KediriNews.com – Pada 10 Desember 2025, berita viral tentang “tokek raksasa” yang menyebar di media sosial dan grup percakapan membuat masyarakat heboh. Dikabarkan bahwa hewan tersebut memiliki ukuran lebih dari satu meter dan dijual dengan harga miliaran rupiah. Namun, setelah investigasi lebih lanjut, ternyata kabar tersebut adalah hoaks. Berikut ini adalah penjelasan lengkap mengenai peristiwa ini.
Tokek Raksasa: Apa Benar Ada?
Tokek, secara umum, adalah hewan reptil kecil yang hidup di daerah tropis, termasuk Indonesia. Ukuran maksimalnya hanya sekitar 35 cm. Namun, dalam kasus ini, banyak orang mengira ada tokek raksasa yang ditemukan di Kecamatan Pagu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa hewan itu terlihat sangat besar dan memiliki suara nyaring yang menyerupai bunyi mesin atau benda logam.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan oleh ahli biologi dan petugas lingkungan, ditemukan bahwa hewan tersebut bukanlah tokek asli. “Ini adalah biawak yang dipakaikan baju layaknya tokek,” ujar salah satu ahli herpetologi yang memeriksa hewan tersebut. “Bentuknya memang mirip, tetapi ukurannya jauh lebih kecil.”
Kecamatan Pagu dan Situasi Lingkungan

Meskipun tidak ada kaitan langsung antara tokek raksasa dan banjir, kecamatan Pagu memang sering terkena dampak cuaca ekstrem. Pada beberapa tahun terakhir, wilayah ini sering dilanda banjir akibat curah hujan tinggi dan aliran sungai yang meluap. Contohnya, pada 2021, banjir di Solok Selatan menenggelamkan ratusan rumah, termasuk di Kecamatan Pagu.
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok Selatan, banjir di Kecamatan Pagu terjadi akibat luapan Sungai Batang Suliti dan Batang Pangian. Air mencapai ketinggian 50-100 sentimeter dan menggenangi 28 rumah di Nagari Pasir Talang Selatan. Warga mengaku masih kesulitan membersihkan rumah mereka setelah air surut.
Peran Media Sosial dalam Penyebaran Hoaks

Media sosial menjadi salah satu penyebab utama penyebaran informasi yang tidak akurat. Dalam kasus tokek raksasa, banyak pengguna platform seperti WhatsApp dan Instagram membagikan foto dan video yang tidak jelas asalnya. Beberapa bahkan menyebutkan bahwa hewan itu bisa dijual dengan harga miliaran rupiah.
Menurut Ahli Komunikasi Digital, Dr. Andi Saputra, “Hoaks sering muncul karena kurangnya literasi digital. Banyak orang mudah percaya informasi yang disampaikan tanpa verifikasi.”
Langkah Pencegahan dan Edukasi Masyarakat
-
Verifikasi Informasi Sebelum Disebarkan
Masyarakat diminta untuk selalu memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Jika ada kabar tentang hewan langka atau fenomena aneh, cari sumber resmi seperti instansi pemerintah atau lembaga penelitian. -
Meningkatkan Literasi Digital
Pemerintah dan organisasi masyarakat perlu memberikan edukasi tentang cara mengenali hoaks dan memahami manfaat serta risiko media sosial. -
Kolaborasi dengan Tokoh Lokal
Tokoh agama, tokoh adat, dan pemuka masyarakat dapat berperan sebagai mediator dalam menyebarkan informasi yang benar dan menjaga stabilitas sosial.
Kesimpulan
Peristiwa “tokek raksasa” yang viral di Kecamatan Pagu pada 10 Desember 2025 adalah contoh nyata bagaimana hoaks dapat menyebar cepat di era digital. Meski awalnya menimbulkan kehebohan, penelitian dan verifikasi membuktikan bahwa informasi tersebut tidak benar. Untuk menghindari penyebaran informasi palsu, masyarakat perlu meningkatkan kritis dan literasi digital.





