KediriNews.com – Pada hari Jumat, 5 Juni 2025, masyarakat Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, dihebohkan oleh fenomena alam yang tak biasa. Sejumlah batu di lereng Gunung Wilis ditemukan mengeluarkan air seperti menangis, memicu berbagai spekulasi dan perhatian dari para ahli geologi maupun warga sekitar. Fenomena ini terjadi di area yang sebelumnya sempat diguncang oleh bencana longsor akibat curah hujan tinggi. “Saya melihat batu itu mengalirkan air seperti menangis, jadi saya langsung mengambil foto untuk dibagikan ke media sosial,” ujar Suryo, salah satu warga setempat.
-
Penemuan Awal dan Reaksi Masyarakat
Fenomena ini pertama kali ditemukan oleh warga setempat saat sedang melakukan aktivitas sehari-hari di kawasan lereng Gunung Wilis. Menurut informasi yang dihimpun, air yang keluar dari batu tersebut tidak berasal dari sumber air alami, melainkan dari dalam batu itu sendiri. Hal ini menimbulkan banyak tanya di kalangan masyarakat. Beberapa dari mereka percaya bahwa fenomena ini merupakan tanda-tanda alam yang aneh atau bahkan mitos. Namun, pihak berwenang dan ilmuwan mulai meneliti lebih lanjut untuk memahami penyebab fenomena tersebut. -
Analisis Ahli Geologi
Ahli geologi dari Universitas Negeri Malang, Dr. Rizal Fauzi, menyampaikan bahwa fenomena ini bisa terjadi karena adanya perubahan tekanan di dalam tanah atau reaksi kimia antara batuan dengan air tanah. “Batu-batuan di wilayah Gunung Wilis memiliki struktur khusus yang bisa menyerap air dan melepaskannya kembali dalam bentuk aliran kecil,” jelasnya. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa fenomena ini belum sepenuhnya dipahami secara ilmiah. “Perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah ini adalah fenomena alami atau ada faktor lain yang memengaruhi.” -
Dampak Terhadap Lingkungan dan Masyarakat
Fenomena ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap lingkungan sekitar. Warga khawatir jika air yang keluar dari batu tersebut mengandung zat-zat berbahaya atau berpotensi memengaruhi kualitas air tanah. “Kami ingin tahu apakah air ini aman untuk dikonsumsi atau tidak,” ujar Ibu Dwi, seorang ibu rumah tangga di Desa Petungroto. Pihak BPBD Kabupaten Kediri telah meminta bantuan dari lembaga riset untuk melakukan pengujian kualitas air yang keluar dari batu tersebut. -
Pembangunan Infrastruktur dan Kesadaran Lingkungan
Selain fenomena alam, wilayah Kecamatan Mojo juga tengah menghadapi tantangan dalam hal pembangunan infrastruktur. Akibat dari bencana longsor yang terjadi pada Mei 2025, beberapa desa mengalami kerusakan parah, termasuk akses jalan dan bangunan rumah. Salah satu solusi yang diusulkan adalah relokasi warga dari daerah rawan bencana. “Relokasi ini penting untuk keselamatan warga. Kami akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan,” kata Hadi Setiawan, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.
- Masa Depan dan Langkah Strategis
Untuk menghadapi potensi bencana susulan, pemerintah setempat bersama dengan organisasi lingkungan sedang merancang strategi jangka panjang. Salah satunya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang mitigasi bencana dan perlindungan lingkungan. “Kita harus belajar dari kejadian ini agar tidak terulang lagi,” ujar Stefanus Joko Sukrisno, Kepala BPBD Kabupaten Kediri. Selain itu, pihaknya juga berencana melakukan pemetaan daerah rawan bencana untuk memperkuat sistem peringatan dini.

Hashtag: #BatMenangis #LerengWilis #KecamatanMojo #BencanaAlam #PemulihanBencana





