PB PASI gelar latihan di Kenya untuk Asian Games 2026
PENGURUS Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) kembali merencanakan pengiriman atlet ke Kenya untuk menjalani pemusatan latihan sebagai bagian dari persiapan menuju Asian Games 2026.
Wakil Ketua Umum PB PASI Tigor Tanjung mengatakan rencana TC ke Kenya sudah masuk dalam agenda pembinaan. Namun, waktu pelaksanaan dan jumlah atlet yang akan dikirim masih dalam pembahasan. “Ya, akan datang. Belum tahu kapan dan berapa orang. Tapi memang sudah diagendakan untuk kita ulangi lagi,” kata Tigor di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
PB PASI membuka kemungkinan mengirimkan atlet dalam jumlah lebih banyak dibandingkan TC sebelumnya yang hanya diikuti dua atlet, Robi Syianturi dan Odekta Naibaho. Menurut Tigor, jumlah atlet yang lebih banyak dibutuhkan agar para atlet memiliki rekan latihan selama menjalani pemusatan latihan.
“Yang lalu kan hanya dua. Sebaiknya memang lebih banyak karena mereka perlu juga teman berlari, sparring partner-nya,” ujarnya.
Tigor menjelaskan waktu pelaksanaan TC ke Kenya akan disesuaikan dengan tahap periodisasi latihan, apakah masuk fase persiapan umum atau persiapan khusus. Asian Games 2026 dijadwalkan berlangsung pada September.
Ia menilai TC di Kenya sangat ideal untuk persiapan umum karena pola latihan di Afrika Timur menitikberatkan pada peningkatan daya tahan. Pengalaman tersebut sebelumnya dirasakan Robi dan Odekta selama menjalani latihan selama tiga bulan. “Banyak sekali porsi ketahanan, endurance. Itu diperlukan untuk masa persiapan umum,” kata Tigor.
Jika digunakan sebagai persiapan umum, Tigor menilai TC ke Kenya idealnya dilaksanakan pada awal tahun. Sementara untuk fase persiapan khusus yang lebih berfokus pada aspek teknik dan strategi, PB PASI masih mempertimbangkan lokasi lain.
Terkait atlet yang akan diproyeksikan tampil pada Asian Games 2026, Tigor memastikan PB PASI belum menetapkan nama-nama yang akan masuk skuad utama. “Beri kami kesempatan untuk persiapan menuju Asian Games. Kita tahu hajatan Asian Games ini akan paling penting tahun 2026,” ujarnya.
Selain persiapan jangka menengah, PB PASI juga menegaskan pentingnya regenerasi atlet setelah SEA Games 2025 Thailand, meskipun cabang atletik menjadi penyumbang medali terbanyak bagi Indonesia.
Tigor mengatakan sebagian medali emas pada SEA Games 2025 masih disumbangkan oleh atlet-atlet senior, sehingga pembinaan jangka panjang harus tetap menjadi fokus utama. “Kita harus tetap mementingkan regenerasi. Kita juga sadar bahwa beberapa medali emas masih diperoleh oleh atlet yang sudah cukup senior,” katanya.
Ia menilai capaian atletik pada SEA Games 2025 terbilang sukses dari sisi perolehan medali, dengan sembilan emas, lima perak, dan enam perunggu. Namun, dari sudut pandang peningkatan prestasi ke level yang lebih tinggi, masih dibutuhkan kerja keras. “Kalau POV-nya kita menyumbang medali emas, kita sukses. Tapi kalau POV-nya kita mau naik ke level berikutnya, kita harus terus berlatih keras,” ujar Tigor.
PB PASI juga akan memberi perhatian khusus pada nomor-nomor yang memiliki peluang bersaing di Asian Games, guna meningkatkan daya saing atlet Indonesia di tingkat Asia. Sejumlah agenda kejuaraan internasional telah disiapkan sepanjang tahun ini sebagai bagian dari proses pembinaan dan regenerasi.
Pada Februari, atlet Indonesia dijadwalkan mengikuti Kejuaraan Asian Indoor di Tianjin, China, serta Kejuaraan Asian Cross Country di Jepang. Selain itu, PB PASI akan mengirim atlet ke Kejuaraan Asia U-20 di Hongkong pada Mei, Kejuaraan Asia U-23 di Ordos, China, dan Kejuaraan Asia Jalan Cepat di Jepang.
PB PASI berharap rangkaian kompetisi tersebut dapat mendukung proses regenerasi sekaligus meningkatkan kualitas atlet nasional menuju ajang internasional yang lebih tinggi. “Kami juga memperhatikan pengiriman atlet ke kejuaraan-kejuaraan terbuka di kawasan, seperti Singapura Open, Thailand Open, dan Malaysia Open. Ini penting untuk memberikan pengalaman bertanding bagi atlet-atlet muda,” kata Tigor.