KediriNews.com – Pemerintah Kelurahan Banjaran Kecamatan Kota akan melakukan fogging massal pada 9 Desember 2025 untuk menangani penyebaran nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian wabah DBD yang semakin mengkhawatirkan, terutama menjelang musim hujan.
“Fogging adalah salah satu cara efektif untuk membasmi nyamuk dewasa yang menjadi vektor DBD. Kami berharap dengan kegiatan ini dapat mengurangi risiko penularan dan melindungi masyarakat,” ujar Kepala Kelurahan Banjaran, Budi Santoso, dalam pernyataannya.
Penyebab dan Dampak DBD
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini sering berkembang biak di genangan air, termasuk di tempat-tempat yang tidak terlihat sehari-hari seperti botol bekas, bak mandi, atau pot tanaman. Gejala utama DBD mencakup demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri otot, ruam kulit, mual, dan muntah. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini bisa berkembang menjadi sindrom syok dengue yang berisiko mengancam jiwa.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kasus DBD meningkat tajam di berbagai daerah, khususnya di wilayah perkotaan. Di Sumenep, misalnya, tercatat 178 kasus DBD pada Januari 2025, angka yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa DBD masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Upaya Pencegahan dan Pengendalian
Selain fogging, pemerintah setempat juga mengimbau masyarakat untuk aktif melakukan pencegahan secara mandiri. Beberapa langkah penting yang disarankan antara lain:
- Menguras tempat penampungan air secara rutin.
- Menutup wadah-wadah penampungan air agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
- Mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air.
- Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.
- Menggunakan lotion anti-nyamuk dan kelambu saat tidur.
- Melakukan vaksinasi dengue jika memungkinkan.
“Kami juga mengajak seluruh warga untuk ikut serta dalam Gerakan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang, serta menambahkan upaya pencegahan lainnya seperti menggunakan kawat nyamuk dan pakaian berwarna terang,” tambah Budi Santoso.
Tindakan Darurat dan Kesadaran Masyarakat
Pemilihan tanggal 9 Desember 2025 untuk fogging massal didasarkan pada analisis epidemiologi dan kondisi lingkungan setempat. Tim petugas kesehatan akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk memastikan keberhasilan pengendalian nyamuk. Selain itu, warga yang tinggal di sekitar area yang difogging akan diberi informasi agar tetap waspada dan menghindari kontak langsung dengan bahan kimia yang digunakan.
Selain tindakan darurat, kesadaran masyarakat juga menjadi faktor penting dalam pencegahan DBD. Banyak orang masih menganggap nyamuk hanya sebagai gangguan kecil, padahal mereka bisa menyebabkan penyakit berbahaya. “Kita harus sadar bahwa DBD bisa menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Jadi, jangan sampai lalai dalam menjaga kebersihan lingkungan,” pesan Dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A., seorang ahli penyakit anak.
Kesimpulan
Fogging massal di Kelurahan Banjaran Kecamatan Kota pada 9 Desember 2025 merupakan langkah penting dalam upaya mengatasi penyebaran nyamuk Aedes aegypti dan mencegah wabah DBD. Namun, tindakan ini tidak cukup jika tidak diiringi dengan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan warga, diharapkan DBD dapat diminimalisir dan kehidupan masyarakat dapat kembali aman dan nyaman.
