KediriNews.com – Inovasi Pertanian Organik di Puncu Kediri Jadi Percontohan Nasional pada 16 Desember 2025

0
antarafoto-mengairi-sawah-saat-kemarau-250917-app-1.jpg

Inovasi pertanian organik di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kini menjadi percontohan nasional. Puncak keberhasilan inovasi ini diprediksi akan terjadi pada 16 Desember 2025, menjadikan Kediri sebagai pusat pengembangan pertanian berkelanjutan yang bisa ditiru oleh daerah lain di Indonesia.

Program DITO (Desa Inovasi Tani Organik) yang digagas Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana sejak awal kepemimpinannya telah membuktikan bahwa pertanian organik tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas hasil panen. Dalam beberapa tahun terakhir, rata-rata produksi gabah kering giling di Kediri terus mengalami peningkatan, dari 6,19 ton/hektar pada 2022 menjadi 6,24 ton/hektar pada 2024.

Petani Kediri sedang menanam padi secara organik

Bupati Kediri, Mas Dhito, menyampaikan bahwa program DITO dirancang untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Melalui pertanian organik, selain menekan biaya produksi, sekaligus dapat meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas hasil panen.

“Program DITO yang diusung sejak awal kepemimpinan saya itu ditujukan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia,” ujar Mas Dhito dalam sebuah wawancara.

Menurutnya, kelebihan penggunaan pupuk organik membuat bulir padi lebih berisi dan berkualitas. Selain itu, penggunaan pupuk organik cair yang dikembangkan Kementerian Pertanian RI secara khusus untuk Kabupaten Kediri terbukti mampu meningkatkan kualitas tanah, mengurangi penggunaan pestisida kimia, dan menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Lahan pertanian organik di Kediri yang luas dan hijau

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri, Anang Widodo, menjelaskan bahwa untuk pertanian padi, bantuan benih disalurkan untuk cakupan lahan 6.000 hektar pada tahun 2024. Para petani mulai melakukan panen padi pada akhir Bulan Maret dan mengalami puncak panen di Bulan April.

Namun, Anang juga mengingatkan bahwa saat ini ada tantangan yang harus diwaspadai, yaitu cuaca hujan yang masih tinggi dan pengaruh angin yang bisa membuat padi rawan roboh.

Terkait program DITO yang dipopulerkan sejak tahun 2021, disebutkan bahwa program ini dikenalkan kepada petani dengan cara pembuatan demplot atau lahan percontohan. Dengan adanya demplot, para petani dapat melihat langsung bagaimana proses pertanian organik dilakukan, sehingga semakin banyak petani yang tertarik untuk mengadopsi metode ini.

Pengembangan pertanian organik di Kediri tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi petani, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Dengan mengurangi penggunaan bahan kimia, tanah tetap subur dan air tidak tercemar, yang berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat.

Dengan inovasi pertanian organik yang sukses di Kediri, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung sektor pertanian melalui berbagai bentuk bantuan, seperti penyediaan peralatan pertanian dan bantuan benih. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa petani dapat mengembangkan pertanian organik secara mandiri dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *