Di balik kesuksesannya sebagai atlet catur, Miftahul Jannah, warga Kediri, memiliki kisah yang tak terduga. Meski sebelumnya dikenal sebagai atlet para judo, ia kini menjadi perhatian nasional setelah memutuskan beralih ke cabang olahraga catur tunanetra. Keputusan ini diambil setelah dia didiskualifikasi pada Asian Para Games 2018 karena tidak mau melepaskan hijab.
Miftahul Jannah bukan hanya sekadar atlet catur biasa. Ia mampu mengalahkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Naharawi dalam pertandingan catur yang digelar di kediaman Menpora, Jakarta Selatan. Dalam dua set pertandingan, Miftah berhasil meraih kemenangan yang membuat banyak orang terkejut.
“Bagus, selamat Miftah. Dulu waktu main pertama kita remis, sekarang saya kalah. Nanti ikut ke kantor, ada kejuaraan catur, nanti tanding lawan GM Utut Adianto ya,” kata Imam, dalam siaran pers, Selasa, 13 November 2018.
Selain itu, Miftahul juga menunjukkan kemampuan luar biasa dalam kompetisi Peparda V Jawa Barat di Kabupaten Bogor, yang berlangsung pada 5-9 November 2018. Dalam ajang tersebut, cabor catur diikuti oleh 94 peserta dari 23 daerah kabupaten/kota se-Jawa Barat. Miftahul yang berada pada Kategori B-3 berhasil mendapatkan dua perunggu.
“Alhamdulillah, saya dapat dua perunggu. Semakin mantap di catur, dan akan terus berjuang untuk prestasi terbaik,” ujar Miftah usai tanding lawan Menpora.
Kisah Miftahul Jannah menunjukkan bahwa disabilitas bukanlah penghalang untuk mencapai prestasi. Dengan ketekunan dan semangat yang kuat, ia membuktikan bahwa kemampuan intelektual dan strategi bisa mengalahkan segala tantangan.
Dalam konteks yang lebih luas, Indonesia juga memiliki atlet-atlet catur tunanetra lainnya yang patut diperhatikan, seperti Wilma Margaretha Sinaga. Atlet ini menjadi andalan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia dan telah berhasil meraih berbagai medali baik di tingkat nasional maupun internasional.
Wilma Mulai terjun ke dunia catur pada 1996 ketika masih duduk di bangku TK Yayasan Tunanetra di bawah naungan Gereja di Jerman. Ia mulai menunjukkan bakatnya dalam catur dan akhirnya menjadi salah satu harapan Indonesia untuk meraih emas di ajang Asian Para Games 2023.
“Awalnya masih TK. Di sana kami dikasih pendidikan formal dan ekskulnya ya. Jadi ada banyak ada olahraga seni,” katanya sembari mengingat.
Meskipun kehidupannya jauh dari kata layak, Wilma tetap bersemangat dan berjuang keras untuk meraih prestasi. Ia percaya bahwa catur adalah olahraga yang paling mudah untuk dilakukan, sekaligus membantu dalam belajar matematika.
Kisah-kisah seperti Miftahul dan Wilma memberi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi para penyandang disabilitas. Mereka membuktikan bahwa dengan ketekunan, semangat, dan dukungan yang tepat, semua orang bisa meraih impian mereka, bahkan dalam kondisi yang dianggap sulit oleh banyak orang.
Prestasi atlet catur tunanetra seperti Miftahul Jannah dan Wilma Margaretha Sinaga menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya tentang fisik, tapi juga tentang mental dan kecerdasan. Dengan adanya atlet-atlet seperti mereka, Indonesia semakin percaya diri dalam menembus batas-batas yang sering kali dianggap tidak mungkin.
