KediriNews.com – Pada 15 Juli 2025, sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Kota mengikuti kegiatan pembelajaran inovatif yang memperkenalkan robotik sebagai bagian dari kurikulum. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi kini mulai masuk ke dalam sistem pendidikan formal, khususnya di tingkat dasar. Dalam acara tersebut, para siswa diberikan kesempatan untuk merakit dan memprogram robot sederhana menggunakan alat edukatif seperti mBlock dan Codey Rocky. “Ini adalah langkah penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan industri 4.0,” ujar salah satu guru yang turut serta dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan hands-on, di mana siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan teori, tetapi juga langsung mencoba mengoperasikan robot dan membuat program dasar. Mereka diajarkan cara memprogram gerak robot, sensor cahaya, dan suara, hingga simulasi robot penghindar rintangan. Proses belajar ini dilakukan secara interaktif dan kolaboratif, sehingga membangun keterampilan berpikir logis dan pemecahan masalah.
-
Pendekatan Pembelajaran Berbasis Teknologi
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran kini semakin mengarah pada pemanfaatan teknologi. Dengan adanya robotik di sekolah dasar, siswa tidak hanya belajar tentang matematika atau ilmu pengetahuan alam, tetapi juga mengembangkan kemampuan digital. Hal ini selaras dengan kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu Peraturan Menteri Nomor 13 Tahun 2025 yang resmi memasukkan koding dan kecerdasan artifisial (AI) sebagai mata pelajaran pilihan di tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK. -
Perkembangan Kurikulum yang Adaptif
Meskipun kurikulum dasar tetap menggunakan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka, kebijakan terbaru menunjukkan upaya pemerintah untuk memperkuat literasi digital di kalangan siswa. Dengan tambahan materi koding dan AI, peserta didik diharapkan lebih siap menghadapi tantangan global. Sebagai contoh, di SD, mata pelajaran ini akan diajarkan mulai kelas 5 dan 6, sedangkan di SMP dan SMA/SMK dimulai dari kelas 7 hingga 12. -
Dukungan dari Guru dan Sekolah
Selain siswa, guru juga turut serta dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan tersebut, dua guru pendamping memberikan bimbingan dan memastikan setiap siswa dapat memahami konsep dasar robotik. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan, baik dalam kemampuan siswa maupun dalam pemahaman guru. Rata-rata nilai pre-test meningkat dari 42,3 menjadi 78,6 pada post-test, dengan 86% peserta berhasil menyusun kode secara mandiri. -
Tantangan dan Langkah Lanjutan
Meskipun kegiatan ini berjalan lancar, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi. Misalnya, keterbatasan alat seperti hanya tersedianya enam unit robot untuk 32 siswa. Namun, hal ini tidak mengurangi antusiasme siswa dan guru. Untuk mengatasi kendala ini, telah dibentuk Kelompok Robotika Sekolah (KRS) yang akan menjalankan kegiatan rutin setiap minggu. Selain itu, rekomendasi juga diajukan untuk pengembangan modul berjenjang, kemitraan dengan dinas pendidikan, serta penyelenggaraan kompetisi coding tingkat sekolah dasar se-Yogyakarta. -
Kesiapan Infrastruktur dan Pelatihan Guru
Suksesnya implementasi robotik di sekolah dasar sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan pelatihan guru. Diperlukan perangkat lunak, komputer, dan bahan ajar yang sesuai. Selain itu, pelatihan bagi guru menjadi prioritas utama agar mereka mampu mengintegrasikan teknologi ini ke dalam pembelajaran. Dengan dukungan yang optimal, harapan besar terhadap masa depan pendidikan Indonesia bisa tercapai.






