KediriNews.com – Di tengah kisah sukses petani porang di Kabupaten Bulukumba yang mengalami kenaikan harga hingga Rp10.000 per kilogram, situasi berbeda terjadi di Kecamatan Mojo. Pada 1 Desember 2025, sejumlah petani porang di wilayah tersebut memilih untuk membiarkan tanaman mereka busuk karena tidak ada peminat pasar. Hal ini menjadi sorotan mengingat porang dulu sempat menjadi komoditas unggulan dengan potensi ekonomi yang besar.
Sejak beberapa bulan terakhir, permintaan porang di pasar lokal dan ekspor mengalami penurunan tajam. Menurut informasi dari para petani, harga jual porang turun drastis, bahkan bisa mencapai separuh dari harga sebelumnya. “Sudah hampir tiga bulan ini porang kami tidak laku. Kami coba jual ke tengkulak, tapi harga sangat murah. Akhirnya, kami memutuskan untuk membiarkan tanaman itu rusak,” ujar Suryadi, salah satu petani porang di Kecamatan Mojo.
- Penyebab Penurunan Permintaan
Beberapa faktor menyebabkan penurunan permintaan porang di wilayah ini. Pertama, adanya persaingan dari produk serupa yang berasal dari daerah lain. Kedua, ketidakstabilan harga pasar akibat fluktuasi ekonomi nasional. Ketiga, kurangnya promosi dan edukasi tentang manfaat porang kepada masyarakat luas.
Menurut Pak Dedi, seorang pengamat pertanian di Mojo, penurunan permintaan ini juga dipengaruhi oleh perubahan pola konsumsi masyarakat. “Banyak orang beralih ke bahan alternatif seperti tepung sagu atau jagung. Ini membuat porang kehilangan daya tarik di pasar,” katanya.
- Dampak pada Petani
Dampak dari situasi ini sangat terasa bagi para petani. Banyak dari mereka harus menanggung kerugian besar karena investasi yang telah dikeluarkan tidak mendapatkan hasil yang maksimal. “Kami sudah menanam porang selama tiga tahun, tetapi sekarang hasilnya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” keluh Suryadi.
Selain itu, kondisi tanaman yang busuk juga berpotensi menyebar ke lahan-lahan lain jika tidak segera ditangani. Hal ini dapat mengancam keberlanjutan budidaya porang di wilayah tersebut.
- Upaya Pemerintah dan Masyarakat
Meski situasi ini cukup mengkhawatirkan, beberapa upaya sedang dilakukan untuk memulihkan kondisi pasar porang. Pemerintah setempat sedang berdiskusi dengan para petani untuk mencari solusi jangka panjang. Salah satunya adalah melalui program pelatihan dan pemasaran yang lebih efektif.
“Kami sedang mencari mitra yang bisa membantu memasarkan porang secara lebih luas. Jika kita bisa menemukan pasar baru, maka harga akan kembali stabil,” ujar Kepala Desa Mojo.
Di sisi lain, masyarakat setempat juga mulai berinisiatif untuk mengembangkan produk olahan dari porang. Misalnya, pembuatan tepung porang, minuman herbal, atau kosmetik alami. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dari porang dan memberikan alternatif pemasaran yang lebih baik.
-
Masa Depan Porang di Mojo
Meski saat ini porang menghadapi tantangan, masa depannya masih terbuka. Dengan strategi yang tepat, porang bisa kembali menjadi komoditas yang diminati. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain: -
Memperluas pasar dengan memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce.
- Meningkatkan kualitas produksi melalui pelatihan dan teknologi pertanian modern.
- Mengembangkan produk olahan dari porang untuk menarik konsumen baru.
Pengembangan ini tidak hanya akan membantu para petani, tetapi juga berkontribusi pada perekonomian daerah secara keseluruhan.
- Harapan untuk Masa Depan
Para petani porang di Kecamatan Mojo berharap bahwa situasi ini tidak akan berlangsung lama. “Kami percaya bahwa porang memiliki potensi besar. Hanya saja, kami butuh dukungan dan arahan yang jelas agar bisa kembali bangkit,” ujar Suryadi.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, harapan besar dapat diwujudkan. Porang bukan hanya sekadar tanaman umbi, tetapi juga aset penting yang bisa memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani dan daerah.





