KediriNews.com – Peristiwa pembegalan yang terjadi di Jalan Baru Bandara, Kecamatan Tarokan, pada 8 Desember 2025, menggemparkan masyarakat setempat. Seorang korban dilaporkan diancam dengan senjata tajam berupa celurit oleh pelaku yang belum diketahui identitasnya. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga dan memicu permintaan peningkatan pengawasan di kawasan tersebut.
“Kami sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kejadian ini. Kami juga akan memperkuat keamanan di sekitar jalan baru yang baru saja dibuka,” ujar Kepala Polsek Tarokan, Aiptu Suryadi, dalam pernyataannya kepada media lokal.
Peristiwa ini terjadi di lokasi yang relatif sepi, meskipun akses menuju Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin telah resmi dibuka pada 2024. Jalan ini menjadi jalur alternatif yang digunakan oleh pengemudi untuk menghindari kemacetan lalu lintas di area utama. Namun, kondisi jalan yang masih dalam proses pengembangan membuatnya rentan terhadap tindakan kriminal.
Menurut sumber dari pihak kepolisian, korban adalah seorang pengemudi mobil yang sedang melintasi jalan tersebut saat malam hari. Pelaku diduga mengancam korban dengan celurit setelah memaksa kendaraan itu berhenti. Meski tidak ada luka serius yang dilaporkan, kejadian ini meningkatkan ketegangan di lingkungan sekitar.
-
Sejarah Celurit dalam Budaya Madura
Celurit adalah senjata tradisional yang memiliki peran penting dalam budaya Madura. Awal mula munculnya celurit di wilayah ini tercatat pada abad ke-18, terkait dengan tokoh bernama Sakera yang awalnya bekerja sebagai mandor pabrik tebu milik Belanda. Senjata ini kemudian berkembang menjadi alat pertanian dan juga digunakan dalam seni bela diri Pencak Silat serta gaya duel Carok. -
Peran Celurit dalam Masyarakat Madura
Celurit bukan hanya senjata, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Madura. Ia digunakan dalam pekerjaan pertanian seperti mencocok tanam atau memotong cabang pohon. Selain itu, celurit juga memiliki makna spiritual, di mana masyarakat Madura percaya bahwa senjata ini bisa dilengkapi dengan “khodam” melalui doa tertentu. -
Konteks Pembegalan di Jalan Baru Bandara
Meskipun celurit secara tradisional digunakan untuk tujuan pertanian dan kebudayaan, kejadian di Jalan Baru Bandara menunjukkan bahwa senjata ini juga bisa menjadi alat kekerasan jika disalahgunakan. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman masyarakat tentang keamanan dan penggunaan alat-alat tradisional secara bertanggung jawab.
Pihak kepolisian menyarankan masyarakat agar lebih waspada saat melintasi jalan-jalan yang masih dalam proses pengembangan. Selain itu, mereka juga mengimbau agar pengemudi membawa perlengkapan keselamatan seperti GPS dan alat komunikasi darurat. Dalam waktu dekat, pihak berwenang juga akan melakukan patroli rutin di sekitar area tersebut.
Selain itu, pemerintah daerah sedang mempertimbangkan penambahan fasilitas seperti lampu lalu lintas dan pengawasan CCTV di sepanjang jalan baru tersebut. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi risiko kejahatan di kawasan tersebut.
Kejadian pembegalan di Jalan Baru Bandara menjadi peringatan bagi masyarakat bahwa keamanan harus selalu dijaga, terlepas dari seberapa baik infrastruktur yang tersedia. Dengan kolaborasi antara pihak kepolisian, pemerintah, dan masyarakat, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi semua pengguna jalan.
