Kisah Pilu Nenek Sebatang Kara yang Tinggal di Gubuk Reyot Kecamatan Kandat, Viral pada 1 Desember 2025

KediriNews.com – Di tengah gencarnya pemerintah menyalurkan bantuan sosial untuk menekan angka kemiskinan dan membantu para lansia, sebuah kisah memilukan justru muncul dari Desa Kara, Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang. Di desa kecil itu, ada warga yang hidup dalam kesunyian, kemiskinan, dan ketidakpastian—tanpa pernah merasakan sepeser pun bantuan dari negara.

Hidup Sepi di Ujung Usia

Di Dusun Kara Timur, Nenek Liani (71) menyambut wartawan dengan langkah pelan. Rumahnya sederhana, sepi, dan nyaris tanpa aktivitas. Ia tinggal sendirian tanpa keluarga yang mendampingi di usia senjanya.

Dengan suara lirih, ia menuturkan kesehariannya. “Saya hidup sendirian, Mas. Kadang bekerja pada orang untuk beli beras dan ikan. Walaupun ada bantuan pemerintah, saya tidak pernah menerima,” ujarnya, sambil menahan getaran di suaranya.

Untuk sekadar bisa makan, ia harus menumpang tenaga pada warga sekitar. Menguli, memindah barang, atau pekerjaan apa pun yang bisa dilakukan oleh tubuh renta yang sudah tak sekuat dulu.

Harapan tetap ia simpan di ujung doa. “Mudah-mudahan Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Bupati H. Idi mendengar tangisan rakyat kecil yang lapar,” ucapnya.

Pasutri yang Berjuang Tanpa Kaki dan Tanpa Bantuan

Tak jauh dari rumah Liani, kisah lain tak kalah mengiris. Kideh (61) dan suaminya, Matsirat, hidup dalam kondisi memprihatinkan. Matsirat mengalami amputasi ekstremitas bawah (kehilangan kakinya) sehingga tidak mampu bekerja. Kideh merawatnya sambil berjuang menutupi kebutuhan hidup sehari-hari yang terus mengejar.

“Kadang untuk kebutuhan sehari-hari, saya harus pinjam ke orang lain,” kata Kideh dengan mata berkaca-kaca.

Yang membuatnya semakin bingung, ia mengaku sering diminta fotokopi KTP, KK, hingga foto rumah oleh orang-orang yang mengatasnamakan petugas Bansos. Tapi dari semua proses itu, tak ada bantuan yang pernah benar-benar datang.

“Apa tidak keliru, orang kaya dapat Bansos, sedangkan yang miskin seperti saya tidak pernah tersentuh?” keluhnya.

pasangan tua tanpa kaki tinggal di gubuk reyot kecamatan kandat

Bukan Kasus Pertama

Sebelumnya, kasus serupa mencuat ke publik ketika kisah Ibu Naimah menjadi perhatian nasional. Saat itu, Dinas Sosial dan Baznas Kabupaten Sampang turun langsung melakukan penanganan. Namun fakta di Desa Kara menunjukkan bahwa masih banyak warga rentan yang luput dari pendataan.

Harapan Terakhir: Pendataan Ulang

Warga Desa Kara berharap pemerintah turun langsung melihat kondisi mereka. Mereka meminta pendataan ulang agar program Bansos benar-benar tepat sasaran dan menyentuh mereka yang berada di titik paling bawah dalam kehidupan.

Di balik kesunyian rumah tua dan langkah pincang para lansia, ada harapan yang belum sepenuhnya padam: harapan bahwa negara hadir bukan hanya lewat janji, tetapi lewat tangan nyata yang mengulurkan bantuan.

[IMAGE: nenek sebatang kara tinggal di gubuk reyot kecamatan kandat]

Kesimpulan

Kisah pilu Nenek Liani dan pasangan Kideh serta Matsirat menjadi cerminan betapa pentingnya sistem pendataan yang akurat dan transparan dalam distribusi bantuan sosial. Tanpa adanya perbaikan, ribuan warga seperti mereka akan terus terlupakan. Harapan besar terletak pada kebijakan yang lebih manusiawi dan komitmen pemerintah untuk memberi perlindungan kepada seluruh rakyat, terutama yang paling rentan.

NenekSebatangKara #GubukReyot #Kandat #Viral2025 #BantuanSosial

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *