KediriNews.com – Pada 9 Desember 2025, warga Kecamatan Kota kembali mengangkat isu tentang mitos genderuwo yang terkait dengan pohon beringin di Alun-Alun. Tradisi dan kepercayaan lokal ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat selama ratusan tahun, meskipun kini mulai terkikis oleh modernisasi. Namun, sejumlah tokoh masyarakat dan penggiat budaya masih memperhatikan pentingnya menjaga nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam mitos-mitos tersebut.
- Sejarah dan Makna Pohon Beringin di Alun-Alun
Pohon beringin di alun-alun tidak hanya sekadar elemen taman atau ruang publik, melainkan memiliki makna mendalam dalam sejarah dan kepercayaan masyarakat. Dalam konteks kebudayaan Jawa, pohon beringin sering dikaitkan dengan simbol kekuasaan, perlindungan, dan kebijaksanaan. Di Alun-Alun Kecamatan Kota, dua pohon beringin kembar dikenal sebagai “Supit Urang” yang dianggap memiliki kekuatan magis dan menjadi pusat berbagai ritual serta cerita rakyat.
Salah satu mitos yang paling dikenal adalah tradisi Masangin, di mana seseorang berjalan melewati dua pohon beringin dengan mata tertutup. Mitos ini menyebutkan bahwa siapa pun yang berhasil melewati jalur tersebut tanpa tersandung akan mendapatkan berkah atau keinginan yang terkabul. Meski beberapa orang percaya bahwa ini hanyalah mitos, banyak yang tetap mencoba untuk merasakan pengaruhnya secara langsung.
- Mitos Genderuwo dan Pengaruhnya pada Masyarakat
Genderuwo, makhluk halus yang sering digambarkan sebagai penjaga kawasan tertentu, juga menjadi bagian dari mitos yang berkembang di sekitar pohon beringin Alun-Alun. Menurut cerita lisan, pohon-pohon ini dipercaya dihuni oleh makhluk-makhluk halus yang menjaga keharmonisan lingkungan. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa jika seseorang tidak menjaga sikap baik saat berada di dekat pohon, maka akan dihantui oleh genderuwo.
Banyak warga Kecamatan Kota mengakui bahwa mereka pernah mendengar kisah-kisah mistis terkait pohon beringin ini. Misalnya, ada yang pernah mengaku melihat bayangan aneh atau mendengar suara aneh di sekitar pohon saat malam hari. Meskipun tidak semua orang percaya, mitos ini tetap menjadi bagian dari identitas budaya setempat.
- Peran Pohon Beringin dalam Ritual dan Upacara
Selain mitos, pohon beringin juga sering digunakan dalam berbagai ritual dan upacara adat. Salah satunya adalah ritual “Masangin” yang disebutkan sebelumnya. Ritual ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga cara untuk memohon perlindungan dan keselamatan. Dalam beberapa acara adat, pohon beringin juga dijadikan tempat untuk melakukan doa atau persembahan.
Dari segi sejarah, pohon beringin di Alun-Alun Kecamatan Kota memiliki hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan Jawa. Pohon ini sering kali menjadi pusat perayaan besar, seperti upacara keagamaan atau perayaan hari besar. Dengan demikian, pohon beringin bukan hanya sekadar pohon, tetapi juga simbol kekuasaan dan keberlanjutan budaya.
- Pengaruh Modernisasi terhadap Mitos dan Budaya Lokal
Meski mitos dan tradisi masih hidup di kalangan masyarakat, modernisasi dan perkembangan teknologi mulai menggeser peran pohon beringin dalam kehidupan sehari-hari. Banyak generasi muda yang kurang memahami makna filosofis dan spiritual dari pohon ini. Namun, sejumlah organisasi kebudayaan dan komunitas lokal masih berupaya untuk melestarikan tradisi ini melalui pendidikan dan penyuluhan.
Menurut salah satu tokoh masyarakat, “Pohon beringin adalah bagian dari warisan kita. Jika kita tidak menjaga nilai-nilai ini, maka kita akan kehilangan identitas diri.”
- Harapan untuk Melestarikan Budaya
Pada 9 Desember 2025, warga Kecamatan Kota kembali mengingatkan pentingnya menjaga budaya lokal, termasuk mitos-mitos yang berkaitan dengan pohon beringin. Mereka berharap agar pemerintah dan masyarakat bisa bekerja sama dalam melestarikan tradisi ini. Beberapa langkah yang direncanakan antara lain adalah pembuatan museum budaya, pelatihan bagi generasi muda, dan penguatan peran pohon beringin dalam acara adat.
Dengan begitu, mitos genderuwo dan kepercayaan lokal yang terkait dengan pohon beringin tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas bangsa yang terus berkembang.





