KediriNews.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kediri kembali meningkat tajam, sehingga membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mengimbau masyarakat untuk lebih waspada. Peningkatan kasus DBD ini terjadi menjelang musim penghujan yang telah memasuki bulan Desember 2025.

Berdasarkan data terbaru dari Dinkes Kabupaten Kediri, jumlah kasus DBD pada periode Januari hingga Maret 2024 mencatat sebanyak 112 kasus dengan dua pasien meninggal dunia. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama karena musim penghujan yang berlangsung lebih lama dan intensif.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Kediri, Bambang Triyono Putro, menjelaskan bahwa peningkatan kasus DBD tidak lepas dari kondisi cuaca yang memicu berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti. “Di bulan Februari saja, ada sekitar 64 kasus, sementara di Januari sekitar 46 kasus. Sekarang di pertengahan Maret, kita masih melihat 12 kasus baru,” ujarnya.

Menurut Bambang, mayoritas pasien DBD adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Hal ini menunjukkan pentingnya kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Untuk mencegah penyebaran DBD, Dinkes Kabupaten Kediri telah melakukan berbagai upaya pencegahan. Salah satunya adalah memperkuat program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus (menguras, mengubur, menutup) serta membersihkan lingkungan sekitar.

“Pencegahan terbaik adalah dengan melakukan PSN secara rutin. Masyarakat harus tetap menjaga kebersihan lingkungan, terutama di area yang rentan menjadi genangan air,” kata Bambang.

Warga Kediri melakukan pembersihan lingkungan untuk cegah DBD

Selain itu, Dinkes juga telah melakukan koordinasi dengan Pokja Penanggulangan DBD di masing-masing kecamatan. Koordinasi ini bertujuan untuk memastikan respons cepat dan efektif jika terjadi peningkatan kasus DBD.

Retno Handayani, Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Kediri, menyampaikan bahwa saat ini empat pasien dengan gejala virus dengue sedang dirawat di rumah sakit. Meski belum ada laporan kasus positif DBD, ancaman penyakit ini tetap menjadi perhatian serius.

“Perlu diingat bahwa peralihan musim dari kemarau ke penghujan bisa menjadi faktor pemicu merebaknya DBD. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk lebih waspada dan menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Retno.

Petugas Dinkes Kediri melakukan fogging di daerah rawan DBD

Dalam rangka mencegah penyebaran DBD, masyarakat diimbau untuk terus menjalankan kegiatan 3M Plus. Selain itu, pemerintah setempat juga akan segera melakukan pengasapan (fogging) di wilayah-wilayah yang dianggap rawan.

Sementara itu, warga Kediri mulai merasa khawatir atas situasi ini. Banyak keluarga yang memperketat pengawasan terhadap anak-anak mereka dan meningkatkan kebersihan lingkungan rumah.

“Kami sudah mulai membersihkan halaman rumah dan memastikan tidak ada genangan air. Ini cara kami untuk mencegah DBD,” ujar salah satu warga di Kecamatan Kandat.

Dengan peningkatan kasus DBD yang tercatat, Dinkes Kabupaten Kediri berharap masyarakat dapat bekerja sama dalam mencegah penyebaran penyakit ini. Upaya pencegahan bersama sangat penting untuk mengurangi risiko kematian akibat DBD.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *