KediriNews.com – Masyarakat Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, akan kembali menggelar ritual besar-besaran yang dikenal sebagai “Ruwatan Masal” pada hari Minggu, 7 Desember 2025. Ritual ini bertujuan untuk membuang sial dan membersihkan energi negatif yang dianggap mengganggu kehidupan masyarakat. Prosesi ruwatan ini merupakan bagian dari tradisi turun-temurun yang terus dilestarikan oleh warga setempat.
Ruwatan dalam konteks kejawen memiliki makna “melepaskan kesialan” atau “membuang sial”. Dalam praktiknya, ritual ini sering dilakukan melalui berbagai cara seperti pemotongan rambut, pembacaan doa, atau bahkan pertunjukan wayang kulit. Namun, di Kecamatan Ngasem, ritual ini digelar dalam bentuk yang lebih masif dan kolaboratif. Menurut salah satu tokoh masyarakat, “Ruwatan Masal” bukan hanya sekadar upacara ritual, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dan pengikatan komunitas.
“Prosesi ini biasanya dilakukan di tempat-tempat yang dianggap sakral, seperti sungai, hutan, atau area persawahan. Tujuannya adalah untuk menyucikan diri dan merapalkan doa agar hidup lebih lancar,” ujar Budi, salah satu penduduk setempat. Ia menambahkan bahwa ritual ini tidak hanya dilakukan oleh individu, tetapi juga secara bersama-sama oleh seluruh warga desa.
-
Tradisi Turun-Temurun
Ritual Ruwatan Masal di Kecamatan Ngasem sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Masyarakat percaya bahwa dengan melakukan ritual ini, mereka dapat melepaskan kesialan yang menimpa keluarga maupun lingkungan sekitar. Prosesi ini sering kali diiringi oleh musik tradisional dan tarian-tarian yang membawa nuansa mistis dan spiritual. -
Tujuan Utama Ritual
Tujuan utama dari Ruwatan Masal adalah untuk membersihkan energi negatif dan menjaga keseimbangan alam. Dalam mitos lokal, ada konsep tentang “sukerto”, yaitu orang-orang yang dianggap rentan terkena nasib buruk. Oleh karena itu, ritual ini juga dianggap sebagai cara untuk melindungi diri dari gangguan batin dan kesialan. -
Cara Pelaksanaan
Prosesi Ruwatan Masal biasanya dimulai dengan doa-doa khusus yang dibacakan oleh para tokoh agama atau sesepuh. Selanjutnya, warga akan berkumpul di lokasi ritual dan melakukan berbagai simbol-simbol seperti melemparkan benda-benda tertentu ke arah yang dianggap suci. Beberapa ritual juga melibatkan pembagian makanan atau minuman khas daerah sebagai bentuk sedekah.
Pada acara tahun lalu, ribuan warga hadir dan ikut serta dalam prosesi tersebut. Bahkan, beberapa dari mereka datang dari luar daerah untuk mengikuti ritual ini. “Saya datang ke sini karena mendengar bahwa ritual ini bisa memberikan perlindungan dan keberuntungan bagi keluarga saya,” kata Siti, seorang peserta dari Desa Paron.
-
Peran Tokoh Agama dan Budaya
Tokoh agama dan budaya memainkan peran penting dalam pelaksanaan Ruwatan Masal. Mereka tidak hanya membacakan doa, tetapi juga memberikan penjelasan tentang makna ritual tersebut. Dengan demikian, masyarakat bisa memahami arti dan tujuan dari prosesi ini secara lebih mendalam. -
Dampak Sosial dan Ekonomi
Selain sebagai ritual spiritual, Ruwatan Masal juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Banyak pengusaha lokal yang memanfaatkan momen ini untuk menjual makanan, minuman, atau barang kerajinan khas daerah. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang promosi wisata budaya yang menarik minat wisatawan.
Menurut Camat Ngasem, Ari Budianto, acara ini sangat penting untuk menjaga identitas budaya lokal. “Kami berharap, dengan adanya Ruwatan Masal, masyarakat tetap memegang nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal,” katanya.

Selain itu, acara ini juga menjadi ajang edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga kebudayaan dan tradisi. “Anak-anak kita diajarkan untuk memahami makna ritual ini, sehingga mereka bisa meneruskannya di masa depan,” tambah Ari.
-
Kesiapan dan Persiapan Acara
Tahun ini, panitia penyelenggara telah melakukan persiapan yang matang. Mulai dari pengamanan lokasi hingga penyediaan fasilitas umum. Beberapa titik lokasi ritual juga dipersiapkan dengan penandaan khusus agar tidak terjadi kebingungan selama acara berlangsung. -
Harapan Masyarakat
Masyarakat berharap bahwa Ruwatan Masal 2025 dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang maksimal. “Semoga dengan ritual ini, kesialan yang selama ini menimpa kami bisa hilang, dan kehidupan kami menjadi lebih baik,” harap Rina, warga Desa Ploso.

Akhirnya, Ruwatan Masal di SLG Kecamatan Ngasem bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan spiritual masyarakat. Dengan mengikuti tradisi ini, warga berharap bisa menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.





