KediriNews.com – Mbak Wali Kediri Hadiri Perayaan Natal di Gereja Merah 16 Desember 2025

Pada hari Rabu, 16 Desember 2025, perayaan Natal yang khas dan penuh makna berlangsung di Gereja Merah atau GPIB Immanuel Kediri. Acara ini tidak hanya menjadi momen keagamaan bagi umat Nasrani, tetapi juga menjadi perhatian khusus dari sejumlah tokoh masyarakat, termasuk Mbak Wali Kediri yang hadir secara langsung untuk menyaksikan prosesi ibadah dan memperkuat hubungan antar komunitas.

Perayaan Natal tahun ini berlangsung dengan khidmat, mengingat gereja ini merupakan salah satu cagar budaya penting Kota Kediri. Gereja yang dibangun pada 21 Desember 1904 ini memiliki sejarah panjang dan menjadi simbol keberagaman budaya serta agama di wilayah Jawa Timur. Dalam acara tersebut, Mbak Wali Kediri turut serta dalam prosesi ibadah, memberikan dukungan kepada jemaat, dan menunjukkan komitmen terhadap harmoni antarumat beragama.

Mbak Wali Kediri Hadiri Ibadah Natal di Gereja Merah

Mbak Wali Kediri tiba di Gereja Merah sekitar pukul 08.00 pagi, tepat sebelum sesi ibadah dimulai. Ia diterima oleh para pendeta dan pengurus gereja dengan penuh hormat. Selain berdoa bersama, ia juga menyempatkan diri untuk melihat kondisi Alkitab kuno yang tersimpan di dalam kotak kaca. Alkitab berusia 158 tahun ini dicetak pada tahun 1867 menggunakan bahasa Belanda lama dan menjadi salah satu aset bersejarah yang sangat dijaga oleh gereja.

“Alkitab ini adalah bukti sejarah yang sangat berharga. Kami berharap bisa melestarikannya agar generasi mendatang dapat belajar dari masa lalu,” ujar Mbak Wali Kediri saat berbincang dengan Pendeta Septi B. Lilung Sir.

Proses Restorasi dan Digitalisasi Naskah Kuno

Dalam kunjungan tersebut, Mbak Wali Kediri juga mendengarkan penjelasan dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Kediri, Chevy Ning Suyudi, tentang upaya pelestarian Alkitab kuno. Menurutnya, naskah tersebut sudah mulai mengalami kerusakan karena usia yang sangat tua. Oleh karena itu, Pemkot Kediri telah merencanakan proses restorasi dan digitalisasi untuk menjaga keutuhan naskah sekaligus memudahkan akses bagi masyarakat.

“Setelah direstorasi, Alkitab ini akan didigitalisasi agar bisa diakses melalui pemindaian barcode. Ini adalah langkah penting untuk melestarikan warisan budaya tanpa mengorbankan keaslian naskah,” kata Chevy.

Perayaan Natal yang Penuh Makna

Ibadah Natal di Gereja Merah tahun ini dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pertama pukul 06.00 pagi dan sesi kedua pukul 09.00 pagi. Di setiap sesi, ratusan jemaat hadir untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus. Momen-momen seperti perjamuan Paskah, Natal, dan peringatan ulang tahun gedung gereja menjadi kesempatan istimewa untuk membuka Alkitab kuno dan melibatkan seluruh jemaat dalam prosesi ibadah.

Di akhir ibadah, para jemaat bersama pendeta dan pengurus gereja melakukan tradisi bersalaman. Suasana penuh kehangatan dan kegembiraan terlihat saat umat saling menyapa dan berbagi kebahagiaan.

Sejarah dan Keunikan Gereja Merah

Gereja Merah, yang awalnya berwarna putih, diganti warna merah pada tahun 1969 dan dipertahankan hingga sekarang. Bangunan ini dibangun oleh pendeta asal Belanda, JA Broers, pada tanggal 21 Desember 1904. Sejarawan Kota Kediri, Imam Mubarok, menjelaskan bahwa perubahan warna tidak menghilangkan nilai sejarah dan estetika bangunan.

Selain Alkitab kuno, Gereja Merah juga menyimpan beberapa benda-benda bersejarah lainnya, seperti lonceng yang sempat dipinjam oleh GPIB Malang. Meski begitu, bangunan ini tetap menjadi tempat ibadah yang ramah bagi masyarakat luas, baik jemaat maupun pengunjung yang ingin menikmati wisata sejarah religi.

Alkitab kuno yang tersimpan di dalam kotak kaca di Gereja Merah

Proses restorasi Alkitab kuno di Gereja Merah Kediri

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *