KediriNews.com – Di tengah maraknya bisnis minuman dingin seperti es teh, kini sebuah peristiwa yang mengejutkan terjadi di Kecamatan Pare. Pada 9 Desember 2025, gerobak usaha es teh yang sebelumnya menjadi ikon lokal mulai dilelang dengan harga murah. Sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa tidak semua bisnis es teh bisa bertahan dalam jangka panjang.
“Sebenarnya, bisnis es teh ini awalnya cukup laris. Banyak orang membeli dari gerobak kami setiap hari,” ujar Siti Aminah, pemilik gerobak es teh yang akan dijual. “Tapi seiring berjalannya waktu, permintaan menurun dan biaya operasional meningkat. Akhirnya, kami memutuskan untuk menjualnya.”
Dari data yang dikumpulkan oleh para pengusaha lokal, kebangkitan bisnis es teh di Pare terjadi sejak beberapa tahun silam. Namun, kini, tren ini mulai mengalami penurunan. Penyebab utamanya adalah persaingan yang semakin ketat, serta perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih minuman lain seperti kopi atau minuman berpatisi.
“Es teh memang populer, tapi bukan berarti selalu menguntungkan,” tambah Teguh, salah satu pedagang yang juga mengikuti proses lelang. “Banyak faktor yang memengaruhi, termasuk lokasi, harga, dan strategi pemasaran.”
Strategi Bisnis yang Tidak Sesuai dengan Pasar
Menurut analisis dari beberapa ahli bisnis, kegagalan bisnis es teh di Pare dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, lokasi usaha yang kurang strategis. Meski gerobak es teh berada di area yang ramai, tetapi tidak memiliki daya tarik yang cukup untuk menarik pelanggan.
Kedua, kurangnya inovasi dalam produk. Banyak pengusaha es teh hanya menyediakan varian dasar, tanpa mencoba menawarkan rasa atau konsep baru yang menarik. Hal ini membuat konsumen cepat bosan dan beralih ke pesaing.
“Konsumen sekarang lebih suka minuman yang unik dan sesuai dengan selera mereka,” ujar Rina, seorang manajer pemasaran di salah satu kedai kopi ternama. “Jika bisnis es teh tidak mampu beradaptasi, maka akan sulit bertahan.”
Perubahan Perilaku Konsumen
Selain itu, perubahan perilaku konsumen juga menjadi faktor penting. Menurut survei yang dilakukan oleh Jakpat, generasi Z di Indonesia kini lebih sering mengkonsumsi minuman berpatisi daripada es teh manis. Hal ini memengaruhi permintaan pasar dan membuat bisnis es teh harus berinovasi agar tetap relevan.
Pengusaha es teh yang bangkrut di Pare juga menghadapi tantangan dalam hal biaya operasional. Harga bahan baku seperti gula dan teh yang fluktuatif membuat margin keuntungan semakin sempit. Selain itu, biaya sewa tempat dan tenaga kerja juga meningkat, sehingga membuat bisnis semakin sulit dipertahankan.
“Kami sudah mencoba berbagai cara untuk menarik pelanggan, tapi hasilnya tidak maksimal,” ujar Siti Aminah. “Akhirnya, kami memutuskan untuk menjual gerobak dan berhenti dari bisnis ini.”
Pelajaran yang Diperoleh
Peristiwa ini memberikan pelajaran penting bagi pengusaha kecil. Pertama, pentingnya menyesuaikan diri dengan perubahan pasar. Jika tidak, bisnis bisa saja bangkrut dalam waktu singkat.
Kedua, pentingnya strategi pemasaran yang baik. Pengusaha harus mampu menarik perhatian konsumen melalui inovasi dan promosi yang efektif.
“Jangan hanya mengandalkan kebiasaan konsumen,” kata Teguh. “Kita harus terus belajar dan beradaptasi agar bisnis bisa bertahan.”
Masa Depan Bisnis Es Teh
Meskipun ada kasus bisnis es teh yang bangkrut, tidak berarti bisnis ini tidak menjanjikan. Justru, banyak pengusaha sukses telah membuktikan bahwa es teh bisa menjadi bisnis yang menguntungkan jika dikelola dengan baik.
Menurut data dari Databoks, sebanyak 63% masyarakat Indonesia mengkonsumsi es teh manis setiap minggu. Angka ini menunjukkan bahwa potensi pasar masih sangat besar. Namun, pengusaha harus mampu bersaing dan berinovasi agar bisa bertahan.
[IMAGE: Bisnis Es Teh Bangkrut Gerobak Dijual Murah di Kecamatan Pare]
Bagi calon pengusaha, penting untuk memilih lokasi yang strategis dan memperhatikan kebutuhan konsumen. Jangan hanya mengandalkan popularitas, tetapi juga kualitas dan inovasi.
Dengan demikian, meski ada kasus bisnis es teh yang bangkrut, masih ada peluang bagi pengusaha yang siap berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan pasar.



