Batik Canting Asasi, sebuah usaha batik yang berasal dari Kediri, Jawa Timur, telah mencapai titik puncak kesuksesannya hingga merambah pasar internasional. Dengan inovasi, keunikan, dan komitmen terhadap warisan budaya, Batik Canting Asasi menjadi contoh nyata bagaimana seni tradisional dapat berkembang di tengah tantangan globalisasi.
Batik Canting Asasi tidak hanya sekadar produk kerajinan, tetapi juga representasi dari identitas budaya masyarakat Kediri. Awalnya, usaha ini didirikan oleh Rita Nova Omala, seorang pengusaha UMKM asal Padang Panjang, Sumatera Barat. Meskipun awalnya berada di luar Kediri, konsep dan filosofi Batik Canting Asasi justru terinspirasi dari kebudayaan lokal Kediri. Nama “Asasi” diambil dari Masjid Asasi, salah satu masjid tertua di Kediri, yang menjadi simbol spiritual dan budaya bagi pengrajin.

Proses pembuatan batik Canting Asasi dilakukan secara manual dengan menggunakan teknik tradisional. Pengrajin menggunakan alat bernama “canting” untuk menuliskan malam (lilin batik) ke permukaan kain, membentuk motif yang unik dan indah. Setiap tahapan dalam proses pembuatan batik tulis membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Mulai dari persiapan kain, pencantingan, pewarnaan, hingga pelorodan dan penjemuran, setiap langkah dipertahankan agar hasil akhir memiliki kualitas tinggi.
Keunikan Batik Canting Asasi terletak pada penggunaan bahan alami dan ramah lingkungan. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari limbah seperti kulit jengkol dan biji pinang, sehingga menghasilkan warna yang lembut dan tahan lama. Hal ini tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah pada produk tersebut.

Selain itu, Batik Canting Asasi aktif berpromosi melalui media digital seperti TikTok dan Instagram, serta ikut serta dalam berbagai pameran. Hal ini memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan batik sebagai warisan budaya.
Pengembangan bisnis ini juga tidak lepas dari dukungan pihak-pihak terkait, termasuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melalui Rumah BUMN BRI Padang Panjang. BRI memberikan pelatihan, pendampingan, dan fasilitasi ekspansi pasar, yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan usaha ini.
Saat ini, Batik Canting Asasi telah memiliki berbagai motif yang populer, seperti Asasi, Barara, dan Panen. Motif Asasi menjadi favorit karena menggambarkan nilai budaya dan religi masyarakat setempat. Selain kain batik, sanggar ini juga memproduksi pakaian jadi seperti jaket, blazer, dan setelan resmi yang digunakan oleh berbagai kalangan, termasuk pejabat daerah.
Batik Canting Asasi bukan hanya sekadar usaha kreatif, tetapi juga wadah pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Saat awal berdiri, usaha ini hanya melibatkan empat orang. Kini, jumlah pekerja dan pengrajin telah meningkat menjadi 15 orang, sebagian besar perempuan dan lansia. Proses produksi melibatkan berbagai tahapan, mulai dari melukis, mencap, mewarnai, hingga membuat jambul pada selendang. Bahkan, lansia diberdayakan untuk membuat jambul, sehingga menciptakan ruang partisipasi yang inklusif.
Dengan semangat untuk melestarikan budaya, Batik Canting Asasi terus berkembang dan menciptakan dampak positif baik secara ekonomi maupun sosial. Di tengah era modern, batik tulis tetap relevan sebagai simbol identitas dan warisan budaya Indonesia. Merawat dan melestarikan batik tulis berarti menjaga jejak sejarah, kreativitas, dan kebanggaan bangsa agar tetap hidup untuk generasi mendatang.
Per 18 Desember 2025, Batik Canting Asasi akan menjadi bukti bahwa seni tradisional bisa bersaing di pasar global jika dikelola dengan inovasi, komitmen, dan kerja sama yang kuat.





