KediriNews.com – Sungai Brantas, yang menjadi salah satu sungai terpenting di Jawa Timur, kembali menunjukkan tanda-tanda meluap pada 2 Januari 2025. Kejadian ini memicu kekhawatiran bagi warga bantaran sungai, khususnya di wilayah Kecamatan Kota. Pihak berwenang dan masyarakat setempat segera mengambil langkah antisipatif untuk menghadapi potensi banjir yang bisa terjadi.
“Sejak beberapa hari terakhir, debit air sungai Brantas meningkat drastis. Kami telah melakukan pemantauan intensif dan memberikan peringatan dini kepada warga,” ujar salah satu petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Peringatan dini tersebut tidak hanya datang dari BPBD, tetapi juga dari sistem Early Warning System (EWS) yang dipasang di beberapa titik strategis. Salah satunya adalah di Kampung Warna-Warni (KWW) Jodipan, Kota Malang, yang sempat berbunyi karena kenaikan debit air. Meski saat ini belum ada laporan bahwa air telah menjangkau permukiman warga, situasi tetap diawasi ketat.
Menurut data dari Perum Jasa Tirta I, pengelola Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, debit air sungai pernah mencapai angka tertinggi pada 26 Desember 2007 dengan 1.582 meter kubik per detik. Saat ini, meskipun belum sampai pada level tersebut, peningkatan debit air tetap menjadi perhatian serius.
Faktor Penyebab Meluapnya Sungai Brantas
Beberapa faktor dapat menyebabkan sungai Brantas meluap. Pertama, curah hujan yang tinggi di daerah hulu, seperti Malang dan Kediri, dapat meningkatkan volume air yang mengalir ke hilir. Kedua, adanya sedimentasi dan tumpukan enceng gondok di alur sungai, yang dapat menghambat aliran air. Ketiga, pembangunan infrastruktur yang kurang memperhatikan fungsi sungai sebagai saluran alami.
Di Kecamatan Kota, khususnya, banyak warga tinggal di bantaran sungai. Mereka terbiasa hidup di dekat sungai, namun saat debit air meningkat, mereka harus siaga. “Kami selalu waspada, terutama saat musim hujan. Kali ini lebih parah dibanding tahun lalu,” kata salah satu warga setempat.
Upaya Mitigasi dan Pencegahan Banjir
Pemerintah setempat dan instansi terkait telah melakukan berbagai upaya mitigasi banjir. Salah satunya adalah pengerukan sungai dan pembersihan enceng gondok. Di Kota Surabaya, misalnya, Wali Kota Eri Cahyadi telah menginisiasi pembangunan box culvert untuk menampung air sementara sebelum masuk ke sungai besar.
“Box culvert ini akan membantu mengurangi risiko banjir di wilayah hilir. Selain itu, kami juga melakukan pemetaan wilayah yang paling rentan terkena dampak banjir,” jelas Eri Cahyadi.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat sangat penting dalam mengatasi masalah banjir. BBWS Brantas telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk normalisasi sungai dan pencegahan pembangunan liar di sekitar alur sungai.
Kesiapan Warga Menghadapi Banjir
Warga bantaran sungai di Kecamatan Kota telah menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan banjir. Beberapa keluarga memindahkan barang berharga ke tempat yang lebih aman, sedangkan yang lain menjaga kebersihan lingkungan agar tidak memperparah kondisi.
“Kami sudah biasa menghadapi banjir, tapi kali ini lebih waspada. Kami harap tidak sampai terjadi banjir besar,” ujar seorang ibu rumah tangga yang tinggal di bantaran sungai.
Tidak hanya warga, para petugas BPBD juga telah bersiaga di lokasi-lokasi strategis. Mereka siap memberikan bantuan darurat jika diperlukan. Selain itu, informasi tentang cuaca dan kondisi sungai terus diberikan melalui media sosial dan pengeras suara.
Kesimpulan
Banjir merupakan ancaman nyata bagi warga yang tinggal di bantaran sungai, termasuk di Kecamatan Kota. Meskipun belum terjadi banjir besar, kejadian meluapnya Sungai Brantas pada 2 Januari 2025 menjadi peringatan bagi semua pihak untuk tetap waspada. Dengan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait, diharapkan risiko banjir dapat diminimalisir.
Pemantauan terus dilakukan, dan langkah-langkah pencegahan seperti pengerukan sungai, pembersihan enceng gondok, serta pembangunan infrastruktur penanggulangan banjir akan terus dilanjutkan. Semoga dengan upaya ini, masyarakat dapat hidup lebih aman dan nyaman di tengah ancaman banjir yang tak pernah benar-benar hilang.





