Di tengah kota Kediri, Jawa Timur, terdapat sebuah patung raksasa yang telah menjadi misteri selama puluhan tahun. Dikenal dengan nama Arca Totok Kerot, patung ini tidak hanya menarik perhatian warga setempat tetapi juga para peneliti dan penggemar sejarah. Meski memiliki bentuk yang menyeramkan, arca ini justru dikenal dengan mitos bahwa ia “menangis” secara alami. Baru-baru ini, misteri tersebut akhirnya terpecahkan melalui penelitian ilmiah.
Arca Totok Kerot merupakan peninggalan sejarah dari masa Kerajaan Kediri. Dengan tinggi sekitar tiga meter, patung ini berbentuk Dwarapala, yaitu patung penjaga gerbang. Pada awalnya, arca ini ditemukan dalam keadaan terkubur setengah badan di tengah sawah. Pada tahun 1981, penduduk setempat melaporkan adanya benda besar dalam gundukan tanah. Penggalian yang dilakukan pada saat itu hanya berhasil mengungkap bagian atas arca. Sejak saat itu, arca ini dibiarkan terbenam di dalam tanah hingga saat ini.

Secara visual, Arca Totok Kerot memiliki ciri-ciri khas Dwarapala. Tubuhnya gemuk, posisi jongkok, rambut gimbal panjang, serta mata yang melotot dan gigi yang terlihat. Arca ini juga dilengkapi dengan ornamen seperti ikat kepala, kalung, anting, dan gelang tangan yang berbentuk tengkorak. Sayangnya, kondisi arca saat ini tidak utuh. Lengan kirinya hilang akibat patahan, sehingga tidak diketahui pasti senjata apa yang dibawanya.
Mitos tentang Arca Totok Kerot berawal dari legenda lokal. Dikisahkan bahwa Totok Kerot adalah penjelmaan puteri cantik dari seorang demang di Lodaya (Lodoyo) Blitar. Ia ingin dipersunting oleh Sri Aji Jayabaya, namun lamarannya ditolak. Akibatnya, sang puteri memicu peperangan dengan pasukan Kerajaan Kediri. Setelah kalah, ia meminta untuk bertemu langsung dengan Prabu Jayabaya. Ketika diminta untuk menunjukkan kemampuan, Prabu Jayabaya menyebutnya sebagai buto (raksasa), dan akhirnya ia berubah menjadi arca raksasa.
Namun, misteri terbesar dari Arca Totok Kerot adalah “air mata” yang disebut-sebut mengalir dari matanya. Mitos ini membuat banyak orang percaya bahwa patung ini memiliki kekuatan magis. Namun, melalui penelitian ilmiah terbaru, misteri ini akhirnya terjawab.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh tim ahli geologi dan arkeolog dari Universitas Negeri Malang, air mata yang terlihat pada Arca Totok Kerot bukanlah fenomena supernatural, melainkan hasil dari proses alami. Peneliti menemukan bahwa permukaan batu andesit yang digunakan untuk membuat arca ini sangat rentan terhadap erosi. Selain itu, kondisi lingkungan sekitar arca, termasuk curah hujan yang tinggi dan suhu yang relatif lembap, mempercepat proses korosi dan pelapukan batu.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan juga menemukan bahwa ada celah kecil di bagian mata arca yang memungkinkan air hujan masuk dan mengalir keluar, menciptakan ilusi “air mata”. Selain itu, debu dan partikel lain yang menempel di permukaan batu juga memperkuat kesan bahwa arca tersebut “menangis”.
Eko Priatno, Kepala Bidang Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, menjelaskan bahwa meskipun misteri “air mata” telah terpecahkan, Arca Totok Kerot tetap menjadi objek penting dalam studi sejarah dan budaya. “Ini adalah warisan purbakala yang harus kita jaga dan pelihara,” ujarnya.
Selain itu, Eko juga menambahkan bahwa arca ini sudah masuk dalam daftar cagar budaya kabupaten. “Kita perlu melindungi arca ini agar tidak rusak lebih lanjut,” katanya.
Meskipun mitosnya telah terjawab, Arca Totok Kerot tetap menjadi daya tarik bagi wisatawan dan pecinta sejarah. Bagi mereka yang tertarik mengunjungi lokasi ini, bisa datang ke Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Di sana, mereka bisa melihat langsung keindahan dan keunikan patung raksasa yang telah menjadi bagian dari sejarah daerah ini.
Dengan penjelasan ilmiah ini, masyarakat kini lebih memahami bahwa keajaiban yang terjadi di sekitar Arca Totok Kerot adalah hasil dari alam dan proses alami, bukan kekuatan magis. Namun, mitos dan legenda yang melekat di sekitar patung ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan sejarah Kediri.





