Hari itu aku bertugas di ruang Assasment. Pasien yang sudah terdaftar akan di kahi kondisi fisiknya di ruangan ini. Mulai dari kesadaran, keluhan pasien, hingga tanda-tanda vital. Pun jika pasien tampak dicurigai akan kambuh kegawatdaruratan biasanya bisa di mitigasi segera oleh perawat yang ada di ruang assasment. Seperti misal ada pasien dengan riwayat epilepsi. Lalu mengatakan sejak jam 05 pagi tadi merasa ada aura kejang. Perasaan akan muncul kejang. Maka jika terjadi atau hampir terjadi dengan menunjukkan gejala pasien bisa diantar langsung oleh perawat ke poli tindakan untuk di observasi dahulu diberi oksigen, kemudian di konsulkan dokter rawat jalan. Jika pasien tak memungkinkan untuk ke ruang dokter maka dokter lahbyang datang untuk visit melihat kondisi pasien. Kemudian menentukan tindak lanjut penanganan pasien.
Hari itu aku bertugas di ruang Asassment 2, ada beberapa poli yang khusus sebagian besar pasiennya adalah Lansia. Yaitu poli Neurobehaviour atau neurogeriatri dan poli Movement Disorder. Walau tak semua pasiennya lansia namun sebagian besar diisi dengan kasus pasien lansia.
Untuk poli Neurobehaviour sendiri adalah poli syaraf divisi perilaku. Pasien dengan gangguan syaraf yang mengganggu perilaku biasanya di poli ini. Misal karena demensia, parkinson, dll. Sedangkan poli Movement Disorder juga poli syaraf dengan divisi pergerakan yang tidak bisa dikendalikan.. misal tremor, HFS yakni gangguan neurologis yang menyebabkan otot-otot di salah satu sisi wajah berkedut atau berkontraksi secara tidak sadar dan berulang-ulang.
Tugas hari ini di ruang Asassment memeriksa tekanan darah pasien yang tujuan polinya di dua poli diatas. Satu ruang asassment dibagi-bagi memeriksa beberapa poli yang praktik pada hari itu. Untuk pasien neurobehave dan movdis sendiri lebih spesial karena para pasien lansianyang rentan jatuh jika pasien hari itu berobat tanpa pendampingan keluarga. Pagi itu pasien datang seorang bapak didampingi istrinya. Jalan perlahan. Langkahnya khas pendek-pendek lagi cepat. Bapak kesulitan melangkah secara normal. Langkahnya selalu pendek-pendek. Bukan karena disengaja, melainkan karena Parkinson yang diidapnya. Sakit Parkinson mengganggu neurotransmitter dopamin di otak, yang mengontrol gerakan, menyebabkan bradikinesia (gerakan lambat), otot kaku, dan masalah keseimbangan, sehingga tubuh mengambil langkah-langkah kecil dan cepat (festinasi) untuk menjaga keseimbangan dan menghindari jatuh. Postur tubuh membungkuk ke depan dan kurangnya ayunan lengan memperburuk kondisi ini, membuat gerakan terasa sulit dan terseok-seok.
Beberapa Cirinya Lagi adalah
– Masalah Keseimbangan (Ketidakstabilan Postural): Otak kesulitan menjaga keseimbangan, tubuh condong ke depan, dan mengambil langkah pendek adalah upaya untuk menjaga pusat gravitasi tetap stabil.
– Otot Kaku & Kekakuan: Kekakuan otot membuat gerakan awal sulit, menyebabkan langkah tidak terangkat baik (kaki cenderung menyeret atau menapak rata) gejala ini yang menyebabkan pasien sering kehilangan keseimbangan.
– Festinasi (Gaya Berjalan “Berlari”): Langkah-langkah pendek dan cepat yang terjadi saat tubuh berusaha “mengejar” keseimbangan yang hilang, seringkali membuat penderitanya seolah berlari kecil. Ketika pasien berjalan dengan langkah pendekt terlihat pasien seperti buru-buru. Beberapa menyebut diri mereka seperti kepiting. Karena langkahnya banyak namun bergeser sedikit- sedikit
– Kurang Fleksi Sendi: Gerakan menekuk lutut, pergelangan kaki, dan panggul berkurang, membuat gaya berjalan tidak efisien dan langkah menjadi lebih pendek.
– Postur membungkuk. Kurangnya ayunan lengan saat berjalan. Kesulitan memulai gerakan atau memutar tubuh
– Kaki seperti “menempel” di lantai (freezing of gait) ini pernah terjadi menyebabkan pasien tidak berani jalan karena kedua telapak kaki terasa membeku di lantai hingga pasien takut terjatuh dan tak berani melangkah. (Sumber Parkinson’s Foundation )
Beberapa pasien juga ada yang tampak gelisah, jalan-jalan sendiri sehingga butuh pendampingan keluarga. Ada pula yang kesulitan mengungkapkan kata. Karena pasien bisa bicara namun hal yang terucap adalah kata yang sama berulang-ulang.
Seperti saat aku bertanya dengan pasien yang akan berobat hari itu ia menjawab pertanyaan kami dengan jawaban.. “Badan saya sakit.. terasa berat saat bangun. Sakit. Terasa berat. Berat. Sakit badan. Sakit..” kemudian keluarga yang mendampingi yang menjelaskan ulang terkait keluhan pasien.
Dokter, perawat serta tim pendaftaran harus hati-hati menjelaskan suatu hal dengan pasien di kedua poli ini. Karena sebagian besar adalah lansia. Syukur hika pasien membawa keluarga yang lebih muda sehingga bisa menangkap pesan atau penjelasan dari dokter maupun perawat.
Sayangnya ada saja pasien yang sangat mandiri, padahal sudah lansia sekali bulak-balik kontrol ke rawat jalan sendirian. Sehingga menjadi salah satu kendala dalam menjelaskan suatu hal. Masalah lansia pada umumnya misal pendengaran sudah menurun, ingatan yang tak lagi kuat. Untuk menindaklanjutinya perawat tentu memakai cara Sabar, lalu melakukan edukasi penjelasan dengan cara di catat di lertas kontrol sehingga pasien bisa baca langsung jika tidak ingat. atau bisa minta bantuan oranglain untuk membacanya.
Ketika menghadapi pasien dengan kebutuhan khusus seperti ini tentulah kami sebagai perawat yang menyesuaikan. Nada bicara dna cara penyampaian ke pasien berbeda dari biasanya.
Point yang diambil dalam artikel ini adalah penyakit yang menyerang persyarafan itu banyak macamnya. Mungkin sebagian tak terkesan mematikan namun sangat mengganggu. Gerakan involunter yang datang tanpa bisa dikendalikan, spasmofilia yang menarik otot, ada juga yang membuat leher kaki, tremor yang mengganggu aktifitas, kedutan akibat Trigeminal Neuralgia sangat mengganggu aktivitas. Sehingga bentuk penanganannya ada yang dengan obat. Bahkan ada dengan cara operasi. Tergantung analisa dokter dan cara penanganannya. Tentu semua perencanaan, tindakan dilakukan oleh dokter Bedah Syaraf.
Tiap pasien memiliki kekhususan masing-masing. Sebagai perawat yang melayani adalah memfasilitasi pasien sebaik-baiknya. Bagaimana pasien mendaftar sesuai jam. Dan sesuai urutan, bertemu dengan dokter tanpa merasa terburu-buru, serta mendapatkan arahan yang tuntas terkait tata laksana dan kontrol selanjutnya. Segala aktivitas pasien akibat gangguan syaraf memang beragam, namun bagaimana caranya perawat untuk memaklumi adanya pergerakan yang memang tak bisa dikendalikan oleh pasien tersebut. Sehingga pasien merasa aman dan nyaman saat kontrol ke poli rawat jalan suatu rumah sakit. Karena yang dicari pasien adalah solusi dari sakitnya, kelegaan dalam mengungkapkan keluhan, dan terapi yang sesuai untuk meredakan keluhannya
Dear Kompasianer, apakah pernah melihat pasien dengan berbagai keluhan diatas? Jika mungkin ada keluarga yang memiliki keluhan sama seperti diatas mungkin bisa disarankan ke dokter spesialis syaraf untuk ditindaklanjuti.





