PANEN RAYA PADI GAGAL! Sawah Terendam Banjir Kiriman di Kecamatan Tarokan pada 5 Mei 2025!

KediriNews.com – Petani di Kecamatan Tarokan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mengalami kekecewaan setelah panen raya padi mereka gagal akibat sawah terendam banjir kiriman. Peristiwa ini terjadi pada 5 Mei 2025, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan daerah tersebut.

Banjir kiriman yang melanda wilayah ini berasal dari hulu sungai yang tidak terkendali, sehingga air mengalir deras dan menggenangi lahan persawahan. “Sawah kami sudah siap dipanen, tetapi tiba-tiba air masuk dan merusak tanaman,” ujar salah satu petani setempat, Suryo, dalam wawancara dengan media lokal. Ia menyebutkan bahwa sekitar 10 hektar sawah miliknya terkena dampak banjir, yang membuat hasil panen menjadi nihil.

Menurut data sementara dari Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, luas lahan padi yang terdampak banjir mencapai 20 hektar di Kecamatan Tarokan. Dampak ini tidak hanya merugikan para petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan beras di tingkat daerah. “Kami sedang melakukan pendataan lebih lanjut untuk mengetahui kerugian yang pasti,” kata Kepala Dinas Pertanian Nganjuk, Budi Santoso.

Penyebab Banjir Kiriman

Banjir kiriman yang terjadi di Kecamatan Tarokan disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, curah hujan yang tinggi pada bulan April hingga Mei 2025 menyebabkan debit air meningkat secara signifikan. Kedua, alih fungsi lahan di sekitar hulu sungai yang semakin marak, seperti perluasan permukiman dan pembangunan infrastruktur, mengurangi kemampuan daerah resapan air. Ketiga, kondisi saluran irigasi yang tidak optimal menyebabkan air tidak dapat dialirkan secara efisien.

“Kami telah memperingatkan masyarakat tentang risiko banjir kiriman, terutama di kawasan dataran rendah,” jelas Budi Santoso. Ia menambahkan bahwa pihaknya akan segera melakukan pembersihan saluran irigasi dan memperbaiki sistem drainase agar tidak terulang lagi.

Dampak terhadap Petani

Kegagalan panen raya padi ini sangat merugikan para petani, terutama karena mereka telah menghabiskan biaya produksi yang cukup besar. “Dari awal musim tanam hingga saat ini, kami sudah mengeluarkan dana hingga Rp 10 juta per hektar,” ujar Suryo. Ia menyebutkan bahwa penghasilan yang seharusnya didapat dari hasil panen hilang begitu saja akibat banjir.

Selain itu, banyak petani yang kesulitan mendapatkan bantuan dari pemerintah. “Bantuan yang ada terlalu lambat dan tidak sesuai dengan kebutuhan,” tambah Suryo. Hal ini menunjukkan adanya kebijakan yang kurang responsif terhadap bencana yang terjadi di tengah musim tanam.

Upaya Pemulihan dan Pencegahan

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah setempat bersama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi petani telah menggelar rapat koordinasi. Salah satu langkah yang diambil adalah penguatan sistem drainase dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.

“Kami juga akan memberikan bantuan berupa benih dan pupuk kepada petani yang terdampak, agar bisa segera menanam kembali,” ujar Budi Santoso. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi tentang mitigasi bencana dan perlindungan lahan pertanian.

Kesimpulan

Peristiwa gagal panen raya padi akibat banjir kiriman di Kecamatan Tarokan menjadi peringatan bagi seluruh pihak, terutama petani dan pemerintah, untuk lebih waspada terhadap ancaman bencana alam. Diperlukan langkah-langkah preventif dan reaktif yang lebih efektif guna menjaga stabilitas produksi pangan di daerah ini.

Dengan peningkatan intensitas curah hujan dan alih fungsi lahan, keberlanjutan pertanian harus menjadi prioritas utama. Semoga upaya pemulihan yang dilakukan dapat segera memberikan hasil yang nyata, sehingga petani dapat kembali bangkit dan menopang ketahanan pangan nasional.

PadiGagal #BanjirKiriman #KecamatanTarokan #Nganjuk #KetahananPangan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *