KediriNews.com – Di tengah semangat masyarakat lereng Gunung Wilis untuk mengembangkan potensi pertanian, kopi menjadi salah satu komoditas yang memegang peranan penting. Salah satu daerah yang menonjol dalam penghasilan kopi berkualitas adalah Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Pada 15 Desember 2025, warga dan penggemar kopi akan merayakan keunikan Kopi Lereng Wilis dengan berbagai aktivitas yang menggabungkan budaya, alam, dan seni.
Sejarah kopi di lereng Gunung Wilis tidak hanya terkait dengan hasil panen, tetapi juga dengan cara pengolahan yang unik dan tradisi lokal yang kental. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak petani dan pengrajin kopi di wilayah ini berupaya meningkatkan kualitas produk mereka agar bisa bersaing di pasar nasional maupun internasional. Salah satu contohnya adalah Kopi Arabika Jugo, yang dikenal memiliki cita rasa istimewa dan telah mendapat dukungan dari akademisi seperti Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri.
“Kopi Gunung Wilis memiliki ciri khas istimewa. Namun produksi yang melimpah harus diimbangi dengan kualitas agar diterima pasar, baik lokal maupun nasional,” ujar Dr. Arisyahidin, Wakil Direktur Pascasarjana Uniska Kediri, dalam sebuah acara pendampingan petani kopi di Desa Jugo.
Peran Petani dan Pengrajin
Petani kopi di lereng Gunung Wilis, termasuk di Kecamatan Mojo, memiliki peran penting dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi. Mereka tidak hanya bertani, tetapi juga melakukan proses pascapanen yang tepat agar biji kopi tetap berkualitas. Proses ini mencakup pemilihan biji yang matang, pengeringan yang optimal, hingga pengolahan yang sesuai standar.
Salah satu contoh inovasi yang dilakukan oleh para petani adalah penggunaan teknologi modern dalam pengemasan dan pemasaran. Misalnya, Sriani, seorang pengrajin kopi dari Desa Randualas, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, membuat produk kopi bubuk bernama “Kopi Robusta Bubuk Kreweng”. Produk ini diolah sendiri dan dipasarkan melalui media sosial serta toko-toko lokal.
“Saya sendiri saat ini masih proses penanaman kopi untuk memenuhi stok ke depannya,” kata Sriani. “Warung-warung, dijual sendiri di toko dan dititipkan di Bumdes atau lewat Shopee serta status media sosial.”
Pengembangan Kopi sebagai Produk Premium
Selain kopi robusta, Kopi Sedayu di Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, juga menjadi contoh lain dari upaya pengembangan kopi sebagai produk premium. Kopi ini ditanam bersanding dengan pohon aren, sehingga memiliki rasa yang khas dan unik. Suliono, petani sekaligus penyuluh swadaya di Desa Talun, menjelaskan bahwa sistem budidaya ini menghasilkan kopi berkualitas unggul.
“Agar menjadi single origin yang termasuk kopi jenis premium,” ujarnya. “Robusta dari Sedayu cenderung memiliki cita rasa manis. Sedangkan arabikanya tidak terlalu asam atau terlalu pahit dengan nuansa leci atau gula aren.”
Acara Ngopi di Atas Awan pada 15 Desember 2025
Pada 15 Desember 2025, masyarakat dan wisatawan akan diundang untuk merasakan keistimewaan Kopi Lereng Wilis di atas awan Kecamatan Mojo. Acara ini dirancang sebagai bentuk apresiasi terhadap kopi yang tidak hanya nikmat, tetapi juga memiliki nilai budaya dan ekonomi yang tinggi.
Beberapa agenda yang akan dilaksanakan antara lain:
- Pameran Kopi Lokal – Para pengrajin dan petani kopi akan memamerkan produk mereka, mulai dari biji kopi mentah hingga kopi siap saji.
- Workshop Pengolahan Kopi – Peserta akan diajarkan cara mengolah kopi secara tradisional maupun modern.
- Ngopi Sambil Menyaksikan Pemandangan Alam – Di lokasi acara, peserta dapat menikmati kopi sambil menikmati pemandangan lereng Gunung Wilis yang indah.
Harapan Masa Depan
Dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat, Kopi Lereng Wilis diharapkan dapat naik kelas dan menjadi produk premium yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Asisten II Pemkab Kediri, Dr. Sonny Subroto Maheri Laksono, menyatakan bahwa sinergi ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ekonomi desa.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan petani. Harus ada sinergi pemerintah, masyarakat, akademisi, dan dunia usaha. Dengan begitu, petani tidak sekadar produsen bahan mentah, tetapi bisa menjadi pelaku utama dalam rantai nilai kopi premium,” tegasnya.

Hashtag Terkait





