KediriNews.com – Pada 4 Desember 2025, peternak di Kecamatan Kandat mengalami krisis ekonomi akibat anjloknya harga telur ayam. Ratusan peternak memilih untuk mengamuk dan membagikan ribuan telur secara gratis kepada masyarakat setempat sebagai bentuk protes terhadap turunnya harga yang tidak wajar. Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat luas dan memicu diskusi tentang stabilitas harga pangan di daerah.
Menurut laporan dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), rata-rata harga telur ayam di pasar modern mencapai Rp35.010 per kilogram pada Jumat, 5 Desember 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan minggu sebelumnya yang berada di kisaran Rp34.700 per kg. Namun, kondisi ini tidak terasa oleh para peternak di Kandat, karena mereka mengalami penurunan drastis dalam pendapatan akibat harga jual yang sangat rendah.
“Kami hanya bisa menjual telur dengan harga Rp15.000 per kilogram, padahal biaya produksi mencapai Rp25.000 per kilogram,” ujar salah satu peternak, Budi Santoso. “Ini membuat kami rugi besar.”
Penyebab Anjloknya Harga Telur
Beberapa faktor berkontribusi pada anjloknya harga telur di Kecamatan Kandat. Pertama, pasokan telur meningkat tajam karena musim panen yang baik. Kedua, permintaan dari pasar menurun akibat situasi ekonomi yang sulit bagi masyarakat. Ketiga, adanya persaingan ketat antara peternak lokal dengan produk impor yang lebih murah.
Selain itu, ada dugaan bahwa beberapa pihak besar membeli telur dengan harga murah dan kemudian menjualnya kembali dengan harga tinggi. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa ada oknum yang memanipulasi pasar.
Peristiwa Pengamanan dan Pembagian Telur Gratis
Pada 4 Desember 2025, para peternak menggelar aksi damai di depan kantor kecamatan. Mereka menuntut pemerintah daerah untuk segera menangani masalah harga telur. Aksi ini berlangsung tenang, tetapi pihak keamanan tetap siaga.
Setelah beberapa jam berdemo, peternak memutuskan untuk membagikan ribuan telur secara gratis kepada masyarakat. “Kami ingin memberi kesempatan kepada orang-orang untuk merasakan telur segar tanpa harus membayar mahal,” kata Ibu Siti, salah satu peternak wanita.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Peristiwa ini tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga sosial. Banyak warga yang terkesan dengan tindakan para peternak. “Saya merasa terharu melihat mereka membagikan telur gratis. Ini adalah bentuk solidaritas yang langka,” ujar seorang warga, Andi.
Namun, di sisi lain, ada juga keluhan dari pedagang kecil yang merasa terganggu karena banyaknya telur yang dibagikan secara gratis. “Ini bisa merusak pasar tradisional,” komentar seorang pedagang.
Langkah yang Dilakukan Pemerintah Daerah
Setelah peristiwa tersebut, pemerintah daerah segera melakukan pertemuan darurat dengan para peternak dan pemangku kepentingan. Mereka sepakat untuk membentuk tim khusus yang akan memantau harga telur dan menyelesaikan masalah distribusi.
Selain itu, pemerintah juga akan mengadakan pelatihan bagi peternak untuk meningkatkan kualitas telur dan mencari pasar baru yang lebih stabil.
Kesimpulan
Anjloknya harga telur di Kecamatan Kandat menjadi peringatan penting tentang kestabilan harga pangan di Indonesia. Meski angka nasional masih relatif stabil, situasi lokal bisa sangat berbeda. Peristiwa pembagian telur gratis menunjukkan betapa besarnya tekanan yang dialami para peternak. Dengan kolaborasi antara pemerintah, peternak, dan masyarakat, diharapkan dapat ditemukan solusi yang adil dan berkelanjutan.
