Larung Sesaji Kelud di Ngancar: Tradisi Ngalap Berkah Pada 3 Desember 2025

KEDIRINews.com – Di tengah kabut tipis yang menyelimuti lereng Gunung Kelud, sebuah tradisi kuno kembali dihidupkan dengan penuh khidmat. Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, pada Minggu (6/7/2025), menjadi pusat gelaran Ritual Larung Sesaji, sebuah prosesi sakral yang melarung berbagai hasil bumi ke kawah gunung. “Prosesi ini diadakan dengan melarung berbagai hasil bumi ke kawah Gunung Kelud, di Kabupaten Kediri. Agenda ini juga sekaligus bentuk ungkapan rasa syukur atas berkah hasil bumi yang melimpah,” ujar Plt. Camat Ngancar, Moh. Muthoin.

Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi mendalam rasa syukur atas melimpahnya berkah alam, sekaligus harapan bagi bangkitnya sektor pariwisata pasca-pandemi. Bagi masyarakat setempat, tradisi ini telah turun-temurun, menjadi jembatan spiritual yang mengikat mereka dengan alam dan Sang Pencipta.

Sejarah dan Makna Tradisi Larung Sesaji

Larung Sesaji adalah ritual yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Gunung Kelud untuk menyampaikan doa dan rasa syukur kepada Tuhan. Prosesi ini biasanya dilakukan setiap tahun, terutama menjelang musim tanam atau saat memasuki masa panen. Sesaji yang dilarung berupa berbagai hasil pertanian seperti padi, jagung, kacang, serta makanan khas daerah seperti lontong, opak, dan ketan.

“Semua gunungan hasil bumi ini bentuk syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah hasil bumi yang melimpah, baik di sektor pertanian, dan kehidupan yang memang telah diberikan selama setahun ini,” tambah Muthoin.

Simbol Pengorbanan dan Keberkahan

Ritual Larung Sesaji di Kelud selalu identik dengan gunungan hasil pertanian dan makanan khas daerah. Bentuk gunungan yang menjulang tinggi, penuh dengan aneka tanaman pangan, adalah representasi dari kemakmuran bumi. Seluruh persembahan ini kemudian dilarung ke kawah, bukan sekadar simbol pengorbanan, tetapi juga wujud rasa terima kasih atas rezeki setahun penuh, baik dari sektor pertanian maupun aspek kehidupan lainnya.

Tahun ini, antusiasme terlihat jelas dengan partisipasi 10 desa di Kecamatan Ngancar. Tak hanya perangkat desa, ritual ini melibatkan berbagai elemen masyarakat: pengusaha lokal, kelompok tani, tokoh masyarakat, hingga unsur Muspika, menunjukkan persatuan dalam melestarikan warisan budaya.

Perayaan Ngalap Berkah

Pada 3 Desember 2025, masyarakat Ngancar akan kembali merayakan tradisi ini. Tanggal tersebut dipilih karena memiliki makna penting dalam kalender budaya setempat. Dalam ritual ini, masyarakat tidak hanya melarung sesaji, tetapi juga melakukan doa bersama dan upacara adat yang dilaksanakan di dekat kawah Gunung Kelud.

Banyak warga berharap bahwa ritual ini dapat membawa berkah bagi keluarga dan lingkungan sekitar. “Dengan melarung sesaji, kita berdoa agar Tuhan memberikan keselamatan, kesejahteraan, dan kelimpahan rezeki,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.

Persiapan dan Partisipasi Masyarakat

Anak-anak sedang menari dalam acara tradisional

Persiapan untuk ritual ini dimulai beberapa bulan sebelumnya. Setiap desa mempersiapkan sesaji yang akan dilarung, termasuk memilih bahan-bahan yang berkualitas dan sesuai dengan tradisi. Para petani juga berpartisipasi aktif dengan menyumbangkan hasil panen mereka sebagai bagian dari sesaji.

Selain itu, banyak komunitas lokal ikut berperan dalam acara ini. Mulai dari pengurus RT, pengusaha, hingga para pemuda yang siap membantu dalam proses pelarungan. Semua elemen masyarakat saling bekerja sama untuk menjaga kelestarian tradisi ini.

Harapan Masa Depan

Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya lokal, masyarakat Ngancar berharap bahwa ritual ini bisa terus dilestarikan dan bahkan dikembangkan sebagai daya tarik wisata. “Kami berharap, dengan adanya ritual ini, jumlah wisatawan yang datang ke sini bisa bertambah,” ujar salah satu pemuda setempat.

Kesimpulan

Larung Sesaji Kelud di Kecamatan Ngancar merupakan tradisi yang sangat berharga bagi masyarakat setempat. Selain menjadi bentuk rasa syukur, ritual ini juga menjadi sarana untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dengan adanya perayaan pada 3 Desember 2025, diharapkan tradisi ini dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari identitas budaya yang kuat.

LarungSesaji #GunungKelud #Ngancar #TradisiNgalapBerkah #BudayaJawa

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *