Ringkasan Berita:
- Tesla kehilangan posisi penjual kendaraan listrik terbesar dunia setelah BYD China menjual 2,26 juta unit di 2025, sementara Tesla hanya 1,64 juta unit.
- Penurunan 9 persen penjualan Tesla dipicu oleh berakhirnya kredit pajak kendaraan listrik AS, kontroversi politik Elon Musk, dan meningkatnya persaingan mobil listrik China yang lebih murah.
- Meski tersingkir, Tesla tetap optimis dengan peluncuran Model Y & Model 3 yang lebih terjangkau, pengembangan taksi robot tanpa pengemudi.
– Produsen mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla resmi kehilangan posisinya sebagai penjual kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terbesar di dunia setelah disalip produsen asal China, BYD.
Pergeseran ini menandai perubahan besar dalam peta persaingan industri kendaraan listrik global yang kian kompetitif.
Dalam laporan penjualan yang dikutip dari Al Jazeera, Tesla mencatat penjualan 1,64 juta unit kendaraan sepanjang 2025. Angka tersebut turun sekitar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebaliknya, BYD membukukan penjualan jauh lebih tinggi dengan total 2,26 juta unit, mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin baru pasar kendaraan listrik dunia.
Dominasi BYD menandai perubahan signifikan di pasar global, tetapi penjualan Tesla tetap menunjukkan bahwa perusahaan masih memiliki daya tarik kuat dan pangsa pasar signifikan di tengah persaingan yang semakin sengit.
Faktor Politik Elon Musk Picu Kontroversi
Tesla, yang didirikan pada 2003, selama bertahun-tahun menjadi simbol dominasi kendaraan listrik global, bahkan mampu melampaui produsen otomotif konvensional.
Namun, lanskap pasar kini berubah cepat, terutama dengan melonjaknya industri kendaraan listrik di China yang didukung skala produksi besar, harga kompetitif, dan inovasi agresif.
Masuknya lebih banyak pemain, khususnya dari China, membuat persaingan semakin ketat di pasar Eropa dan Asia, wilayah yang sebelumnya menjadi ladang pertumbuhan Tesla.
Selain tekanan pasar, Tesla juga menghadapi dampak dari manuver politik CEO-nya, Elon Musk.
Dukungan terbuka Musk terhadap Presiden AS Donald Trump pada 2024, serta perannya memimpin panel kontroversial Department of Government Efficiency (DOGE), memicu gelombang kritik publik.
Keterlibatan Musk dalam kebijakan yang berujung pada pemutusan hubungan kerja massal pegawai federal memicu protes di sejumlah fasilitas Tesla dan disebut-sebut turut memengaruhi sentimen konsumen, terutama di Amerika Serikat dan Eropa.
Tekanan tersebut tercermin pada kinerja kuartal keempat 2025. Tesla hanya mampu menjual 418.227 unit, jauh di bawah ekspektasi analis yang memperkirakan penjualan sekitar 440.000 unit, berdasarkan survei lembaga riset investasi FactSet.
Musk akhirnya meninggalkan perannya di DOGE pada Mei 2025, langkah yang secara luas dipandang sebagai upaya meredakan kekhawatiran investor dan mengembalikan fokus pada bisnis inti Tesla.
Namun langkah tersebut nyatanya tak mendongkrak penjualan Tesla, justru penjualan mobil listrik ini kembali anjlok usai berakhirnya kredit pajak kendaraan listrik senilai 7.500 dolar AS yang dihapus secara bertahap oleh pemerintahan Trump hingga akhir September 2025.
Meski kinerja penjualan melemah, pasar keuangan masih menunjukkan kepercayaan terhadap masa depan Tesla.
Saham perusahaan tercatat menguat sekitar 11 persen sepanjang 2025, mencerminkan optimisme investor terhadap visi jangka panjang Musk.
Tesla tengah menggenjot pengembangan taksi robot tanpa pengemudi (robotaxi) dan robot humanoid untuk kebutuhan rumah tangga, yang disebut-sebut akan menjadi sumber pertumbuhan baru perusahaan.
Untuk menghadapi tekanan dari produsen China, Tesla juga meluncurkan dua model kendaraan listrik yang lebih terjangkau, yakni Model Y dan Model 3, guna bersaing dengan mobil listrik buatan China yang lebih murah di pasar global.
Namun, tantangan regulasi masih membayangi. Tesla berisiko kehilangan izin sementara penjualan kendaraan di California, setelah seorang hakim memutuskan perusahaan tersebut telah menyesatkan konsumen terkait klaim keamanan teknologi taksi tanpa pengemudi.
Elon Musk Tetap di Puncak Kekayaan Dunia
Di tengah gejolak bisnis Tesla, Elon Musk memasuki 2026 sebagai orang terkaya di dunia. Rencana penawaran umum saham (IPO) SpaceX yang dijadwalkan akhir tahun ini bahkan disebut-sebut berpotensi menjadikannya triliuner pertama di dunia.
Pada November lalu, dewan direksi Tesla juga menyetujui paket gaji bersejarah yang berpotensi mencapai hampir 1 triliun dolar AS, jika target kinerja ambisius terpenuhi.
Musk sebelumnya juga memenangkan sengketa hukum senilai 55 miliar dolar AS setelah Mahkamah Agung Delaware membatalkan putusan pengadilan yang lebih rendah.
(/ Namira)





