KediriNews.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kota akan melakukan pengambilan sampel air sungai di wilayah kecamatan setempat pada 1 Desember 2025. Langkah ini merupakan bagian dari upaya rutin pemantauan kualitas air yang dilakukan untuk memastikan kondisi lingkungan tetap terjaga dan layak bagi masyarakat.
“Pengambilan sampel ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu air sungai secara berkala, sehingga bisa dijadikan dasar dalam mengambil kebijakan terkait perlindungan lingkungan,” ujar Kepala DLH Kabupaten Kota, Budi Santoso, saat konferensi pers di kantor DLH, Senin (30/11/2025). Ia menambahkan bahwa data yang diperoleh akan menjadi bahan evaluasi dalam perencanaan program peningkatan kualitas air di masa depan.
- Proses Pengambilan Sampel
- Pengambilan sampel dilakukan di beberapa titik sungai yang dianggap strategis.
- Teknik pengambilan sampel menggunakan alat standar sesuai protokol laboratorium.
-
Sampel akan dianalisis di laboratorium DLH untuk mengetahui kadar parameter seperti pH, DO (Dissolved Oxygen), BOD (Biochemical Oxygen Demand), dan kontaminan lainnya.
-
Tujuan Pemantauan
- Mencegah pencemaran air yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
- Memastikan air sungai memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
-
Memberikan data akurat untuk mendukung kebijakan lingkungan yang lebih efektif.
-
Keterlibatan Masyarakat
- DLH juga melibatkan masyarakat sekitar sungai dalam proses pemantauan.
- Komunitas peduli lingkungan akan diberi pelatihan dasar tentang cara mengidentifikasi kualitas air.
- Harapan besar diarahkan agar masyarakat aktif menjaga kebersihan sungai dan tidak membuang limbah sembarangan.
“Kami harap masyarakat dapat bekerja sama dengan kami dalam menjaga kebersihan sungai. Kualitas air adalah tanggung jawab bersama,” tambah Budi Santoso.
Kondisi Air Saat Ini
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sebagian besar sungai di Indonesia masih mengalami pencemaran ringan. Namun, terdapat peningkatan kualitas air di 1.066 sungai pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemantauan dan pengendalian pencemaran mulai menunjukkan hasil positif.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani, menyampaikan bahwa sistem data pemantauan kualitas air sangat penting dalam mengambil langkah-langkah pengendalian pencemaran. “Sistem data ini akan memudahkan kita dalam merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran,” katanya.
Namun, ia juga menyebut bahwa ada banyak sungai yang mengalami penurunan kualitas. “Ini menjadi tantangan besar yang harus kita hadapi bersama,” ujarnya.
![]()
Tantangan dan Solusi
Meski ada peningkatan kualitas air di sejumlah sungai, kondisi lingkungan tetap menghadapi berbagai tantangan. Salah satu isu utama adalah peningkatan polusi dari aktivitas industri dan rumah tangga. Selain itu, perubahan iklim juga berdampak pada ketersediaan air dan kualitasnya.
Untuk menghadapi tantangan ini, KLH dan DLH berkomitmen untuk terus meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak. Salah satu strategi yang diterapkan adalah pengelolaan sungai berbasis masyarakat. “Kami percaya bahwa partisipasi masyarakat sangat penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujar Rasio Ridho Sani.
Selain itu, KLH juga sedang memperkuat komunitas peduli sungai, seperti di Sungai Cipinang dan Ciliwung. Gerakan aksi bersih sungai juga digelorakan agar masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.

Peran BMKG dalam Pemantauan Iklim
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga berperan penting dalam pemantauan kualitas air. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa perubahan iklim memengaruhi distribusi curah hujan dan suhu udara. “Suhu rata-rata di Indonesia terus meningkat, yang berpotensi memperburuk kondisi air,” katanya.
BMKG juga mengembangkan Sistem Informasi Hidrologi dan Hidroklimatologi untuk Wilayah Sungai (SIH3) sebagai alat pendukung dalam pengelolaan air. “Dengan SIH3, kami bisa memberikan informasi akurat tentang potensi kekeringan dan waktu yang tepat untuk restorasi sungai,” jelasnya.
Harapan Masa Depan
DLH dan KLH berharap upaya pemantauan kualitas air akan terus berkelanjutan. “Kualitas air adalah fondasi dari kehidupan masyarakat. Kami akan terus berupaya memastikan air sungai tetap bersih dan layak,” ujar Budi Santoso.
Pemantauan kualitas air bukan hanya tugas instansi pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh masyarakat. Dengan kesadaran dan kolaborasi, kualitas air di Indonesia dapat terus meningkat, menjaga kesehatan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat.





