAN GUNUNG KLOTOK! Hutan Meranggas di Kecamatan Mojoroto pada 6 Desember 2025

KediriNews.com – Peristiwa kekeringan yang terjadi di kawasan hutan Gunung Klotok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, menjadi perhatian serius masyarakat dan pemerintah setempat. Pada tanggal 6 Desember 2025, kondisi hutan di sekitar gunung ini mengalami penurunan drastis, dengan beberapa area mulai meranggas akibat cuaca ekstrem dan minimnya curah hujan.

“Kami melihat ada peningkatan signifikan dalam jumlah daun yang layu dan tanaman yang tidak tumbuh normal,” ujar Bambang Suryadi, salah satu warga setempat yang tinggal di dekat kaki Gunung Klotok. “Ini pertama kalinya kami melihat fenomena seperti ini dalam beberapa tahun terakhir.”

Pengaruh Cuaca Ekstrem

Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun 2025 telah berlangsung lebih awal dan lebih intens dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Awal musim kemarau yang biasanya dimulai pada bulan Mei, kini tercatat sudah memasuki April 2025. Hal ini menyebabkan penurunan ketersediaan air secara signifikan, terutama di wilayah-wilayah yang bergantung pada sumber air alami seperti sungai dan mata air.

Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG, menjelaskan bahwa kekeringan yang terjadi di Jawa bagian timur, termasuk di wilayah Kediri, dipengaruhi oleh pergeseran pola iklim global. “Kami memperkirakan bahwa sebagian besar wilayah Jawa akan mengalami musim kemarau yang lebih singkat namun lebih intens,” katanya.

Tindakan Pencegahan dan Penanggulangan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memberikan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan. Salah satu langkah yang disarankan adalah penghematan penggunaan air dan penangkapan air hujan. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menjaga lingkungan dengan menanam pohon dan menjaga daerah tangkapan air.

Di Kecamatan Mojoroto, pemerintah setempat sedang melakukan koordinasi dengan komunitas lokal untuk memastikan bahwa upaya pencegahan dapat dilakukan secara efektif. “Kami sedang membangun sistem penangkapan air hujan di beberapa titik strategis di kawasan hutan,” jelas Camat Mojoroto, Siti Aminah.

Bentuk dan Sejarah Gunung Klotok

Gunung Klotok, yang terletak di dekat kaki Gunung Wilis, memiliki bentuk yang unik dan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Nama Klotok berasal dari kata “Kolo” yang berarti bahaya dan “Thok” yang berarti saja. Dengan ketinggian sekitar 536 mdpl, gunung ini dikenal sebagai “Si Cantik Tidur” karena bentuknya yang menyerupai sosok perempuan yang sedang tidur.

Selain itu, Gunung Klotok juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Di kawasan ini terdapat tiga goa yaitu Goa Selomangleng, Goa Selobale, dan Goa Padedean, serta Situs Candi Klothok yang diduga berasal dari era Kerajaan Kadiri. Namun, saat ini, kekeringan yang terjadi membuat akses ke lokasi-lokasi tersebut menjadi lebih sulit.

Peran Masyarakat dalam Pelestarian Lingkungan

Masyarakat sekitar Gunung Klotok mulai menyadari pentingnya menjaga lingkungan alami mereka. Beberapa kelompok masyarakat telah membentuk komunitas lingkungan untuk melakukan kegiatan penanaman pohon dan pemeliharaan sumber air. “Kami ingin menjaga keberlanjutan hutan ini agar bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” ujar salah satu anggota komunitas tersebut.

Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan

  1. Penangkapan Air Hujan: Membangun sistem penangkapan air hujan di area yang rawan kekeringan.
  2. Penanaman Pohon: Menanam pohon di area hutan yang mengalami kerusakan.
  3. Pemantauan Cuaca: Melibatkan masyarakat dalam pemantauan cuaca dan kondisi lingkungan.
  4. Edukasi dan Pelatihan: Memberikan pelatihan tentang pengelolaan air dan perlindungan lingkungan.
  5. Koordinasi dengan Pemerintah: Memastikan adanya dukungan dari pemerintah dalam upaya pencegahan kekeringan.

Komunitas lokal sedang menanam pohon di kaki Gunung Klotok

Kesimpulan

Peristiwa kekeringan di kawasan hutan Gunung Klotok, Kecamatan Mojoroto, pada 6 Desember 2025 menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat untuk lebih waspada terhadap perubahan iklim dan lingkungan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas lokal, diharapkan dapat dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan yang efektif. Semua pihak harus bersatu untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

KEKERINGAN #GUNUNGKLOTOK #MOJOROTO #KEKERINGAN2025 #LINGKUNGANALAMI

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *