KediriNews.com – Di tengah meningkatnya permintaan telur ayam, peternak di Kecamatan Kandat, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, kewalahan memenuhi permintaan pasar. Hal ini terjadi menjelang perayaan 5 April 2025 yang diprediksi akan menjadi momen penting bagi para konsumen. “Permintaan naik tajam, hampir dua kali lipat dari biasanya,” ujar salah satu peternak, Budi Suryadi, kepada media lokal.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga telur ayam mengalami fluktuasi akibat berbagai faktor seperti kenaikan biaya produksi dan permintaan yang meningkat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada komoditas telur ayam ras mencapai 4,43% pada Oktober 2025, yang menunjukkan tekanan signifikan terhadap pasokan dan harga.
“Kami sudah memperluas area ternak, tetapi tetap saja tidak cukup untuk memenuhi permintaan. Bahkan, kami harus memesan telur dari peternak lain di luar daerah,” tambah Budi.
Penyebab Kenaikan Harga Telur Ayam
Salah satu faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga telur ayam adalah peningkatan permintaan dari program makan bergizi gratis (MBG) yang dicanangkan oleh pemerintah. Program ini telah memengaruhi permintaan pasar secara signifikan, terutama di wilayah-wilayah dengan populasi besar seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Selain itu, kenaikan harga pakan ternak juga turut memengaruhi biaya produksi. Harga jagung, bahan pakan utama untuk ayam, mengalami kenaikan seiring dengan fluktuasi musim dan permintaan global. Hal ini membuat biaya produksi meningkat, sehingga harga telur ayam ikut melonjak.
“Pakan ayam naik hampir 30% dalam setahun terakhir. Ini sangat membebani kami,” keluh Ibu Siti, peternak lain di Kecamatan Kandat.
Tantangan Peternak dalam Menghadapi Permintaan Tinggi
Peternak di Kecamatan Kandat menghadapi tantangan besar dalam memenuhi permintaan pasar yang meningkat. Salah satu masalah utama adalah keterbatasan lahan dan infrastruktur. Meski beberapa peternak mulai beralih ke sistem bebas kandang, hal ini memerlukan investasi besar dan pengelolaan yang lebih rumit.
“Kami ingin beralih ke sistem bebas kandang, tapi biayanya sangat tinggi. Kami butuh dukungan finansial atau pelatihan untuk bisa melakukan transisi ini,” ujar Budi.
Menurut survei yang dilakukan oleh lembaga riset, sebagian besar peternak di Asia masih menggunakan kandang baterai karena alasan ekonomi. Namun, komitmen perusahaan multinasional untuk hanya menerima pasokan telur bebas kandang per 2025 memaksa peternak untuk segera beradaptasi.
Dukungan yang Dibutuhkan Peternak
Untuk membantu peternak menghadapi tantangan ini, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga riset, dan organisasi perlindungan hewan. Salah satu inisiatif yang sudah dilakukan adalah pembentukan Cage-Free Innovation and Welfare Hub di Yogyakarta, yang memberikan pelatihan dan sumber daya bagi peternak.
Selain itu, peningkatan kesadaran konsumen tentang pentingnya telur bebas kandang juga sangat diperlukan. Dengan semakin banyaknya konsumen yang peduli terhadap kesejahteraan hewan, permintaan terhadap telur bebas kandang diharapkan akan meningkat.
Solusi yang Dapat Dilakukan
- Peningkatan Kapasitas Produksi: Peternak perlu memperluas areal ternak dan meningkatkan efisiensi produksi.
- Pelatihan dan Edukasi: Dukungan dari pemerintah dan lembaga riset dalam bentuk pelatihan teknis dan manajemen.
- Pembiayaan yang Lebih Mudah: Penyediaan modal usaha atau kredit usaha rakyat untuk mendukung peralihan ke sistem bebas kandang.
- Koordinasi dengan Perusahaan Makanan: Kerja sama antara peternak dan perusahaan makanan untuk memastikan ketersediaan telur bebas kandang.
Kesimpulan
Di tengah situasi kenaikan harga dan permintaan yang tinggi, peternak di Kecamatan Kandat menghadapi tantangan besar. Namun, dengan dukungan yang tepat dan kolaborasi antara berbagai pihak, mereka dapat beradaptasi dan tetap bertahan di pasar yang semakin kompetitif. Harapan besar ditempatkan pada upaya-upaya yang dilakukan untuk memenuhi standar kesejahteraan hewan dan memenuhi harapan konsumen.




