KediriNews.com – Pada 5 Juni 2025, sebuah pabrik rokok terbesar di Kecamatan Kota mengalami lumpuh total akibat mogok kerja buruh. Peristiwa ini menimbulkan kekacauan di berbagai sektor, termasuk distribusi produk dan pengiriman ke pasar. Aksi mogok yang dilakukan oleh ribuan buruh ini menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah setempat.
“Kami memutuskan untuk mogok karena tidak ada solusi dari pihak manajemen terkait tuntutan upah minimum yang layak,” ujar salah satu perwakilan buruh kepada KediriNews.com. “Kami hanya ingin diperlakukan adil seperti karyawan lainnya.”
- Penyebab Mogok Kerja Buruh
Mogok kerja yang terjadi pada 5 Juni 2025 bukanlah hal yang spontan. Sebelumnya, buruh pabrik rokok telah melakukan beberapa kali dialog dengan manajemen, tetapi tidak ada hasil yang memuaskan. Tuntutan utama mereka adalah peningkatan upah minimum sesuai dengan kebutuhan hidup layak (KHL) yang diatur dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait UU Cipta Kerja.
Selain itu, buruh juga menyampaikan keluhan tentang kondisi kerja yang kurang nyaman serta perlakuan tidak adil dari pihak perusahaan. “Kami merasa diabaikan selama ini,” tambah salah satu buruh. “Kami hanya ingin diberi kesempatan untuk bekerja dengan layanan yang baik dan upah yang pantas.”
- Dampak Mogok Kerja terhadap Ekonomi Lokal
Akibat mogok kerja, produksi rokok di pabrik tersebut berhenti total. Hal ini berdampak langsung pada pasokan rokok ke pasar lokal dan nasional. Beberapa toko kelontong dan agen rokok mengeluhkan kelangkaan stok. Bahkan, harga rokok di pasar gelap mulai meningkat tajam.
Menurut data sementara, sekitar 2.000 buruh yang bekerja di pabrik tersebut ikut mogok. Dengan jumlah ini, dampak ekonomi bisa mencapai jutaan rupiah per hari. “Ini sangat merugikan kami sebagai pemilik usaha kecil,” kata salah satu pedagang rokok di wilayah tersebut.
- Peran Serikat Buruh dalam Aksi Mogok
Aksi mogok kerja ini didukung penuh oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Presiden KSPI Said Iqbal menyatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk perjuangan buruh untuk mendapatkan hak-haknya yang dijamin konstitusi.
“Kami sudah memberikan pemberitahuan resmi kepada aparat kepolisian dan pemerintah daerah,” jelas Said Iqbal. “Aksi ini dilakukan secara damai dan sesuai hukum.” Ia menegaskan bahwa serikat buruh akan terus memperjuangkan keadilan bagi para pekerja.
- Respons Pemerintah dan Manajemen Pabrik
Pemerintah setempat sedang memantau situasi di lapangan. Mereka berharap bisa segera menemukan solusi agar produksi bisa kembali berjalan. Sementara itu, manajemen pabrik belum memberikan pernyataan resmi terkait aksi mogok ini.
Namun, beberapa sumber mengatakan bahwa pihak manajemen sedang melakukan negosiasi dengan perwakilan buruh. “Kami berharap ada kompromi yang dapat memuaskan kedua belah pihak,” ujar seorang pejabat pemerintah.

- Kemungkinan Pemulihan Produksi
Meski saat ini pabrik rokok lumpuh total, ada harapan bahwa produksi bisa kembali berjalan dalam waktu dekat. Jika tuntutan buruh dapat dipenuhi, maka kemungkinan besar aksi mogok akan segera dihentikan.
“Kami berharap pihak manajemen segera menunjukkan sikap yang baik,” ujar salah satu perwakilan buruh. “Jika tidak, kami siap melanjutkan aksi mogok lebih lama lagi.”
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah juga sedang menyiapkan skema bantuan bagi masyarakat yang terdampak kelangkaan rokok. Namun, sampai saat ini, belum ada kebijakan resmi yang dikeluarkan.
#MOGOKKERJA #PABRIKROKOK #KECAMATANKOTA #BURUHINDONESIA #KEKACAUANEKONOMI





