– Kini kasus super flu marak diperbincangkan dan kasusnya sudah masuk wilayah Kalimantan Selatan.
Apa sebenarnya Super Flu tersebut dan bagaimana penanganannya.
Menjaga kebersihan dan kesehatan sebagai upaya mudah untuk tidak tertular super flu.
Namun sebenarnya super flu tak ada isitilahnya dalam dunia medis.
Istilah Superflu atau virus influenza A(H3N2) saat ini sedang ramai di Indonesia.
Dikutip dari Kompas.com, hingga bulan desember 2025, total ada 62 kasus superflu atau influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di beberapa provinsi.
Virus influenza A(H3N2) ini dikenal memiliki tingkat penularan yang tinggi.
Walau disebut dengan ‘super’ banyak ahli menyatakan jika superflu ini bukanlah istilah medis resmi dan bukan juga virus baru.
Berikut beberapa fakta terkait superflu yang perlu diketahui:
1. Superflu bukan virus baru
Superflu merupakan istilah yang digunakan untuk virus influenza A(H3N2) subclade K yang penyebarannya termasuk cepat.
Selain itu super flu juga berkontribusi pada lonjakan kasus flu.
2. Miliki gejala mirip flu biasa
Superflu memiliki gejala seperi demam tinggo, sakit kepala, nyeri tenggorokan, batuk, pilek, badan pegal hingga menggigil.
3. Penularan cepat
Salah satu alasan virus ini dinamakan superflu adalah tingkat penularannya yang tinggi.
Virus ifluenza menyebar dengan cara droplet dari batuk maupun bersin, selain itu kontak dengan permukaan benda yang terkontaminasi virus juga termasuk.
4. Bisa diantisipasi dengan PHBS
Langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah influenza adalah dengan menerapkan PHBS atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Meski varian influenza terus bermutasi, namun PHBS masih jadi kunci utama.
Diantaranya adalah:
- menggunakan masker
- rajin cuci tangan
- menerapkan etika batuk dan bersin
- menghindari kontak dekat dengan orang sakit
- istirahat dan hidrasi cukup
5. Kelompok rentan perlu waspada
Walaupun termasuk virus influenza, superflu tetap menimbulkan komplikasi bagi kelompok rentan.
Seperti lansia, ibu hamil dan balita.
Penderita penyakit kronis seperti kanker, gangguan imunitas dan penyakit jantung juga perlu waspada.
Masuk Kalsel
Kasus di Kalimantan Selatan, otoritas kesehatan memastikan kondisi masih terkendali meski sejumlah kasus influenza ini telah terdeteksi.
Kementerian Kesehatan RI sebelumnya mencatat terdapat 62 kasus infeksi Influenza A (H3N2) subclade K sepanjang Desember 2025.
Virus ini ditemukan di delapan provinsi, dengan jumlah kasus terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Di Kalimantan Selatan sendiri, data menunjukkan terdapat 18 temuan kasus, seluruhnya berasal dari Kota Banjarmasin.
Meski demikian, kondisi para pasien tidak menunjukkan gejala berat.
“Semua kasus yang terdata tidak sampai harus dirawat inap,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, Muhammad Ramadhan.
Dia menambahkan, sebagian besar pasien mengalami gejala ringan dan dapat pulih dengan penanganan medis standar.
Di lain pihak, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Diauddin, juga membenarkan jika di Kalsel tak menampik jika ada flu itu di Kalsel.
Akan tetapi, Dr Diauddin meluruskan istilah “super flu” yang belakangan ramai digunakan.
Menurutnya, sebutan tersebut bukanlah nama resmi virus baru, melainkan istilah populer yang digunakan media untuk menyebut Influenza A (H3N2) subclade K.
“Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan virus ini lebih berbahaya atau lebih mematikan dibandingkan influenza musiman pada umumnya,” jelas Diauddin.
Dia menjelaskan, terdeteksinya virus tersebut justru menunjukkan sistem kewaspadaan kesehatan berjalan.
Temuan berasal dari surveilans rutin penyakit pernapasan yang dilakukan secara berkala untuk memantau peredaran virus di masyarakat.
“Hasil pemantauan sejauh ini menunjukkan mayoritas kasus hanya bergejala ringan hingga sedang,” katanya.
Meski situasi dinyatakan aman dan terkendali, Dinas Kesehatan tetap mengingatkan kelompok rentan untuk lebih waspada, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan penyakit penyerta.
Masyarakat juga diimbau tidak mengendurkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, termasuk memakai masker saat flu atau batuk, rutin mencuci tangan, cukup istirahat, serta menjaga daya tahan tubuh.
“Jika gejala dirasakan semakin berat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan,” imbau Diauddin.
Vaksinasi influenza juga masih dianjurkan, terutama bagi kelompok berisiko, sebagai upaya mengurangi potensi keparahan penyakit.
Pemerintah daerah pun meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti perkembangan resmi dari otoritas kesehatan. (Banjarmasin Post/Nurholis Huda)





