KediriNews.com – Kejadian yang mengejutkan terjadi di Lapangan Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, pada hari Sabtu, 10 Juli 2025. Sejumlah besar penonton tiba-tiba mengalami kesurupan massal setelah menyaksikan pertunjukan seni yang dipersembahkan oleh para pemain jaranan. Fenomena ini memicu kepanikan dan membuat beberapa penonton memakan beling yang berserakan di sekitar lokasi acara.
“Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba semua orang mulai berlarian dan berteriak. Ada yang mengatakan mereka merasa seperti dihantui,” ujar Siti Aminah, salah satu warga yang ikut hadir dalam acara tersebut, dikutip dari RadarTimur.Net.
Menurut saksi mata, kejadian ini dimulai ketika para pemain jaranan sedang tampil dengan pakaian tradisional dan musik pengiring yang khas. Namun, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari sebagian penonton, disusul dengan perbuatan aneh seperti menari liar dan mengamuk. Beberapa dari mereka bahkan memakan beling yang ada di lantai lapangan.
- Latar Belakang Acara dan Peristiwa Kesurupan Massal
Acara yang digelar di Lapangan Kecamatan Plosoklaten merupakan bagian dari Festival Seni Budaya yang rutin diadakan setiap tahun. Tahun ini, acara tersebut lebih ramai dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan jumlah peserta dan penonton yang mencapai ribuan orang.
Dalam festival tersebut, selain pertunjukan jaranan, juga disajikan berbagai tarian tradisional dan pertunjukan drum band dari pelajar setempat. Salah satu yang menarik perhatian adalah defile busana adat yang diikuti oleh Kepala Desa Plosolor, Pujiyono, bersama jajaran Pemerintah Desa.
Namun, saat pertunjukan jaranan berlangsung, suasana tiba-tiba berubah menjadi kacau. Banyak penonton yang tiba-tiba mengalami kejang dan mengamuk. Menurut informasi yang dihimpun, beberapa dari mereka bahkan memakan beling yang tersisa di lantai lapangan.
- Reaksi Masyarakat dan Upaya Penanganan
Ketika kejadian tersebut terjadi, petugas keamanan dan tim medis segera bertindak. Mereka berusaha mengamankan para penonton yang terkena dampak kesurupan massal. Beberapa dari mereka dibawa ke pos kesehatan sementara yang lain diberi pertolongan pertama.
“Kami langsung menghubungi dokter dan polisi setempat. Kami khawatir situasi bisa semakin memburuk jika tidak segera ditangani,” kata Sugeng, salah satu petugas keamanan setempat.
Di tengah kekacauan, masyarakat mulai bergejolak. Banyak yang mengira bahwa acara tersebut dihantui atau ada gangguan dari makhluk halus. Namun, beberapa ahli psikolog dan budayawan memberikan penjelasan alternatif.
- Penjelasan Ahli dan Konteks Budaya
Menurut Dr. Rina Wijayanti, psikolog dari Universitas Negeri Malang, fenomena kesurupan massal sering kali dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial. “Banyak orang yang mengalami kesurupan karena tekanan emosional atau trauma yang belum terselesaikan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kesurupan bisa terjadi akibat pengaruh lingkungan, terutama jika ada ritual atau simbol-simbol tertentu yang dipercaya oleh masyarakat setempat. “Jadi, penting untuk memahami konteks budaya agar tidak terjadi kesalahpahaman.”
Dalam konteks budaya Jawa, kesurupan sering kali dikaitkan dengan kepercayaan akan kekuatan gaib. Namun, banyak ahli yang menyarankan agar masyarakat tidak terlalu mudah percaya pada mitos tanpa dasar ilmiah.
- Langkah Pencegahan dan Edukasi Masyarakat
Setelah kejadian tersebut, pihak desa dan dinas terkait berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan menghindari mitos yang tidak berdasar.
“Kita harus lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang tidak jelas sumbernya,” ujar Pujiyono, Kepala Desa Plosolor.
Selain itu, pihak desa juga akan menggelar seminar edukasi tentang kesurupan dan cara menghadapinya secara rasional. Tujuannya adalah agar masyarakat tidak lagi takut dan panik ketika menghadapi fenomena semacam ini.
- Pandangan dari Berbagai Kalangan
Berbagai kalangan mulai memberikan komentar terkait kejadian ini. Banyak yang menilai bahwa kejadian ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam menghadapi tradisi dan ritual yang sering kali dianggap sebagai bentuk kesurupan.
“Kita perlu menggabungkan antara kepercayaan dan ilmu pengetahuan,” kata Ustadz Hadi, tokoh agama setempat. “Jangan sampai kita terjebak dalam ketakutan yang tidak perlu.”
Di sisi lain, beberapa warga mengkhawatirkan bahwa kejadian ini bisa memengaruhi citra festival seni budaya yang biasanya dianggap sebagai momen kebanggaan masyarakat.


#KesurupanMassal #Jaranan #Plosoklaten #Kediri #FestivalBudaya





